Read More >>"> Truth Or Dare (#7) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Truth Or Dare
MENU
About Us  

Seokjin melangkahkah kakinya perlahan menuju rak buku yang berada tidak jauh dari tempat duduknya.

"Oh.."

"Ada apa?" tanya Hoseok.

"Eopseo, kurasa posisi bukunya yang salah dan membuatnya terjatuh." ucap Seokjin sambil merapikan buku-buku itu kembali ke raknya.

Ketika Seokjin mengambil buku yang berjatuhan di lantai, ia melihat ujung sepatu berada di tepi rak buku.

I found you. Batin Seokjin sambil tersenyum miring, ia tahu siapa yang sebenarnya menjatuhkan buku ini.

"Ah kajja, kelas akan segera dimulai." ajak Seokjin sambil mengambil beberapa buku yang ia pinjam.

Setelah Seokjin dan teman-temannya meninggalkan area perpustakaan, Yerin menghela napas lega. Ia sangat takut jika Seokjin mengetahui dirinya lah yang menjatuhkan buku dan bersembunyi.

Yerin pun memilih untuk kembali ke kelas dan berusaha bersikap tenang. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah menjauhkan Yoongi dari Seokjin yang bisa sewaktu-waktu berbuat sesuai keinginannya sendiri.

To: King of New Year Party
kita harus berbicara. coffee bay, jam 7 malam nanti.

"Aigoo aku tidak tahu mengapa aku menamainya seperti ini." gumam Yerin setelah mengirim pesan kepada Yoongi.

= = =

Sepulang sekolah Cheonsae memutuskan untuk langsung kembali ke rumahnya. Ia memilih menaiki bus karena tidak ingin menunggu ayahnya atau Seokjin menyelesaikan urusan masing-masing.

Ketika sampai di halte, ia melihat seseorang datang menghampirinya. Yoongi, dengan motornya datang dan berhenti dihadapan Cheonsae.

"Oh sunbae!" sapa Cheonsae sambil sedikit menundukkan kepalanya.

"Kau mau pulang?" Yoongi ingin memastikan.

"Ne."

"Biar ku antar."

"Ah aniya, sebentar lagi bus datang, lagipula rumah kita berlawanan arah, itu akan memakan waktu sunbae untuk segera sampai di rumah."

"Gwaenchanha, lagipula aku ingin membicarakan sesuatu."

Setelah penuh dengan pertimbangan, Cheonsae pun memutuskan untuk menyetujui. Jika menuruti hatinya, sejak awal ia tidak menolak tawaran Yoongi.

"Aku harap tidak ada yang membuat rumor tentang kita setelah ini." gumam Cheonsae.

"Sepertinya kau juga mendengar rumor itu." sahut Yoongi setelah menjalankan motornya.

Cheonsae merutuku dirinya sendiri yang dengan bodohnya menyebut kata rumor. Ia menggigit bibir bawahnya, mengantisipasi mulutnya mengucapkan hal diluar logika.

"Syukurlah nama sunbae tidak muncul dalam rumor itu." ucap Cheonsae.

"Geurae, lupakan saja. Masa sekolah tidak akan seru jika tidak muncul berita seperti itu, tetapi itu hanya rumor yang dibuat para makhluk iseng di sekolah. Jangan sampai mengganggu pelajaranmu."

"Ah ne sunbae."

Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu. Mereka fokus pada pikiran masing-masing hingga tiba di depan rumah Cheonsae.

Gerbang rumah itu terbuka. Terlihat mobil hitam terparkir disana.

"Kamsahamnida, sunbae. Aku harap tidak merepotkanmu."

"Kurasa kau jangan memanggilku sunbae setelah ini, aku merasa itu terlalu formal."

"Oppa?" Cheonsae tersipu saat mengucapkan kata itu.

"Lebih baik. Kalau begitu aku pergi, lupakan rumor itu."

"Arasseo. Hati-hati saat dijalan, oppa." ucap Cheonsae sambil melambaikan tangannya kepada Yoongi dan baru masuk setelah motor Yoongi menghilang dari pandangannya.

Ketika memasuki rumah, ia disambut dengan pertanyaan dari Seokjin.

"Mengapa kau tidak menungguku saja jika ternyata aku lebih cepat darimu?"

"Ku kira kau tidak akan secepat ini dengan urusanmu. Appa sudah pulang?"

"Belum. Siapa yang mengantarmu?"

Langkah Cheonsae terhenti. "Sopir bus yang mengantarku, wae?"

Seokjin pun tidak menanggapi dan mengalihkan pandangannya. Sedangkan Cheonsae pun melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga dan menuju kamarnya.

Sesampainya di dalam kamar, Cheonsae pun mengunci pintu dan tidak akan membiarkan siapapun mengganggunya.

"Yoongi oppa.." ucap Cheonsae sambil tersenyum. Ia membayangkan wajah Yoongi ketika sebutan sunbae berubah menjadi oppa.

"Heol wajahku terasa panas." celoteh Cheonsae setelah memegang kedua pipinya. Untuk mengurangi rasa panas itu ia pun memutuskan untuk membersihkan diri, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.

= = =

Pesan yang dikirim oleh Yerin sudah ia terima sekitar 6 jam yang lalu, tetapi rasa penasaran masih menyelimutinya dan mungkin akan hilang setelah ia bertemu dengan Yerin.

