Read More >>"> When the Winter Comes (Bab 3) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - When the Winter Comes
MENU
About Us  

Aroma gurih dari bubur nasi yang baru saja matang itu menguar memenuhi dapur. Seorang wanita berusia akhir tiga puluhan itu langsung mematikan api. Mengaduknya sekali lagi untuk memastikan bubur nasi buatannya benar-benar sudah matang. Setelahnya, wanita itu menyuruh seorang asisten rumah tangga untuk melanjutkan pekerjaan, memasak lauk yang tadi sudah disiapkannya.

Mata berwarna coklat cerah itu sama sekali tak terlihat lelah meskipun seluruh peluh memenuhi tubuhnya. Raut wajahnya terlihat hangat dan ramah. Tubuhnya yang ramping itu kini sudah berdiri di depan anaknya. Anak perempuan yang sudah duduk di sana bahkan sejak wanita itu mulai memasak.

“Kamu nggak bilang dari kemaren kalo mau bawa bekal. Ibu belum belanja.”

Mendengar jawaban ibunya itu, Tasya sama sekali tak terlihat kecewa. “Bawain apa aja deh, Bu.”

Ibunya itu tertawa pelan. “Bubur?” Tasya menggeleng kuat-kuat. Ibunya mengerti. Dia juga hanya basa-basi menanyakannya. Dengan cekatan, wanita itu berbalik, memeriksa isi kulkas dan mulai menyiapkan bekal makan siang untuk anaknya.    

“Memangnya makanan di kantin nggak ada yang enak, Sya?” Ayahnya yang baru saja menelan sesendok nasi goreng sarapannya itu bertanya penasaran. 

“Enak-enak banget malah, Yah. Baksonya apalagi. Somaynya juga.”

“Terus?”

“Kantinnya ada di bangunan belakang, Yah. Dan sekarang udah mendung.” Bukan Tasya, melainkan Nata yang menyahuti. Laki-laki itu juga baru saja menghabiskan sepiring sarapannya.

“Kamu jangan coba ujan-ujanan, Sya.” Ayahnya itu memperingatkan. Kemudian ia tertawa pelan. Dia juga segera menghabiskan sarapannya, beranjak pergi. “Ayah duluan, ada kecelakaan pagi ini.” Pria itu mendekati Tasya, mencium keningnya. Lalu berjalan melewati Nata, mengusap kepalanya sekali sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.

Tasya selalu menyukai rutinitas pagi harinya seperti ini. Dan bagian terbaiknya adalah saat ayahnya pamit untuk pergi bekerja karena pria itu selalu mencium keningnya. Rasanya? Hangat sekaligus malu. Rasa kagum akan ayahnya sendiri itu tak pernah sedikitpun berkurang, bahkan dari dulu.  

Tak lama kemudian, ayahnya kembali muncul dari balik pintu. Menatap Tasya dan Nata yang masih duduk santai di meja makan.  

“Itu, Pak Mul udah nungguin. Emangnya kalian nggak upacara?”   

“Astaga! Ini hari senin!”

***

Pak Mul, sopir mereka itu menjadi bulan-bulanan Tasya dan Nata sepanjang jalan. Untunglah pria paruh baya itu sudah mengenal mereka bahkan sejak dalam kandungan. Jika tidak, mungkin Pak Mul akan langsung menepi dan memutuskan untuk menendang mereka keluar dari mobil.

“Pak udah telat nih!”

“Pak cepetan!”

“Pak buruan!”

“Pak!”

“Pak!”

“Pak!”

Pak Mul hanya bisa mengehela nafas, menebalkan telinga mendengarkan teriakan mereka yang bersahutan dan saling menimpali. Lebih baik konsentrasi pada jalan saja, pikirnya. Mau secepat apapun, mereka sudah terlambat sejak masih di rumah tadi.

Akhirnya penderitaan selama perjalanan bagi Pak Mul itu selesai sudah. Mereka sampai. Pria itu langsung menepikan mobilnya, dan belum sampai sedetik mobil itu berhenti, Tasya dan Nata sudah melompat turun, berlarian menuju pintu gerbang sekolah yang sudah terkunci.  

Mereka berdua secara otomatis langsung berdiri di barisan murid terlambat lainnya. Ikut upacara di depan gerbang. Mendengarkan samar-samar suara pembina dari dalam sana.  Dan menyesali mengapa mereka harus berlarian tadi.

