Read More >>"> Lingkaran Ilusi (Dua Orang Berbeda) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Lingkaran Ilusi
MENU
About Us  

"I want to be happy

but something inside me

screams that I do not deserve it,"

(m.b)

"Nggak mau tahu, pokoknya lo jemput gue sekarang!" Clarissa memutuskan sambungan telepon sebelum Bima memberi jawaban.

Gadis itu mendengus kasar. Sudah hampir satu jam ia menunggu, tetapi Firza masih belum menampakkan batang hidungnya. Pemuda itu menghilang, dan membuat suasana hatinya seketika berantakan.

Clarissa memejamkan mata –menahan tangis. Dadanya terasa sesak oleh sebentuk harapan yang nyatanya harus pupus sebelum sempat terwujud. Ia menghapus kasar sebutir air mata yang menetes dari sudut matanya, lantas tertawa hambar.

Entah kenapa. Hanya karena hal seperti ini ia bisa benar-benar merasa terluka. Ia patah. Meski tidak tahu alasan menghilangnya Firza, tetap saja hal itu membuatnya benar-benar kecewa. Setidakpenting itukah dirinya hingga pemuda itu melupakan janji mereka?

Clarissa menggigit bibir bawahnya, menahan air mata kecewa yang sudah hendak turun lagi. Beruntung sebuah Rush putih yang sejak tadi ia tunggu segera berhenti di depan pagar rumahnya. Kepala Bima melongok dari jendela mobil, lantas melambaikan tangan ke arahnya.

Tanpa menunggu lama, ia segera menghampiri pemuda itu. Ia ingin pergi, kemanapun yang bisa menenangkan rasa kecewanya hari ini.

"Firza kemana?" tanya Bima. Satu alisnya terangkat melihat wajah Clarissa yang tertekuk.

Clarissa mengedikkan bahu tak acuh. Ia sedang malas membahas pemuda itu saat ini. "Beli es krim yuk!"

Bima menoleh sekali lagi pada Clarissa, sebelum melajukan mobilnya.

Rush putih itu berhenti di sebuah cafè es krim yang tidak terlalu luas, namun ramai oleh pengunjung. Aroma manis serta udara sejuk dari air conditioner menyambut kehadiran mereka, begitu memasuki bangunan minimalis tersebut. Kursi dan meja kayu yang dipadukan dengan cat dinding berwarna peach seolah mampu memanjakan mata pengunjung. Dan tentu saja, membuat suasana hati menjadi lebih baik.

Clarissa melangkah lebih dulu menuju kursi yang berada di sudut ruangan. Ia sengaja memilih tempat tersebut, karena berbatasan langsung dengan kaca jendela. Sehingga, ia bisa memandang lalu lalang pengguna jalan, dan pemandangan di luar ruangan.

Sebagian besar pengunjung cafè ini adalah para mahasiswa yang sedang berkumpul bersama teman-teman mereka, atau mengerjakan tugas-tugas kuliah. Wifi gratis dan suasana sejuk, membuat mereka betah berlama-lama di tempat ini.

Seorang pelayan wanita berjalan menghampiri Bima dan Clarissa sembari menyunggingkan senyum lebar di bibirnya. Dengan suara lembut dan sopan, pelayan wanita yang kira-kira berusia sama dengan mereka itu menawarkan buku menu dan mempersilakan mereka untuk memesan sesuatu.

"Banana Boat satu," ucap Bima sembari mengembalikan buku menu pada pelayan tersebut. Matanya beralih pada Clarissa yang masih sibuk memerhatikan susunan menu di depannya. "Lo pesan apa, Clar?"

"Gue mau semua, gimana dong?" Clarissa nyengir yang membuat Bima menepuk dahinya sendiri. "Es krim Snow White satu ya, mbak."

Pelayan wanita itu membacakan kembali pesanan mereka, sebelum melangkah meninggalkan mereka.

"Jadi, sebenarnya Firza kemana?" Bima mengulang pertanyaan yang sama seperti beberapa menit lalu. Tampaknya, pemuda itu masih penasaran dengan ketidakhadiran Firza hingga membuat Clarissa menyeretnya pergi secara tiba-tiba.

