Jam istirahat kali ini digunakan Ella dan yang lainnya untuk makan di kantin.
"Evan jadi datang ke sini, gak?" tanya Ella kepada Abel yang sedang menyantap nasi goreng miliknya.
Abel memberhentikan kegiatannya itu untuk menjawab pertanyaan Ella. "Rencananya lusa gue sama dia bakal ketemuan di mall yang dekat sini."
"Seriusan, Bel?" tanya Aneska.
Abel mengangguk. "Tapi, gue takut kalau nanti Bang Jovan bakalan ngelarang gue buat ketemu sama dia."
Ella berpikir sejenak, dia berniat untuk membantu Ella dengan cara membujuk Jovan, tetapi sebenarnya dia sendiri masih belum yakin.
"El, lo kan lagi dekat sama Bang Jovan, kenapa lo gak bujuk dia aja?" tanya Aneska.
Ella sedikit kaget dengan pertanyaan Aneska karena baru kali ini Aneska menyangkutpautkan dirinya dengan Jovan. "Gue mau sih."
"Serius lo mau, El?" tanya Abel.
Ella mengangguk. "Semoga aja Bang Jovan mau."
"Berarti lo harus ngomong sekarang atau gak besok," ucap Grisel.
Ella kembali mengangguk. Ella berharap Jovan mau memberikan izin kepada Abel untuk pergi dengan Evan.
"Nanti gue suruh Bang Jovan buat anter lo pulang ya? Biar gampang," ucap Abel.
***
Benar saja, saat pulang sekolah, Jovan menghampiri Ella yang sedang sendiri di kelas. Abel yang menyuruh Ella untuk menunggu sendiri di kelas.
"Abang disuruh Abel ya?" tanya Ella.
"Tanpa disuruh gue juga memang mau nganter lo pulang," jawab Jovan.
Ella terdiam sejenak, ucapan Jovan sangat membuat dirinya merasa kalau dia spesial bagi Jovan.
Gak, El, lo jangan terlalu geer kayak gini, nanti lo bisa malu, dasar bodoh, batin Ella berbicara.
"Ya udah, ayo pulang," ajak Jovan.
Ella mengangguk lalu mengambil tasnya. Jovan berjalan duluan kemudian diikuti oleh Ella. Ella sedikit takut, dia tidak tahu harus berbicara bagaimana kepada Jovan agar mendapatkan izin. Sebenarnya Ella bukan takut untuk meminta izin, tetapi Ella lebih takut untuk mendengar jawaban dari Jovan nantinya. Kalau sampai Jovan melarang, Ella pastilah merasa bersalah kepada teman-temannya.
Saat sudah sampai di dalam mobil, Ella masih diam. Dia tidak tahu harus bagaimana, yang jelas dia masih takut.
"Lo kenapa, El? Kok daritadi lo diam aja?" tanya Jovan sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Gini, Bang, kan Abel punya teman di media sosial, dan rencananya besok mereka bakalan ketemu di mall yang ada dekat sini, Bang. Boleh gak?" tanya Ella.
Jovan terdiam sejenak. Dia tidak bisa langsung memberikan jawaban atas pertanyaan Ella itu. Jovan sangat khawatir dengan Abel, walaupun beberapa hari ini Jovan jarang pulang dengan Abel, Jovan pasti selalu memeriksa bagaimana keadaan Abel.
"Kalau lo misalnya gak yakin sama mereka, biar gue, Grisel, dan Aneska yang jagain Abel." Ella melanjutkan ucapannya agar hati Jovan sedikit terarah untuk menjawab iya.
Jovan masih tidak menjawab. Tetapi karena ucapan Ella barusan, Jovan merasa kalau dia harus memperbolehkan adiknya untuk bertemu dengan temannya. Lagian, Jovan merasa dia juga harus mulai mempercayai perempuan yang di sampingnya saat ini, yaitu Ella.
"Gimana, Bang?" tanya Ella. Ella berharap Jovan mau memberikan izin kepada Abel untuk bertemu dengan Evan.
Jovan akhirnya mengangguk, dia sudah sepenuhnya yakin dengan keputusannya untuk mengizinkan Abel. "Tapi, gue pesen ke lo, jangan sampai Abel kenapa-napa karena temannya itu."
Ella mengangguk walau sedikit ragu. Dia sendiri bingung kenapa pada saat sudah mendapat izin dari Jovan, dirinya malah merasa ragu.
"Lo mau langsung balik apa gimana?" tanya Jovan.
"Oh ya, Bang, gue baru ingat," ucap Ella. Ella mengambil selembar uang lima puluh ribu dari dompet miliknya yang dia simpan di tas sekolah. Kemudian Ella menyodorkan uang itu kepada Jovan. "Utang gue, Bang."
Jovan sedikit bingung, dia tidak tahu apa yang dimaksud dengan utang oleh Ella. Seingat Jovan, Ella tidak pernah berhutang kepadanya, dan kalaupun ada, Jovan pasti tidak akan menerima uang untuk membayar utang itu.
"Minum yang kemarin," ucap Ella bermaksud mengingatkan Jovan kalau kemarin Jovan membayar minuman miliknya.
