Apakah aku akan bahagia saat bersamanya?
Itu adalah pertanyaan yang setia berada di kepala, tertanam erat di setiap mataku terbuka hingga kembali terlelap. Aku sekalipun tidak mengalami gambaran akan bisa hidup bersamanya. Berada di sisinya, duduk berdua, seperti saat ini.
“Ternyata Dini mengetahui semua ini,” suaraku mulai terdengar jernih setelah mencoba menghentikan air mata beberapa jam yang lalu. Namun pandanganku masih kosong—terangan akan kejadian di masa lalu.
“Ya…,” lelaki di sampingku ini menjawab dengan lemah. Aku menghela napas panjang.
“Apa kamu nggak pernah bilang cinta padanya?” Kali ini aku menatapnya.
“Saat dia bertanya, aku selalu menjawab juga cinta padanya.”
“Jika Dini nggak tanya, berarti kamu diam saja?”
Ya, dia diam. Seperti saat ini.
“Aku sudah cukup berbohong selama delapan belas tahun.”
“Yanuar…”
Genggaman tangannya mengerat. “Aku tahu aku menjadi suami yang nggak bisa bertanggung jawab karena nggak bisa membahagiakannya secara batin, tapi aku sudah berusaha. Aku berusaha sebisaku untuk mencintainya. Aku bahkan menolak saat dia berbiacara tentang kenangan lama antara kita bertiga. Aku sudah berusaha dengan keras.”
Yanuar menatapku. Tatapan yang amat dalam dengan mata merahnya yang mungkin menahan beribu air mata.
“Aku merasa bersalah. Aku pun merasa bersalah.”
Aku kehilangan kata-kata. Otak ini benar-benar mati. Tidak ada sepatah kata pun dalam pikiranku. Pasalnya, bukan hanya dia yang memiliki rasa bersalah itu, aku pun sama. Rasa bersalah ini telah naik ke permukaan hingga mencekik leher. Rasa bersalah ini seakan-akan menjadi hukuman atas impian hidup bersama yang jadi nyata.
“Selama ini kita mencoba untuk saling bersabar, saling mengalah. Jadi, apa nggak bisa kita memulai semuanya dari awal?”
Lagi-lagi aku tak bisa mengucapkan apa pun. Hanya mataku yang bergerak-gerak, lalu membalas tatapannya yang dalam.
Aku tidak tahu kenapa hidupku menjadi rumit dengan perasaan ini. Aku tidak sadar kapan tepatnya aku juga memiliki rasa yang sama dengannya. Hanya saja, sejak aku memilih pergi aku malah semakin menginginkannya. Aku sadar jika hanya raga yang tidak bisa bersama, tapi hati ini yang selalu saling menggema nama.
Lalu apakah ini benar-benar waktu bagiku untuk menggenggam segala impian itu? Waktu di mana segala penantian dan kerinduan akhirnya berlabuh.
Sedihhh bgt tapi baguss lanjut terus yaa????
Comment on chapter Prolog