“Itu yang bikin Dini meninggal.”
“Perempuan itu? Aduh, padahal biasa aja lho. Cantikan almarhummah.”
“Nggak tahu si Yanuar. Paling-paling kena hasutannya. Perusak rumah tangga orang mah bisa ngapain aja.”
Tentu saja aku mendengar dengan jelas semua bisik-bisik itu. Sepelan apa pun suara mereka, aku cukup paham jika mereka tengah menjadikanku sebagai tema obrolan di tengah keributan dari kehilangan ini. Tatapan mata yang tertuju di mana pun aku berdiri. Jari telunjuk yang ikut bergerak ke mana pun aku pergi.
Bagaimana perasaanku saat mendengarnya? Hampa.
Di depanku, telah tertidur sahabat yang paling kusayang. Dia yang kini tak akan pernah lagi merengek manja dan bergelayut di lenganku. Dia tidak akan lagi mengeluarkan segala keluh kesahnya, bahagianya. Dia telah pergi. Karena dosa perasaanku.
“Sebentar lagi Dini akan dikebumikan. Kamu di rumah saja.”
Seseorang menarik lenganku. Ya, laki-laki itu. Dia menuntunku dengan pelan ke ruang tengah. Sesekali menoleh ke belakang, tepat pada sekelompok orang yang tengah berpesta dengan rangkaian kata menusuk hati padaku. Mungkinkah ia khawatir?
“Aku ingin ikut.” Aku berucap lirih, yang dibalas dengan gelengan cepat.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Semua orang sedang membicarakanmu.”
“Aku tahu.”
“Jadi jangan ikut. Jangan mendengar omongan mereka. Tetaplah di sini. Masuk ke kamarmu.”
“Kamarku?”
Dia terdiam. “Maksudku, kamarku dan… Dini.”
Aku ikut terdiam. “Kamar tamu?”
“Ada adiknya Dini.”
Aku mengangguk mengerti. Dia kembali menuntunku. Berjalan menaiki tangga, ke arah pintu yang langsung terlihat saat sampai di lantai dua. Pintu berwarna ungu. Warna kesukaan Dini. Aku masih terdiam saat dia membukakan pintu, menyuruhku masuk, lalu saling diam dalam tatapan hingga dia beranjak pergi. Menemui sang istri untuk terakhir kali.
Saat pintu itu ditutup, pertahananku benar-benar runtuh. Aku tak mampu walau sekadar berdiri. Apalagi di kelilingi oleh foto-foto kisah kehidupan di ruangan ini. Terutama satu foto yang terpajang megah di tengah ruangan. Foto pernikahan.
“Yuli, aku mau menikah!”
Harusnya aku memberi selamat dengan hati yang terbuka waktu itu.
“Yuli, kamu nggak ada hubungan apa-apa sama Yanuar, kan?”
Harusnya aku mengangguk dengan penuh kejujuran. Tidak hanya menggangguk penuh kebohongan.
“Yuli, tetap bersamaku ya.”
Dan harusnya aku memenuhi keinginannya bukan keegoisanku.
“Yuli.”
Kini, teringat akan suaranya membuatku menjadi orang paling tidak berguna.
Sedihhh bgt tapi baguss lanjut terus yaa????
Comment on chapter Prolog