Read More >>"> The Bet (The Bet | 12) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - The Bet
MENU
About Us  

Aretha sudah kembali ke apartemennya. Tadi pagi saat dia terbangun dari tidurnya, kakak dari ibunya sudah berada di ruangan Aletha dirawat dan sedang mengobrol dengan Aram. Berbicara tentang Aram, laki-laki itu menemani Aretha berbicara sampai pagi saat Aretha tidak bisa tidur, sampai akhirnya perempuan itu sudah merasa sangat mengantuk dan berakhir tertidur di sofa. Setelah itu, Aram mengendarai mobil Aretha ke apartemen laki-laki itu, baru setelah itu Aretha mengendarai mobilnya menuju apartemennya sendiri.

“Kalian juga nginep di sini semalem?” tanya Aretha menatap Raka, Rion dan Theo bergantian saat mendapati ketiga laki-laki itu di dalam apartemennya.

“Mereka semalem ke sini, terus pulang, terus tadi pagi-pagi ke sini lagi,” jelas Rachel saat ketiga laki-laki yang ditanya tidak juga menjawab.

“Siapa yang ngijinin kalian ke sini ya?” tanya Aretha sinis membuat ketiga laki-laki yang sedang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing menoleh ke arahnya.

“Aram mana? Kalo Aram ada di sini, lo pasti ngijinin kan?” tanya Rion tersenyum lebar.

“Di apartemennya lah,” kata Aretha dengan nada jutek. “Oh iya, kata Aram, mobilnya harus udah ada di apartemennya sebelom jam sebelas siang.”

Rion melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Mampus gue,” gumamnya lalu bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari apartemen Aretha.

“Gimana kembaran lo?” tanya Sharla.

“Demam berdarah,” jawab Aretha sambil berjalan ke arah dapur kecilnya untuk mengambil minum.

“Kakak lo udah tau?” Kali ini Rachel yang bertanya.

“Kalo dia belom tau, sekarang gue masih di rumah sakit,” ucap Aretha lalu meneguk air putih dari gelasnya.

“Aram nungguin lo?” tanya Raka penasaran.

“Gue bangun tidur, dia udah ngobrol sama tante gue.”

“Gila, gila, gila,” ujar Sharla dengan nada khasnya sambil bertepuk tangan. “Tante lo yang kata lo receh banget itu? Kok Aram bisa nyambung ngobrol sama tante lo?” tanya Sharla lagi yang Aretha jawab dengan mengangkat kedua bahunya.

Aretha berjalan menuju sofa dan duduk di sebelah Rachel, mengambil laptop-nya di meja yang terletak di depannya dan menyalakan benda itu.

“Gue penasaran deh, kenapa lo bisa ngajak Aram taruhan kayak gitu?” tanya Raka yang berhasil membuat Theo menoleh ke arah Aretha, ikut menunggu jawaban perempuan itu.

“Kenapa emangnya?” tanya Aretha dengan ekspresi datarnya. “Lumayan kan, ngasih warna di sekolah monoton itu.”

“Atau lo emang udah suka sama Aram?” tanya Raka dengan senyum miringnya.

Aretha mengernyitkan dahinya sebentar sebelum menjawab, “punya otak sekali-sekali dipake buat mikir biar gak karatan. Kalo gue suka sama Aram, gue gak akan bikin taruhan yang bakal ngerugiin diri gue sendiri.”

“Mungkin aja lo cuman mau bikin Aram tertarik,” jawab Raka.

“Atau lo emang udah suka sama Aram dan pengen Aram tertarik dengan ngebohongin perasaan lo sampe Aram ngaku kalah,” sahut Theo membuat Aretha tidak habir pikir dengan jalan pikiran laki-laki itu.

“Tolong ya, gue gak sepengecut itu.”

“Kalo emang yang lo omongin bener, lo gak suka sama Aram, akuin aja lo udah mulai suka sama Aram, keliatan jelas dari kelakuan lo.” Dan lagi-lagi, Raka menampilkan senyum miringnya saat melihat Aretha terdiam.

