Read More >>"> When the Winter Comes (Bab 9) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - When the Winter Comes
MENU
About Us  

Restoran Jepang yang baru buka itu ramai, ia dan James datang sedikit terlambat sehingga harus menunggu di kursi tunggu. James berbicara sebentar dengan penjaga antrian dan tak lama mereka diijinkan masuk. Jean terkesima dengan kemampuan persuasif James.

Mereka diarahkan ke lorong menuju booth dan Jean terkejut ia diarahkan ke booth dimana Devlin berada. Tangan wanita itu berada di dada Devlin, dalam genggamannya, Jean mengalihkan pandangannya ke arah lain sementara tangan James menggenggam tangannya menuntun jalan.

"Hi Cas ... Kau tidak keberatan kami bergabung bukan?" James tersenyum dan langsung duduk di sebelah Setyo lalu mempersilahkan Jean duduk di sebelahnya.

"James! Wah ... tak masalah. Kalau harus ikut diantrian mungkin sudah bukan makan malam lagi bagi kalian. Hari ini melelahkan dan kita butuh stamina untuk besok." Jawab Cassandra riang. "Tapi kita makan yakiniku lhoo?"

"Tak masalah. Jean, kenalkan dr. Cassandra, dia baru bergabung bulan ini." Jean memaksakan senyum dan  bersalaman dengan Cas. Cassandra di lain pihak tersenyum lebar sambil menaikkan letak kacamatanya. Jean menilai wanita ini kurang lebih seumurnya dan sangat cantik. Kepandaian terpancar di wajahnya yang periang, pacar Devlin-kah?

Pelayan datang dan meletakkan berbagai macam daging dan  beberapa mangkuk bumbu dan sup. James menambahkan lagi beberapa menu untuk dia dan Jean. Sepeninggal pelayan, mereka sibuk memanggang daging tanpa suara.

"Bagaimana acara tadi James? Ada polisi yang memberikanmu saat-saat sulit?" Cas membuka suara memcahkan keheningan sambil membalik-balik daging tanpa tau bahwa Devlin merasa Cas sedang menyindirnya.

Sebelum James dapat menjawab, Devlin berkata, "dr. James, maaf tadi saya agak kasar." Devlin memberikan senyum miringnya yang tidak terlalu miring yang sebenarnya ditujukan ke Jean. Sebagaimana ia ingin menghindar, karena posisi duduknya di sudut ia tidak punya pilihan lain daripada menatap ke posisi Jean di samping lorong.

Jean menatap piringnya terus menerus, entah apa yang dipikirkannya. Ketika ia berbicara barulah Jean menatapnya dan seperti sensasi minum soda, seakan-akan ada semut-semut menjalar dari leher menuju kupingnya. Rasa senang yang aneh menjalarinya.

"Tak masalah err ... Devlin kan, boleh saya panggil Devlin?" Perhatian Devlin kembali tertuju pada James.

"Ya, tentu saja. Setyo, mana piringmu?" Kata Devlin. Devlin memberikan piring Setyo pada Cas. Cas bukannya meletakkan daging yang matang ke piring Setyo alih-alih ia meletakkannya di piring Devlin. Alis Devlin terangkat dan menengok ke Cas dan Cas memberikan senyum terlalu manis ke Devlin sampai kening Devlin berkerut.

James terkekeh dan Setyo cemberut. Jean menatapnya lagi, dan hatinya bersorak sorai. Terlepas dari perasaan apa yang Jean rasakan terhadapnya, persetan! ia ingin menikmati saat ini, saat Jean menatapnya lagi.

Devlin bangun dan meletakkan piringnya yang terisi ke hadapan Jean, "makanlah." Tersenyum miring lagi, kali ini benar-benar senyum miring khas Devlin yang disukai Jean. "Kau tidak bilang terima kasih?"

"Terima kasih." Jawab Jean dengan canggung. Devlin dapat melihatnya jelas, mungkin karena Jean mempertimbangkan perasaan Cassandra terhadapnya. Namun ketika Jean menatap Devlin, waktu seakan berjalan lebih lambat dan ia ingin berlama-lama disana.

"Uenak begini makanan koq nda ada yang makan yo?" Ujar Setyo sambil mengunyah. Devlin ingin sekali menjitak kepala Setyo karena tidak sensitif terhadap situasi saat ini.

Karena piring Devlin diberikan kepada Jean, maka James mau tak mau mengambilkan daging ke piring Cas yang cemberut. Sementara Setyo mengambil sendiri sepuasnya. Suasana hati Devlin sedang senang, ia dan Setyo makan paling banyak. Mereka tambah dua kali total porsi barulah memutuskan untuk berhenti. Kemudian Devlin buru-buru membayar makan malam itu sebelum James mendahuluinya.