“Gara-gara lo nih sarapannya kelamaan.” Tasya berbisik ke arah Nata setelah nafasnya cukup teratur. Sedangkan Nata yang membenci olahraga itu sudah kehilangan semua energinya, tidak lagi memiliki selera untuk meladeni ucapan Tasya.

Tasya menengadahkan kepala. Awan tebal menutupi langit di atas sana. Tak ada sedikitpun celah bagi matahari untuk menampakkan sinarnya. Tapi tetap saja, udara panas memenuhi tubuh Tasya yang tertutup sweeter tebal berwarna merah muda. Perempuan itu mulai mengibas-ngibaskan tangannya, berharap ada sedikit udara sejuk yang muncul dari sana.  

Karena kibasan tangan itu sama sekali tak membantu, Tasya berniat membuka sweeternya. Tapi diurungkan saat dia menyadari membuka sweeter di barisan saat ini bukanlah hal etis. Apalagi hampir semua orang yang berdiri di dekatnya adalah laki-laki. Akhirnya perempuan itu memutuskan untuk merogoh tas, mencari karet gelang yang terselip entah dimana.

“Pegangin bentar.” Perempuan itu menyodorkan bekal makan siangnya kepada Nata yang berada di belakang tanpa menoleh. Dia mulai mengikat rambutnya, menggelungnya tinggi.  

Tasya bisa bernafas sedikit lega karena lehernya yang mulai berpeluh itu mendapatkan sedikit udara. Membiarkan kesiur angin pelan membelai kulitnya. Perempuan itu hendak berbalik mengambil bekal makan siangnya saat dia menyadari siapa yang berdiri di barisan sebelahnya sedari tadi.

Warna.

“Eh, lo kapan datengnya?” Tasya mendekatkan sedikit tubuhnya ke arah Warna, berbicara dengan suara pelan agar tidak ketahuan oleh guru BK yang mengawasi di depan sana.  

“Sebelum lo,” jawabnya singkat.

“Oh ya?”

Warna hanya mengangguk. Tasya menarik tubuhnya, kembali ke barisan.

“Anak kelas kita siapa lagi yang telat?” Tasya melanjutkan.

Warna menggerakkan kepala, ujung dagunya mengarah ke arah barisan paling sebelah kiri, barisan laki-laki. “Itu anak kelas kita.”

Mulut Tasya membentuk huruf-‘o’, mengangguk paham, senang. “Untung rame.” Sekarang perempuan itu tertawa, lupa bahwa awalnya dia kesal karena terlambat.

Tasya berjalan satu langkah ke belakang. Hendak mendekati Nata, berniat menggodanya. Sambil menatap ke depan, Tasya berbisik, “Gua tebak, kawan kelas lo pasti nggak ada yang terlambat.”

“Enggak kok, Dek. Itu di depan lo temen sekelas gua semua.”

Tasya langsung berbalik. Begitu pula dengan Warna dan beberapa orang lainnya yang berbaris di depan mereka. Nata yang berdiri dua baris di belakangnya itu menatap heran. Sedangkan laki-laki yang berbaris tepat di belakang Tasya itu sudah menarik kepalanya menjauh, tersenyum, mengangkat kotak makan siang yang tadi Tasya berikan.

Sejenak perempuan itu menahan nafas. Menyadari siapa laki-laki itu. Nuril, kelas 12-IPA-4.

Tasya masih ingat bagaimana kakak kelasnya itu selalu menjadi bahan perbincangan sejak masa orientasi sekolah. Dia adalah tipe laki-laki yang tidak akan bisa dilupakan karena keramahannya. Senyumnya? Jangan ditanya. Sangat memesona. Karena itulah, Nuril mendapatkan gelar sebagai Kakak Ter-Favorit, Kakak Ter-Ganteng dan Kakak Ter-Baik. Semua gelar yang diperebutkan panitia MOS saat hari terakhir itu dilibasnya.   

“Maaf, Kak. Saya kira temen saya tadi.” Tasya tersenyum canggung sekaligus gugup. Malu sendiri. Buru-buru dia mengambil kotak makan siang itu. Sebelum berbalik, Tasya sempat memelototi Nata di belakang sana yang masih menatapnya dengan tak mengerti.

“Lo jangan galak-galak, Sya. Gua yang nyuruh tuker tempat tadi.” Nuril tertawa pelan, merasa lucu melihat tingkah perempuan yang tingginya hanya sebahunya itu.

Warna yang berdiri di samping Tasya itu tersenyum entah kenapa. Tentu saja dia akan bertukar tempat dengan Nata demi mendekati perempuan itu, pikirnya. Kemarin, saat hujan turun dan Tasya baru saja pergi bersama Nata, laki-laki itu datang dengan beberapa temannya. Ke tempat dimana Tasya berdiri sebelumnya, menunggu hujan reda.