Clarissa mendesah sebal. "Nggak tahu. Dia nggak ada kabar. Berkali-kali gue telepon, tapi nggak diangkat."

Bima manggut-manggut, "Kadang cowok memang begitu, suka seenaknya sendiri."

"Berarti lo juga begitu," ucap Clarissa yang ditanggapi kekehan pelan dari Bima.

"Jangan suka mainin cewek. Inget karma, Bim."

"Nggak semua cowok mempunyai niat untuk memainkan perasaan perempuan, Clar. Sebagian besar dari mereka, hanya mencoba mencari seseorang yang cocok. Kalau udah cocok, mereka juga akan berhenti dengan sendirinya."

"Kesambet apa lo, bisa berubah bijak gitu?" Clarissa tertawa renyah, sementara Bima hanya menunjukkan cengiran kecil.

Diam-diam, mata abu-abu gelap pemuda itu mencuri pandang pada gadis di hadapannya. Ada perasaan hangat yang terselip dalam hatinya, setiap kali melihat Clarissa tertawa lebar. Gadis itu ibarat sihir yang membuatnya hampir lupa pada segala hal, termasuk pada hubungan mereka yang selama ini hanya sekadar sahabat.

Terlalu lama bersama Clarissa, membuatnya menjadi semakin terbiasa dengan gadis itu. Ia bahkan menempatkan Clarissa di posisi tersendiri dalam hatinya yang tidak akan bisa digantikan oleh siapapun. Lamanya kebersamaan itu pula yang akhirnya membuat Bima harus terjebak pada situasi friendzone yang sangat menyedihkan.

Tawa Clarissa berhenti ketika seorang pelayan memberikan pesanan mereka. Seperti seorang anak kecil, Bima langsung melahap es krim di hadapannya dengan mata berbinar. Ia beberapa kali memejamkan mata, menikmati es krim yang melumer di mulutnya.

"Serius, geli gue lihat lo kayak gitu," ucap Clarissa sembari menjitak pelan kepala Bima.

"Gue lucu ya," ucap Bima yang justru terdengar seperti pengakuan.

"Najis!" Clarissa tidak tahan untuk tidak kembali tertawa melihat tingkah laku Bima.

Segaris senyum tipis tercetak di bibir pemuda itu. Lihat saja, bagaimana usaha Bima untuk membuat Clarissa kembali tertawa. Lihat saja, bagaimana usaha Bima untuk membuat suasana hati Clarissa kembali membaik. Pemuda itu bahkan rela bersikap konyol, dan bertingkah seperti anak kecil hanya untuk membuat Clarissa bahagia.

Brama menggeliat di atas sofa kamar Firza. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, lantas menguap lebar. Cahaya oranye yang menyusup dari celah ventilasi di atas jendela, menyadarkan Brama bahwa ia sudah tertidur cukup lama.

Ia beranjak dari sofa, melangkah lebar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Jika sudah terbangun seperti ini, ia tidak bisa hanya berdiam diri. Namun, langkahnya terhenti sebelum mencapai pintu kamar mandi. Sebuah benda pipih berwana putih yang tergeletak di atas meja, berhasil menarik perhatiannya.

Ia mengambil ponsel Firza dari tempatnya. Satu alisnya naik saat melihat ada lima belas panggilan tidak terjawab, dan lima pesan dari seseorang bernama Clarissa.

"Clarissa," pemuda itu bergumam.

Dengan cepat, ia membuka foto profil si pengirim pesan. Dan seketika itu pula, mata jelaganya membulat. Rahang Brama mengeras, seiring dengan detak jantungnya yang semakin kencang.

"Beraninya lo bermain-main sama gue!" Brama mengurung ponsel Firza dalam genggaman kuat tangannya.

Matanya menatap nyalang pada seorang pemuda dengan wajah babak belur di hadapannya. Kobaran kemarahan meletup-letup dari mata gelapnya. Tanpa aba-aba sebuah pukulan keras mendarat di rahang Firza, hingga membuat pemuda itu terhuyung dan jatuh terjengkang.