Di depan restoran mereka berpisah. Setyo tinggal sambil menunggu jemputan online-nya. Jean menatap Devlin sekali lagi sebelum James mengantarnya pulang. Devlin berdiri diam menatap punggung Jean yang masuk ke Mercedez Benz S class milik James. Hatinya mencelos.

Suara Cassandra membuyarkan lamunannya. "Antar aku pulang ya Dev," pinta Cas dengan wajah memelas.

Devlin terkekeh, "baiklah." Devlin merasa kalau suasana hatinya sedang baik, ia merasa seperti kucing rumahan yang bisa disuruh-suruh. Jika suasana hatinya buruk, siapapun yang mengganggu akan dilumatnya.

Devlin membuka pintu mobil Toyota Veloz putihnya dan mengendarainya menuju rumah Cassandra. Devlin berkendara dalam diam, hatinya hangat dipenuhi pikiran yang membingkai Jean di setiap posisi yang ditangkap matanya. Jean dari samping, Jean dari depan, Jean menatapnya, Jean dengan rambut yang tergerai, Jean dengan baju susternya, Jean ...

"Dev, Jean itu siapa sih?" Tanya Cas membuyarkan pikiran Devlin.

Devlin menghembuskan nafasnya dengan berat. "Tidak bisa kuceritakan. Ceritanya terlalu panjang dan rumit."

Cas terdiam, diujung matanya Devlin menangkap kegelisahan Cas dan tidak bisa berbuat apa-apa. Jika ia menghiburnya bisa diartikan dia memberi harapan dan itu tidak boleh terjadi.

Mobil Devlin berputar dan masuk ke area pemukiman mewah tanpa pagar dengan lampu taman di kiri kanan jalan dan Devlin bersiul kagum, "Wah, keren banget!"

"Kiri jalan itu Dev, di tikungan." Mata Devlin membesar dengan rasa kagum yang wajar melihat rumah putih yang megah di persimpangan jalan. Bahkan dalam temaramnya lampu jalan rumah itu tampak sangat mewah dan elegan. Desain arsitekturnya minimalis dengan banyak kaca berbingkai coklat untuk pencahayaan alami dan dindingnya yang putih, di beberapa posisi, dihiasi dengan tanaman rambat agar tidak berkesan dingin.

"Bagaimana kau tinggal disini sementara waktumu banyak tersita sebagai dokter?" Devlin menarik tuas remnya dan ikut keluar bersama Cassandra.

Cas tertawa mendengar komentar Devlin. "Itulah sebabnya aku dipaksa orang tuaku segera menikah agar bisa pensiun dini dan memenuhi rumah ini dengan anak-anak." Cas memberikan tampang bergidiknya mengenai ide orang tuanya.

"Jadi, siapakah lelaki yang beruntung itu?" Tatap Devlin dengan senyum miringnya.

"Hmm ... itu, belum diputuskan." Jawab Cas tersipu.

Oh~ Devlin harus pergi dari topik ini atau ia akan terpeleset kedalamnya. "Baiklah. Terima kasih telah mengajakku makan malam. Semoga mimpimu indah." Devlin mengajukan tangannya dan di tangkap oleh kelembutan tangan Cas yang mungil.

Dengan harta sebanyak itu, Cas sebenarnya dapat dengan mudah mendapatkan jodoh, pikir Devlin sambil membuka pintu mobil dan pergi menjauh.
 

 

"Terima kasih telah mengantarku pulang, James," senyum Jean. Mereka berdiri di depan pintu apartment studio Jean.

James menangkup wajah Jean dan mencium bibirnya lembut. "Selamat malam Jean." Kemudian memeluknya. Jean ingin segera masuk ke apartmentnya, namun pelukan James terasa hangat dan nyaman. Ia memejamkan matanya.

"Kau sudah putuskan mengenai lamaranku Jean?" Tanya James. "Aku ingin segera membuatnya resmi Jean sehingga tidak perlu khawatir lagi bahwa kau akan diambil orang lain." Jean bergumam tidak jelas. "Aku berjanji tidak akan pernah mengecewakanmu. Selamanya."

"Oh~ Mike ... ," desah Jean. Jean terkejut sendiri mendengar dirinya menyebut nama Mike, wajahnya memucat. Ia juga merasakan tubuh James menegang. Perlahan ia memberanikan diri menatap James. "James, maafkan aku."

James melepaskan pelukannya dan menatap Jean. "Sudah malam, mungkin kau lelah. Masuklah ke dalam." James menatap Jean datar.

Jean berbalik dan masuk ke apartmentnya. Bersandar pada pintu, Jean membayangkan tatapan dingin James barusan dan tubuhnya menggigil.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (60)
  • niel54

    Keren banget ceritanya.