“Yah, udah pulang duluan do’i,” ungkap kecewa Nuril melihat Tasya yang sudah pulang bersama Nata.

“Mereka berdua itu pacaran?” salah satu temannya itu terdengar penasaran, menatap Tasya dan Nata yang masih berjalan pelan di tengah lapangan.  

“Nggak, mereka cuma tetangga. Yah, mau pacaran atau nggak pun, gua nggak peduli sih.”   

“Berarti bisalah dideketin.”

“Coba aja lo deketin kalo mau bonyok ditangan gua.” Nuril berkata santai, masih tersenyum. Tasya baru saja masuk ke dalam mobil jemputannya di depan gerbang sana. Kemudian laki-laki itu memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana, berjalan pergi menuju ruang ekskul.  

Sepeninggalan Nuril, Warna ikut beranjak. Hujan sudah tidak sederas tadi. Hanya menyisakan butir-butir gerimis halus. Laki-laki itu sempat berdiri mematung, menatap langit sekali lagi.

Gua benci hujan.  

***

Murid-murid yang terlambat itu baru saja selesai menuliskan nama mereka di buku keramat milik guru BK. Dua kali nama mereka tertulis di sana, maka kehadiran hari itu akan dianggap absen sepanjang pelajaran. Dan jika sudah mencapai tiga kali, maka siap-siap orang tua harus datang ke sekolah.

“Mengerti?”

Suara lantang yang dipaksakan itu menggema di lapangan. Menanggapi ucapan guru mereka yang marah besar karena jumlah murid yang terlambat hampir menyentuh angkat seperempat dari jumlah keseluruhan muridnya.

Tasya memilih berjalan sejajar dengan Warna dibandingkan Nata yang berjalan sedikit jauh di belakang mereka. Perempuan itu masih menggerutu karena Nata sudah mempermalukannya tadi.

“Tasya!”

Tasya berhenti. Menoleh. Begitu pula dengan Warna di sampingnya. Nuril yang baru saja memanggilnya.  

“Lo tambah cantik dikuncit kayak gitu!”

Secara otomatis murid-murid yang baru saja bubar barisan dan masih berada di sekitar sana langsung ikutan menoleh. Gombalan yang diucapkan dengan lantang dan terang-terangan di tengah lapangan itu membuat semua yang mendengar menjadi tertarik. Beberapa bahkan sudah menyoraki. Kakak kelas yang tadi berdiri di belakangnya itu kembali tersenyum, tertawa saat teman-teman seangkatannya meninju perutnya karena ucapannya barusan.

Tasya menyentuh rambutnya yang masih dia ikat karena kepanasan setelah berlari tadi. Malu. Segera dia berbalik, berjalan secepat yang dia bisa. Meninggalkan Warna. Dan Nata yang baru mengerti apa yang sebenarnya terjadi.  

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (60)
  • niel54

    Keren banget ceritanya.

    Comment on chapter Prolog
  • ReonA

    @SusZie Hehe, ada campuran misterinya kok kak

    Comment on chapter Prolog
  • SusZie

    Kukira liat cover sama judulnya ini cerita romance

    Comment on chapter Prolog
  • apriani48

    Gila kereeenn, Bahasanya ngalir. Kukira ini romance, tpi ternyata thriller ya? Kutunggu versi cetaknya deh

    Comment on chapter Prolog
  • Tashya

    Kereeeennn. Kereeennnn.

    Comment on chapter Prolog
  • miradun

    Wadaw gila! Kece abis ini prolog. Aku masukkin ke list dulu dah, mau namatin ini abisitu baru lanjut ke series yg lain. Good luck!

    Comment on chapter Prolog
  • ratih211

    Keren ceritanya, pengen lanjut, tapi aku lagi sibuk sekolah, mungkin kumasukkin dlu deh ke list. Aku suka bahasaaanyaaa, ngalirrr

    Comment on chapter Prolog
  • ReonA

    Huwaaa makasih utnuk kalian semua yang udah mau baca dan komen ceritakuuuu. Makasih lhooo

    Comment on chapter Prolog
  • Rizalulhanan

    Aku gatau mau ngasih kritik apalagi. (Ditabok author). Keren ini bener" keren. Mantap. Gatau deh kurangnya apa 😂

    Comment on chapter Prolog
  • sumarni285

    Wadaw gilaaa. Apa lagi ini? Korea rasa misteri? Atau misteri rasa romance??