“Kalian ngomong kayak gitu ke Aretha tanpa nyadar kalo Aram juga udah mulai suka sama Aretha. Apalagi pas Aram ngebela Aretha di depan mantannya,” ucap Rachel memecah keheningan sesaat itu.

“Paketan Aretha dateng!” seru Rion membuka pintu apartemen Aretha dengan Aram di belakangnya.

“Mulut lo minta disumpel ya?” tanya Tris sewot mendengar suara cempreng Rion.

“Galak amat sih, lama-lama jadi kayak Theo. Kelamaan pacaran sama Theo, galaknya menular gitu ya?” tanya Rion jutek.

“Kalian ngapain di sini?” tanya Aram melihat Raka, Rion dan Theo bergantian.

“Yang punya tempat aja gak masalah, kenapa lo yang ribet?” Rion bertanya balik.

“Gengs,” panggil Tris membuat atensi orang-orang yang berada di apartemen Aretha beralih pada Tris, kecuali Aretha yang sedang asik bermain ‘tetris’. “Ke tempat ini kayaknya bagus deh,” ucapnya sambil menunjukkan layar handphone-nya.

“Dimana?” tanya Sharla yang sepertinya tertarik.

“Bandung,” jawab Tris dengan cengiran lebar.

“Gila lo,” sembur Sharla.

“Kenapa?”

“Siapa yang mau nyetir ya, tolong.”

“Kan mereka udah punya SIM.” Tris menunjuk keempat laki-laki yang berada di ruangan itu.

“Tetep aja, gue bisa digantung nyokap kalo ketahuan,” ucap Sharla bergindik ngeri.

“Ya jangan sampe ketahuan,” sahut Rachel.

“Gimana Re? Mau gak?” tanya Tris melihat ke arah Aretha yang masih fokus bermain.

“Anjir, lo sih Tris, jadi kalah kan!” ucap Aretha menatap Tris sewot.

“Mau ga?” ulang Tris.

“Lo aja belom nanya yang bakal nyetir mobil.”

“Eh iya, lupa,” ucap Tris. “Gimana? Lo pada mau kan?” tanya Tris menatap ke tempat empat laki-laki itu duduk.

“Ayo lah, bosen gue,” jawab Rion.

“Terserah,” jawab Theo.

“Aram sama Raka diem aja, gue anggap setuju ya!”

t h e  b e t

 

Pukul dua belas kurang lima belas menit, tanpa rencana yang disusun secara rapi, mereka berangkat ke Bandung dengan dua mobil. Mobil pertama Aram yang menyetir, di dalamnya ada Aretha, Rachel dan Rion, sementara mobil kedua Theo yang menyetir, di dalamnya ada Raka, Sharla dan Tris.

Memasuki kota Bandung, mobil yang dikendarai Aram membuntuti mobil yang dikendarai Theo karena Tris yang membuka aplikasi gps berada di mobil itu. Sebenarnya bisa saja Aretha, Rachel atau Rion membuka aplikasi di handphone mereka, tapi ketiganya sama-sama malas dan tidak bisa membaca peta.

“Ini tempatnya?” tanya Aretha saat melihat mobil Theo berjalan melambat dan berhenti di pinggir jalan sempit setelah berjalan menuju arah Dago selama kurang lebih satu jam karena sempat salah jalan.

“Kayaknya.”

Mereka turun dari dalam mobil saat Aram sudah selesai memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil Theo. Setelah itu mereka masuk ke dalam tempat yang menurut Tris bagus tadi setelah membayar tiket masuknya.

“Bagus sih, tapi kenapa dingin bangettt!” seru Aretha kedinginan saat Sharla dan Tris malah asik berfoto.

Sementara yang perempuan asik berfoto, yang laki-laki duduk sambil menunggu makanan ringan yang dipesan sambil mengobrol dan sesekali bercanda.

“Jangan manja deh,” cibir Tris.