"Clarissa itu milik gue. Dan cowok cupu kayak lo, sama sekali nggak pantas dapatin dia!" Brama kembali malayangkan pukulan di wajah Firza yang sudah babak belur.

"Jangan ganggu Clarissa," Firza berucap putus-putus, meski suaranya menghilang entah kemana.

Tanpa menghiraukan tubuh babak belur Firza, Brama melangkah meninggalkan kamar tersebut. Kakinya bergerak cepat menuju garasi, dan mengeluarkan pajero hitamnya. Ia harus segera menemukan Clarissa.

Pajero hitam itu meliuk-liuk di jalan raya. Beberapa kali Brama membunyikan klakson panjang setiap kali ada pengendara lain yang menghalangi jalannya. Ia bahkan tidak peduli, sudah berapa kali ia menerobos lampu merah. Lagipula jika harus berurusan dengan polisi, Giovani pasti akan turun tangan untuk menyelesaikannya.

Brama meraih ponsel dari jok penumpang di sebelahnya. Jarinya bergerak mencari kontak Clarissa, tanpa mengurangi kecepatan mobilnya.

"Lo dimana?" ucap Brama, begitu suara Clarissa menjawab teleponnya dari seberang sana.

"Saya lagi di Confetti Ice Cream Cafe," jawab Clarissa dari ujung sana.

"Tunggu gue, jangan kemana-mana!" tanpa menunggu jawaban Clarissa, Brama memutuskan sambungan telepon begitu saja.

Brama menginjak pedal gas semakin dalam. Pajero hitam itu melesat kencang di tengah keramaian jalan raya.

Hanya butuh lima belas baginya untuk tiba di lokasi tujuan. Setengah berlari, ia memasuki bangunan tersebut. Baru saja tiba di ambang pintu, langkahnya terhenti seketika. Mata tajamnya tertuju lurus pada Clarissa dan Bima yang duduk berhadapan di salah satu meja, di sudut ruangan.

Jemari Brama mengepal kuat. Ia tidak suka melihat pemandangan itu. Ia berdecih, lantas kembali melanjutkan langkah menghampiri mereka berdua.

"Ikut gue!" Brama menarik pergelangan Clarissa, saat ia sampai di samping gadis itu.

Clarissa hanya bisa memandang Brama dengan tatapan bingung. Matanya memandang bergantian antara pemuda itu, Bima, dan cekalan kuat di pergelangan tangannya.

"Kak Firza, kenapa sih?" Clarissa berusaha melepaskan genggaman tangan Brama.

Brama sama sekali tidak mengindahkan pemberontakan yang dilakukan Clarissa. Matanya sibuk bertukar tatapan nyalang dengan Bima.

"Lepasin dia!" Bima berucap dingin.

Brama berdecak. Tangannya yang bebas, menunjuk tepat di depan wajah Bima. "Gue nggak ada urusan sama lo. Dan, jangan sekali-kali mencoba untuk ikut campur!"

Tanpa menunggu persetujuan Clarissa, Brama menarik gadis itu meninggalkan cafè. Ia tidak peduli pada puluhan pasang mata dari para pengunjung yang saat ini tengah memandang ke arah mereka, dengan tatapan ingin tahu.

Tidak ada percakapan yang terjadi di dalam mobil Pajero hitam tersebut. Clarissa tengah sibuk dengan rangkaian pertanyaan dalam kepalanya. Sementara Brama, pemuda itu tampak serius memandang jalanan panjang yang terhampar di depannya.

Tepat saat senja mulai menyapa di ufuk barat, mobil yang dikendarai Brama berhenti di tepi sebuah tebing. Tebing itu menjulang tinggi, hingga mereka bisa melihat hamparan rumah penduduk yang berjajar puluhan meter di bawahnya.

Dari tempat itu pula, mereka bisa melihat matahari senja yang hendak mencapai batas cakrawala beberapa menit lagi. Cahaya jingga menyiram tubuh mereka, menghadirkan warna oranye yang terkesan sendu.