    Comment on chapter Prolog
Similar Tags
Perfect Candy From Valdan
100      81     0     
Romance
Masa putih abu-abu adalah masa yang paling tidak bisa terlupakan, benarkah? Ya! Kini El merasakannya sendiri. Bayangan masa SMA yang tenang dan damaiseperti yang ia harapkan tampaknya tak akan terwujud. Ia bertanya-tanya, kesalahan apa yang ia buat hingga ada seorang senior yang terus mengganggunya. Dengan seenaknya menyalahgunakan jabatannya di OSIS, senior itu slalu sukses membuatnya mengucapka...
F.E.A.R
211      152     0     
Romance
Kisah gadis Jepang yang terobsesi pada suatu pria. Perjalanannya tidak mulus karena ketakutan di masa lalu, juga tingginya dinding es yang ia ciptakan. Ketakutan pada suara membuatnya minim rasa percaya pada sahabat dan semua orang. Bisakah ia menaklukan kerasnya dinding es atau datang pada pria yang selalu menunggunya.
A & B without C
9      9     0     
Romance
Alfa dan Bella merupakan sepasang mahasiswa di sebuah universitas yang saling menyayangi tanpa mengerti arti sayang itu sendiri.
Stay With Me
16      16     0     
Romance
Namanya Vania, Vania Durstell tepatnya. Ia hidup bersama keluarga yang berkecukupan, sangat berkecukupan. Vania, dia sorang siswi sekolah akhir di SMA Cakra, namun sangat disayangkan, Vania sangat suka dengan yang berbau Bk dan hukumuman, jika siswa lain menjauhinya maka, ia akan mendekat. Vania, dia memiliki seribu misteri dalam hidupnya, memiliki lika-liku hidup yang tak akan tertebak. Awal...
ALVINO
101      74     0     
Fan Fiction
"Karena gue itu hangat, lo itu dingin. Makanya gue nemenin lo, karena pasti lo butuh kehangatan'kan?" ucap Aretta sambil menaik turunkan alisnya. Cowo dingin yang menatap matanya masih memasang muka datar, hingga satu detik kemudian. Dia tersenyum.
always
30      22     0     
Romance
seorang kekasih yang harus terpisah oleh sebuah cita-cita yang berbeda,menjalani sebuah hubungan dengan rasa sakit bukan,,,bukan karena saling menyakiti dengan sengaja,bahkan rasa sakit itu akan membebani salah satunya,,,meski begitu mereka akan berada kembali pada tempat yang sama,,,hati,,,perasaan,,dan cinta,,meski hanya sebuah senyuman,,namun itu semua membuat sesuatu hal yang selalu ada dalam...
Parloha
268      174     0     
Humor
Darmawan Purba harus menghapus jejak mayat yang kepalanya pecah berantakan di kedai, dalam waktu kurang dari tujuh jam.
Hunch
1139      539     0     
Romance
🍑Sedang Revisi Total....🍑 Sierra Li Xing Fu Gadis muda berusia 18 tahun yang sedang melanjutkan studinya di Peking University. Ia sudah lama bercita-cita menjadi penulis, dan mimpinya itu barulah terwujud pada masa ini. Kesuksesannya dalam penulisan novel Colorful Day itu mengantarkannya pada banyak hal-hal baru. Dylan Zhang Xiao Seorang aktor muda berusia 20 tahun yang sudah hampi...
Drama untuk Skenario Kehidupan
343      205     0     
Romance
Kehidupan kuliah Michelle benar-benar menjadi masa hidup terburuknya setelah keluar dari klub film fakultas. Demi melupakan kenangan-kenangan terburuknya, dia ingin fokus mengerjakan skripsi dan lulus secepatnya pada tahun terakhir kuliah. Namun, Ivan, ketua klub film fakultas baru, ingin Michelle menjadi aktris utama dalam sebuah proyek film pendek. Bayu, salah satu anggota klub film, rela menga...
Senja Belum Berlalu
112      79     0     
Romance
Kehidupan seorang yang bernama Nita, yang dikatakan penyandang difabel tidak juga, namun untuk dikatakan sempurna, dia memang tidak sempurna. Nita yang akhirnya mampu mengendalikan dirinya, sayangnya ia tak mampu mengendalikan nasibnya, sejatinya nasib bisa diubah. Dan takdir yang ia terima sejatinya juga bisa diubah, namun sayangnya Nita tidak berupaya keras meminta untuk diubah. Ia menyesal...