    Comment on chapter Prolog
  • ReonA

    @SusZie Hehe, ada campuran misterinya kok kak

    Comment on chapter Prolog
  • SusZie

    Kukira liat cover sama judulnya ini cerita romance

    Comment on chapter Prolog
  • apriani48

    Gila kereeenn, Bahasanya ngalir. Kukira ini romance, tpi ternyata thriller ya? Kutunggu versi cetaknya deh

    Comment on chapter Prolog
  • Tashya

    Kereeeennn. Kereeennnn.

    Comment on chapter Prolog
  • miradun

    Wadaw gila! Kece abis ini prolog. Aku masukkin ke list dulu dah, mau namatin ini abisitu baru lanjut ke series yg lain. Good luck!

    Comment on chapter Prolog
  • ratih211

    Keren ceritanya, pengen lanjut, tapi aku lagi sibuk sekolah, mungkin kumasukkin dlu deh ke list. Aku suka bahasaaanyaaa, ngalirrr

    Comment on chapter Prolog
  • ReonA

    Huwaaa makasih utnuk kalian semua yang udah mau baca dan komen ceritakuuuu. Makasih lhooo

    Comment on chapter Prolog
  • Rizalulhanan

    Aku gatau mau ngasih kritik apalagi. (Ditabok author). Keren ini bener" keren. Mantap. Gatau deh kurangnya apa 😂

    Comment on chapter Prolog
  • sumarni285

    Wadaw gilaaa. Apa lagi ini? Korea rasa misteri? Atau misteri rasa romance??

    Comment on chapter Prolog
Similar Tags
NADI
142      115     0     
Mystery
Aqila, wanita berumur yang terjebak ke dalam lingkar pertemanan bersama Edwin, Adam, Wawan, Bimo, Haras, Zero, Rasti dan Rima. mereka ber-sembilan mengalami takdir yang memilukan hingga memilih mengakhiri kehidupan tetapi takut dengan kematian. Demi menyembunyikan diri dari kebenaran, Aqila bersembunyi dibalik rumah sakit jiwa. tibalah waktunya setiap rahasia harus diungkapkan, apa yang sebenarn...
Konstelasi
38      28     0     
Fantasy
Aku takut hanya pada dua hal. Kehidupan dan Kematian.
Melankolis
73      55     0     
Romance
"Aku lelah, aku menyerah. Biarkan semua berjalan seperti seharusnya, tanpa hembusan angin pengharapan." Faradillah. "Jalan ini masih terasa berat, terasa panjang. Tenangkan nafsu. Masalah akan berlalu, jalan perjuangan ini tak henti hentinya melelahkan, Percayalah, kan selalu ada kesejukan di saat gemuruh air hujan Jangan menyerah. Tekadmu kan mengubah kekhawatiranmu." ...
Peringatan!!!
70      60     0     
Horror
Jangan pernah abaikan setiap peringatan yang ada di dekatmu...
Chasing You Back
7      7     0     
Romance
Sudah 3 tahun, Maureen tidak pernah menyerah mengejar pangeran impiannya. Selama 3 tahun, pangeran impiannya tidak mengetahui tentangnya. Hingga suatu saat, Pangeran Impiannya, Josea Josh mulai mendekati Maureen? Hmmm ..
Young Marriage Survivor
70      52     0     
Romance
Di umurnya yang ke sembilan belas tahun, Galih memantapkan diri untuk menikahi kekasihnya. Setelah memikirkan berbagai pertimbangan, Galih merasa ia tidak bisa menjalani masa pacaran lebih lama lagi. Pilihannya hanya ada dua, halalkan atau lepaskan. Kia, kekasih Galih, lebih memilih untuk menikah dengan Galih daripada putus hubungan dari cowok itu. Meskipun itu berarti Kia akan menikah tepat s...
Me vs Idol
12      12     0     
Romance
Pisah Temu
22      17     0     
Romance
Jangan biarkan masalah membawa mu pergi.. Pulanglah.. Temu
Melawan Tuhan
83      63     0     
Inspirational
Tenang tidak senang Senang tidak tenang Tenang senang Jadi tegang Tegang, jadi perang Namaku Raja, tapi nasibku tak seperti Raja dalam nyata. Hanya bisa bermimpi dalam keramaian kota. Hingga diriku mengerti arti cinta. Cinta yang mengajarkanku untuk tetap bisa bertahan dalam kerasnya hidup. Tanpa sedikit pun menolak cahaya yang mulai redup. Cinta datang tanpa apa apa Bukan datang...
Confusing Letter
53      42     0     
Romance
Confusing Letter