Jovan mengambil uang itu dari tangan Ella, tetapi Jovan tanpa seizin Ella membuka tas Ella lalu mengambil dompet Ella.
Ella jelas kaget dengan kelakuan Jovan, tetapi Ella membiarkannya karena Ella penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Jovan.
"Daripada lo kasih uang ini ke gue, mending gue masukin lagi ke dompet lo." Jovan membuka dompet Ella lalu memasukkan kembali uang yang tadi sudah diambil oleh Ella.
"Bang, lo itu udah baik banget sama gue, emang salah kalau kasih lo itu?" tanya Ella. Itu yang dimaksud oleh Ella jelas adalah uang yang seharusnya sudah berada di tangan Jovan.
"Lo gak perlu bales pakai itu, lo ada aja udah cukup," jawab Jovan.
Ella memikirkan apa makna tersirat dari jawaban Jovan barusan. Ella sangat yakin kalau Jovan mempunyai makna tersirat di dalam kalimat yang baru saja dia ucapkan.
"Maksud lo?" tanya Ella. Ella sebenarnya sudah tahu apa makna dari perkataan Jovan, tetapi Ella lebih memilih untuk berpura-pura tidak tahu karena itu adalah jalan aman baginya.
"Berarti kita langsung ke rumah lo kan?" tanya Jovan.
"I-iya," jawab Ella. Ella sedikit kecewa karena Jovan tidak menjawab pertanyaan. Tadinya Ella ingin memaksa Jovan untuk menjawab, tetapi Ella baru ingat kalau dia sedang duduk di mobil Jovan.
***
Seharusnya malam ini Ella merasa sedikit lega karena tadi dia berhasil memengaruhi Jovan agar mau memberikan izin kepada Abel untuk bertemu dengan Evan.
"Ella," panggil seseorang dari luar pintu kamar Ella, sedetik kemudian orang itu mengetuk pintu kamar Ella.
Ella mengenali suara itu, itu adalah suara Ryan. Ella pun membuka pintu kamarnya.
"Kenapa, Bang?" tanya Ella.
"Lo mau ikut bareng nyokap gue sama nyokap lo gak?" tawar Ryan.
Ella langsung mengangguk, entah apa alasan yang membuatnya semangat seperti tadi. "Ya udah, kalau gitu lo bilangin ke yang lainnya kalau gue bakal turun sekitar sepuluh menit lagi."
Lalu Ella menutup pintu kamarnya, sementara Ryan sedikit bingung karena tidak biasanya Ella semangat jika diajak jalan malam hari. Tapi sebenarnya, Ella semangat karena dengan pergi keluar, ia tidak perlu menghabiskan waktu di kamar tidurnya.
"Itu anak, kalau jalan aja cepat, kalau disuruh ngerjai pe-er? Palingan tuh bocah izin tidur," ucap Ryan. Kemudian Ryan kembali menuju ruang tamu untuk menemui Sarah dan juga ibunya yang bernama Christy.
"Ellanya mana?" tanya Christy.
"Paling sepuluh menit lagi dia datang, Ma," jawab Ryan.
"Kamu udah kasih tau kita mau kemana?" tanya Christy.
Ryan menggeleng. "Belum, Ma."
"Aduh, nanti dia malah pakai gaun pula, padahal kan kita cuma mau ke kafe," ucap Sarah yang sedaritadi hanya diam mendengar percakapan ibu dan anak yang berada di hadapannya itu.
Saat Ryan baru saja akan membuka mulutnya untuk berbicara, tiba-tiba saja Ella sudah berada di samping ibunya. Untung saja pakaian yang dikenakan oleh Ella tidak terlalu berlebihan jika untuk pergi ke kafe.
"Kita mau kemana, Ma?" tanya Ella.
"Mau ke kafe, El, pertemuan ibu-ibu perumahan ini," jawab Sarah.
Ella sedikit bingung. Tidak biasanya diadakan pertemuan ibu-ibu perumahan tempat dia tinggal. Kalau pun ada pasti itu karena salah satu dari penghuni perumahan sedang ada acara dan mengundang para tetangganya.
"Kok tumben?" tanya Ella.
"Jadi, El, Tante sama Mama kamu yang buat kegiatan ini. Tujuannya biar bisa kenal satu sama lain, kan selama ini ada yang gak kenal. Contohnya aja Tante sama Mama kamu, kita baru kenal beberapa waktu lalu. Dan rencananya ini akan diadakan setiap minggu di rumah yang terpilih, karena ini pertemuan pertama jadi kita adakan di kafe," jawab Christy.
Ella hanya mengangguk. Ella mengakui dirinya sendiri juga tidak terlalu mengenal orang-orang yang tinggal satu perumahan dengannya. Bahkan, dia saja baru kenal dengan kakak kelas yang tinggal satu perumahan dengannya, yaitu Ryan.
"Ya udah, ayo kita pergi," ajak Mama Ella.
"Yang bawa mobil siapa, Ma?" tanya Ella.
"Gue, El," jawab Ryan.
***
ReonA
















Wih keren. Latar korea tapi misteri. Mantaaappp
Comment on chapter Prolog