Pemandangan yang sangat menakjubkan.

Seharusnya memang seperti itu, tetapi sekarang situasinya berbeda. Keberadaan pemuda di depannya, membuat otak Clarissa berkutat dengan banyak pertanyaan. Sementara pemuda itu justru tampak tidak acuh. Pemuda itu turun dari mobil, dan berjalan lebih dulu menuju tepi tebing.

Embusan angin sejuk, dan suara batang-batang pohon pinus yang saling bergesekan menyambut Clarissa saat turun dari mobil. Ia menarik napas dalam-dalam. Jika bukan dalam situasi menegangkan, ia pasti sudah melontarkan berbagai macam kalimat kekaguman karena bisa berada di tempat seindah ini.

Clarissa berhenti satu meter di sebelah pemuda itu. Sesekali ia melemparkan pandangan ke arah pemuda yang masih terdiam di sampingnya, tanpa memberikan sepatah penjelasan.

"Ada masalah, kak?" Clarissa akhirnya membuka suara terlebih dahulu. Ia terlalu penasaran atas perubahan sikap pemuda itu hari ini.

Brama menoleh ke arah Clarissa dengan wajah datar. "Gue bukan Firza."

Clarissa menaikkan sebelah alisnya. Brama memutar tubuhnya, supaya bisa berhadapan dengan Clarissa.

"Gue Brama. Brama Juniandar," pemuda itu masih memasang wajah datar seperti sebelumnya.

"Dimana Firza?"

Entah kenapa, perasaan Clarissa menjadi kesal seketika. Meski pemuda di hadapannya memiliki wajah yang identik dengan Firza, namun tetap saja pemuda itu bukanlah seseorang yang ingin ia temui hari ini. Dan kehadiran Brama yang tiba-tiba, membuat suasana hati Clarissa kembali buruk. Ditambah lagi dengan sikap tidak menyenangkan pemuda itu beberapa menit lalu.

"Ada satu hal yang harus lo patuhi setiap kali bersama gue," Brama menggantungkan kalimatnya. Mata gelapnya tertuju lurus pada iris cokelat di hadapannya. "Jangan pernah sebut nama Firza, atau mengatakan apapun tentang dia!"

Clarissa berdecih. Bukannya menjawab pertanyaan yang ia berikan, pemuda itu justru memberi syarat yang menyebalkan. Lagipula, siapa yang ingin bertemu lagi dengannya. Bertemu lagi dengan pemuda itu, sama saja menyerahkan diri untuk menderita darah tinggi menghadapi sikapnya yang semena-mena.

Lihat saja, bagaimana sikap Brama. Pemuda itu berdiri dengan jumawa, dan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku. Mata tajamnya memandang lurus ke arah matahari yang hendak terbenam.

"Hari ini, lo udah buat gue jatuh cinta untuk yang kedua kalinya," nada suara Brama merendah. Matanya beralih pada Clarissa dan menatap gadis itu dengan intens, "Jadi mulai sekarang, lo jadi pacar gue!"

"Lo pikir gue mau gitu? Yang gue suka itu Firza, bukan lo!"

Rahang Brama mengeras, tangannya mengepal kuat mendengar jawaban dari Clarissa. Ia maju beberapa langkah, hingga hanya menyisakan jarak satu langkah. Satu tangannya terulur, dan mendarat di puncak kepala Clarissa.

"Sayangnya, gue nggak lagi ngasih lo pilihan," Brama tersenyum miring. Ia mengedipkan sebelah matanya yang membuat Clarissa semakin ilfil.

Clarissa kembali berdecih. Akhirnya ia menemukan perbedaan antara Firza dan cowok di depannya. Firza tidak akan bertindak otoriter seperti Brama. Dan, Firza tidak memiliki tatapan setajam mata elang Brama.

"Jadi mulai sekarang, jangan pernah sebut nama Firza Juniandar di depan gue!"