“Tolong ya, ini tuh bener-bener dingin, kabutnya aja tebel kayak gitu,” balas Aretha tidak terima.

“Sepuluh tahun tinggal di London, lo kalo musim dingin ngurung diri di rumah kali ya?” tanya Rachel.

“Ih, lo tau gue banget,” ucap Aretha dengan cengiran lebarnya.

Hampir tiga puluh menit Aretha, Rachel, Sharla dan Tris menghabiskan waktu hanya untuk berfoto. Mereka bergantian mengambil foto satu sama lain, lalu beberapa kali menyeret Rion untuk mengambil foto mereka berempat.

“Yah, gerimis,” ucap Sharla kesal.

“Duduk, yok,” ajak Rachel yang diangguki oleh Aretha dan Sharla, sementara Tris masih sibuk dengan handphone-nya.

Aretha duduk di sebelah Aram, lalu mengambil alih cangkir berisi kopi hitam milik Aram dan meminumnya tanpa meminta ijin dari pemiliknya.

“Pahit banget,” gerutu Aretha sambil mengembalikan cangkir berisi kopi itu ke depan Aram.

“Namanya juga kopi.” Rion yang duduk di hadapan Aretha memutar bola matanya malas.

“Pindah tempat aja, yok, dingin banget di sini, kabutnya juga semakin tebel,” bujuk Aretha.

“Kemana?” tanya Tris mewakili yang lainnya.

“Gue tau tempat bagus gak jauh dari sini,” usul Rachel saat melihat Aretha diam saja.

“Oke!” kata Sharla setuju, sementara yang laki-laki sepertinya hanya bisa menurut.

Sekelompok remaja itu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah mobil dengan canda tawa dan juga obrolan yang sebenarnya tidak penting. Lalu mereka masuk ke dalam mobil dengan formasi seperti tadi saat pergi.

Sekitar setengah jam, mereka sampai ke tempat yang Rachel usulkan. Restoran dengan pemandangan kota Bandung yang terlihat terang oleh lampu, karena saat mereka sampai di sana langit sudah gelap.

“Lo sering ke sini sama kakak gue kan?” tanya Aretha pada Rachel dengan senyum menggoda.

Aretha dan Rachel sedang berdiri di pembatas pagar yang menampilkan pemandangan kota Bandung, sementara Tris dan Sharla sedang asik mengabadikan momen lagi.

“Setiap kali kakak lo balik ke Indo, tapi kok lo tau?” jawab Rachel diakhiri dengan nada herannya.

“Tolong ya sis, pacar lo itu kakak gue,” dengus Aretha.

“Santai dong.”

“Sharla?” panggil Raka yang menghentikan aktivitas Sharla dan Tris, dan menarik perhatian teman-temannya—termasuk Aretha dan Rachel yang serentak menatap tempat Sharla berdiri. “Jadi pacar gue?”

“Eh?” tanya Sharla salah tingkah.

“Sharla!” panggil seseorang membuat atensi Aretha dan teman-temannya yang tadinya menunggu jawaban Sharla teralihkan.

“Mama?” tanya Sharla dengan pandangan terkejutnya.

“Siapa yang ngijinin kamu ke sini?!” Sharla diam, begitu juga dengan teman-temannya. “Dan lagi, saya gak akan ngijinin Sharla pacaran sama berandal macam kamu!” tambah ibu Sharla menatap Raka yang masih berdiri di sebelah Sharla.

“Mam, aku—”

“Pulang kamu sekarang!” potong ibunya. “Mama masukin kamu ke sekolah kamu sekarang supaya kamu bisa ngikutin jejak kakak-kakak kamu yang berhasil masuk ke universitas negeri, bukannya malah berteman sama anak-anak berandalan, terutama yang keluar-masuk ruang konseling seperti dia,” ucap ibu Sharla diakhiri dengan tatapan merendahkannya yang ditujukan untuk Aretha.