Clarissa mendengus kasar. Ia benar-benar kesal pada Brama. Baru kali ini ia bertemu dengan seseorang yang begitu menyebalkan dan bersikap otoriter. Pemuda itu –tanpa menunggu persetujuannya– bisa dengan mudah mendeklarasikan hubungan mereka.

"Jangan terlalu bermimpi. Gue jatuh cinta sama Firza Juniandar, bukan Brama Juniandar!" Clarissa melangkah lebar, meninggalkan Brama yang masih berdiri di tempat. Tapi dengan sigap, Brama mencekal pergelangan tangannya. Mata gelap itu menatap tajam pada mata cokelatnya.

"Gue nggak akan pernah biarin siapapun nyentuh, apa yang seharusnya jadi milik gue!" Brama berucap dingin.

"Hah?" Clarissa semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka, dan apa yang diinginkan pemuda itu.

Clarissa pikir, pemuda di depannya memang sedang mabuk. Bagaimana bisa Brama mengatakan bahwa dia adalah milik pemuda itu, sementara mereka baru bertemu kali ini? Sekarang, ia benar-benar ingin melemparkan Brama ke dasar jurang.

Tapi, bukankah tadi Brama mengatakan bahwa pemuda itu jatuh cinta untuk yang kedua kali padanya?

Bukankah itu artinya, mereka sudah pernah bertemu sebelum hari ini?

Rangkaian pertanyaan dalam kepalanya membuat Clarissa semakin penasaran pada pemuda menyebalkan itu.

"Apa yang lo lihat dari dia?!" suara Brama meninggi, membuyarkan lamunan singkat Clarissa.

Nyali Clarissa menciut, namun dengan cepat ia kembali menegakkan tubuhnya. Menantang mata gelap Brama yang berkilat-kilat penuh kemarahan, meski jauh di dalam hati tatapan itu membuatnya gemetar.

"Setidaknya, Firza bukan cowok kasar kayak lo!"

Telak. Jawaban Clarissa tidak bisa lagi membuat Brama mengelak. Ia tertawa hambar. Ada luka yang tersirat dari mata elangnya. Ia melonggarkan cekalannya di pergelangan tangan gadis itu, karena rasa sakit yang tiba-tiba menyerang dadanya.

Clarissa tidak melewatkan kelengahan Brama, ia langsung menghempaskan tangan pemuda itu dengan kasar. Ia berlari, meninggalkan Brama tanpa peduli pada kerapuhan pemuda itu.

Brama ingin mengejar, tetapi luka di hatinya membuat raganya melumpuh seketika. Ia masih tertawa. Tawa keras yang terdengar memilukan.

Clarissa sama sekali tidak tahu, bahwa ia yang telah membuat Brama menjadi seperti itu. Ia yang telah membuat Brama menjadi pemuda kasar dan otoriter, seperti sekarang. Ia yang telah membuat pemuda itu begitu keras kepala untuk kembali memilikinya, untuk kembali melindunginya.

Jika saja Clarissa bisa melihat ke dalam mata Brama, gadis itu akan tahu bahwa ada luka yang terpancar dari sana. Ada sesuatu yang tidak bisa dikatakan secara gamblang melalui kata-kata. Ada kerapuhan yang terus menggerogoti pertahanannya. Dan andai saja Clarissa tahu, bahwa gadis itu adalah satu-satunya yang membuatnya betekad untuk terus bertahan hingga saat ini.

"Berengsek! Apa bagusnya Firza? Apa bagusnya dia, sampai semua orang selalu menganggap dia sebagai pangeran baik hati?!"

Kejadian beberapa saat lalu, membuat tekadnya semakin kuat. Tidak ada yang boleh menyentuh miliknya, termasuk Firza. Bagaimanapun juga, ia harus mendapatkan Clarissa. Ia tidak peduli pada perasaan gadis itu terhadap Firza. Apapun akan ia lakukan, termasuk jika itu harus menyingkirkan Firza Juniandar.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Melody untuk Galang
2      2     0     
Romance
Sebagai penyanyi muda yang baru mau naik daun, sebuah gosip negatif justru akan merugikan Galang. Bentuk-bentuk kerja sama bisa terancam batal dan agensi Galang terancam ganti rugi. Belum apa-apa sudah merugi, kan gawat! Suatu hari, Galang punya jadwal syuting di Gili Trawangan yang kemudian mempertemukannya dengan Melody Fajar. Tidak seperti perempuan lain yang meleleh dengan lirikan mata Gal...
Gilan(G)ia
4      4     0     
Romance
Membangun perubahan diri, agar menciptakan kenangan indah bersama teman sekelas mungkin bisa membuat Gia melupakan seseorang dari masa lalunya. Namun, ia harus menghadapi Gilang, teman sebangkunya yang terkesan dingin dan antisosial.
Arloji Antik
5      5     0     
Short Story
"Kalau langit bisa dikalahkan pasti aku akan ditugaskan untuk mengalahkannya" Tubuh ini hanya raga yang haus akan pengertian tentang perasaan kehidupan. Apa itu bahagia, sedih, lucu. yang aku ingat hanya dentingan jam dan malam yang gelap.
Dream
379      304     5     
Short Story
1 mimpi dialami oleh 2 orang yang berbeda? Kalau mereka dipertemukan bagaimana ya?
PALETTE
5      5     0     
Fantasy
Sinting, gila, gesrek adalah definisi yang tepat untuk kelas 11 IPA A. Rasa-rasanya mereka emang cuma punya satu brain-cell yang dipake bareng-bareng. Gak masalah, toh Moana juga cuek dan ga pedulian orangnya. Lantas bagaimana kalau sebenarnya mereka adalah sekumpulan penyihir yang hobinya ikutan misi bunuh diri? Gak masalah, toh Moana ga akan terlibat dalam setiap misi bodoh itu. Iya...
Moment
2      2     0     
Romance
Rachel Maureen Jovita cewek bar bar nan ramah,cantik dan apa adanya.Bersahabat dengan cowok famous di sekolahnya adalah keberuntungan tersendiri bagi gadis bar bar sepertinya Dean Edward Devine cowok famous dan pintar.Siapa yang tidak mengenal cowok ramah ini,Bersahabat dengan cewek seperti Rachel merupakan ketidak sengajaan yang membuatnya merasa beruntung dan juga menyesal [Maaf jika ...
Kesempatan
153      49     0     
Romance
Bagi Emilia, Alvaro adalah segalanya. Kekasih yang sangat memahaminya, yang ingin ia buat bahagia. Bagi Alvaro, Emilia adalah pasangan terbaiknya. Cewek itu hangat dan tak pernah menghakiminya. Lantas, bagaimana jika kehadiran orang baru dan berbagai peristiwa merenggangkan hubungan mereka? Masih adakah kesempatan bagi keduanya untuk tetap bersama?
Teacher's Love Story
40      18     0     
Romance
"Dia terlihat bahagia ketika sedang bersamaku, tapi ternyata ia memikirkan hal lainnya." "Dia memberi tahu apa yang tidak kuketahui, namun sesungguhnya ia hanya menjalankan kewajibannya." Jika semua orang berkata bahwa Mr. James guru idaman, yeah... Byanca pun berpikir seperti itu. Mr. James, guru yang baru saja menjadi wali kelas Byanca sekaligus guru fisikanya, adalah gu...
Angkara
23      11     0     
Inspirational
Semua orang memanggilnya Angka. Kalkulator berjalan yang benci matematika. Angka. Dibanding berkutat dengan kembaran namanya, dia lebih menyukai frasa. Kahlil Gibran adalah idolanya.
You Are The Reason
16      9     0     
Fan Fiction
Bagiku, dia tak lebih dari seorang gadis dengan penampilan mencolok dan haus akan reputasi. Dia akan melakukan apapun demi membuat namanya melambung tinggi. Dan aku, aku adalah orang paling menderita yang ditugaskan untuk membuat dokumenter tentang dirinya. Dia selalu ingin terlihat cantik dan tampil sempurna dihadapan orang-orang. Dan aku harus membuat semua itu menjadi kenyataan. Belum lagi...