***

Emaknya Sharla ga gaul ah ????. 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Ritual Buang Mantan
5      5     0     
Short Story
Belum move on dari mantan? Mungkin saatnya kamu melakukan ritual ini....
Help Me
41      9     0     
Inspirational
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jika manusia berfikir bahwa dunia adalah kehidupan yang mampu memberi kebahagiaan terbesar hingga mereka bangun pagi di fikirannya hanya memikirkan dunia yang bersifat fana. Padahal nyatanya kehidupan yang sesungguhnya yang menentukan kebahagiaan serta kepedihan yakni di akhirat. Semua di adili seadil adilnya oleh sang maha pencipta. Allah swt. Pe...
Kala Senja
188      40     0     
Romance
Tasya menyukai Davi, tapi ia selalu memendam semua rasanya sendirian. Banyak alasan yang membuatnya urung untuk mengungkapkan apa yang selama ini ia rasakan. Sehingga, senja ingin mengatur setiap pertemuan Tasya dengan Davi meski hanya sesaat. "Kamu itu ajaib, selalu muncul ketika senja tiba. Kok bisa ya?" "Kamu itu cuma sesaat, tapi selalu buat aku merindu selamanya. Kok bisa ya...
Behind the Camera
21      8     0     
Romance
Aritha Ravenza, siswi baru yang tertarik dunia fotografi. Di sekolah barunya, ia ingin sekali bergabung dengan FORSA, namun ternyata ekskul tersebut menyimpan sejumlah fakta yang tak terduga. Ia ingin menghindar, namun ternyata orang yang ia kagumi secara diam-diam menjadi bagian dari mereka.
Einsam
3      3     0     
Romance
Hidupku sepi. Hidupku sunyi. Mama Papa mencari kebahagiaannya sendiri. Aku kesepian. Ditengah hiruk pikuk dunia ini. Tidak ada yang peduli denganku... sampai kedatanganmu. Mengganggu hidupku. Membuat duniaku makin rumit. Tapi hanya kamu yang peduli denganku. Meski hanya kebencian yang selalu kamu perlihatkan. Tapi aku merasa memilikimu. Hanya kamu.
pat malone
66      25     0     
Romance
there is many people around me but why i feel pat malone ?
ATMA
4      4     0     
Short Story
"Namaku Atma. Atma Bhrahmadinata, jiwa penolong terbaik untuk menjaga harapan menjadi kenyataan," ATMA a short story created by @nenii_983 ©2020
Sampai Kau Jadi Miliku
29      11     0     
Romance
Ini cerita tentang para penghuni SMA Citra Buana dalam mengejar apa yang mereka inginkan. Tidak hanya tentang asmara tentunya, namun juga cita-cita, kebanggaan, persahabatan, dan keluarga. Rena terjebak di antara dua pangeran sekolah, Al terjebak dalam kesakitan masa lalu nya, Rama terjebak dalam dirinya yang sekarang, Beny terjebak dalam cinta sepihak, Melly terjebak dalam prinsipnya, Karina ...
AMBUN
3      3     0     
Romance
Pindahnya keluarga Malik ke Padang membuat Ambun menjadi tidak karuan. Tidak ada yang salah dengan Padang. Salahkan saja Heru, laki-laki yang telah mencuri hatinya tanpa pernah tahu rasanya yang begitu menyakitkan. Terlebih dengan adanya ancaman Brayendra yang akan menikahkan Ambun di usia muda jika ketahuan berpacaran selama masa kuliah. Patah hati karena mengetahui bahwa perasaannya ditiku...
Hey, Limy!
31      10     0     
Humor
Pertama, hidupku luar biasa, punya dua kakak ajaib. kedua, hidupku cukup istimewa, walau kadang dicuekin kembaran sendiri. ketiga, orang bilang, aku hidup bahagia. Iya itu kata orang. Mereka gak pernah tahu kalau hidupku gak semulus pantat bayi. Gak semudah nyir-nyiran gibah sana-sini. "Hey, Limy!" Mereka memanggilku Limy. Kalau lagi butuh doang.