Yoongi terus menggaruk area tengkuk dan mengacak rambutnya, pikirannya kacau. Rumor itu mulai berkembang dan sebentar lagi akan memasuki permainan yang kedua, akan tetapi hatinya dilingkupi rasa bersalah.

Meskipun hanya permainan, tetapi bagaimanapun juga ia akan menyakiti perasaan seorang gadis.

Ia mengambil ponselnya yang berada di saku celana dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul 6 lewat 45 menit.

"Aku bisa terlambat." gumam Yoongi yang kemudian langsung mengambil salah satu jaket dan bergegas keluar.

Ketika menuruni tangga, ia dipanggil oleh ayahnya. "Kau ada urusan?" tanya Min Dongin.

"Oh appa, aku harus bertemu temanku, gwaenchanhayo?"

"Jangan pulang lebih dari pukul 10 malam, gerbang sudah dikunci." canda Choi Mina.

"Ah eomma.." rengek Yoongi.

"Pergilah, nikmati masa mudamu selagi bisa." ucap Min Dongin.

"Perkataanmu memperlihatkan usiamu tidak lagi muda." canda Choi Mina.

"Geunde, sebenarnya aku tidak mengerti kapan masa muda itu datang dan pergi, karena forever we are young.."

Perkataan Yoongi membuat kedua orang tuanya tertawa hingga bertepuk tangan karena tingkah putra mereka.

"Jangan sampai jarum pendek itu mengarah ke angka 10 dan eomma belum melihat motormu terparkir dalam garasi."

"Apa kau akan terjaga semalaman untuk menunggu Yoongi kembali?"

"Aniya, aku bisa melihat rekaman cctv di dekat gerbang dan memberi omelan besok pagi."

"Ah terserah eomma saja, aku pamit." Yoongi pun melenggang pergi menuju garasi dan menjalankan motornya menuju coffee bay.

Benar saja, Yerin sudah mematung disana. Yoongi yang baru saja melewati pintu masuk sudah dipantau Yerin dengan tatapan elang.

Sesampainya di meja tempat Yerin berada, ia langsung mendapat omelan. "Ya! Kau terlambat 30 menit dan membiarkanku terlihat seperti seorang tuna-asmara."

"Mwo? Tuna-asmara? Apakah itu kosakata baru?" Yoongi terkekeh sambil menggeser kursi agar tubuhnya bisa duduk.

"Aku tidak mau basa basi, tetapi lebih baik kita memesan sesuatu atau kita akan diusir karena menumpang duduk."

Yoongi pun memanggil salah satu waiter untuk memesan minum dan camilan kecil.

Setelah pesanan mereka tiba, Yerin mulai beralih ke mode serius.

"Apa kau yang dimaksud sunbae yang sedang berkencan dengan putri dari uri gyojang?" (kepala sekolah kita)

"Mworago? Sudah jelas bukan, kau ini sangat aneh."

Yerin pun menggerakkan dua jarinya--memberi kode agar Yoongi lebih mendekat.

"Wae?" tanya Yoongi sambil memajukan wajahnya perlahan.

Setelah dirasa cukup, Yerin pun melentikkan jarinya tepat di dahi mulus Yoongi.

"Ah apha!" pekik Yoongi pelan.

"Beraninya mengatakan jika aku aneh padahal apa yang ku katakan sebelumnya adalah fakta." cibir Yerin.

"Aku memang sunbae yang dimaksud, tetapi aku tidak berkencan dengannya." Yoongi menegaskan.

"Tetapi rumor itu mengatakan kalian berkencan, dasar bodoh."

"Dengar, aku tidak berkencan. Jangan coba-coba untuk mengembangkan rumor ini dan jika sampai namaku tercoreng karena berkencan dengan hoobae, kau yang akan menjadi tersangka utama."

"Aku serius, jangan bermain-main, jika kau tidak ingin berkencan dengannya maka jauhi dia. Aku tidak menjamin kau akan selamat setelah singa yang kau pancing benar-benar terbangun dari tidurnya."

Yoongi berusaha memahami ucapan Yerin. "Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu. Bisa kau jelaskan?"

"Aku tidak memiliki waktu untuk menjelaskan, aku harus pergi."

Yerin pun meninggalkan meja dan membayar semua yang mereka pesan saat itu.

Setelah punggung Yerin menghilang dari pandangan Yoongi, sebuah pesan masuk.

From: Jung Yerin
kau berhutang minuman dan camilan, bayar saat kau sudah berkencan dengan cheonsae>.<

"Apakah aku akan benar-benar berkencan dengan Cheonsae?" gumam Yoongi.

= = =

tbc

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
Similar Tags
A Ghost Diary
123      94     0     
Fantasy
Damar tidak mengerti, apakah ini kutukan atau kesialan yang sedang menimpa hidupnya. Bagaimana tidak, hari-harinya yang memang berantakan menjadi semakin berantakan hanya karena sebuah buku diary. Semua bermula pada suatu hari, Damar mendapat hukuman dari Pak Rizal untuk membersihkan gudang sekolah. Tanpa sengaja, Damar menemukan sebuah buku diary di tumpukkan buku-buku bekas dalam gudang. Haru...
SATU FRASA
428      238     0     
Romance
Ayesha Anugrah bosan dengan kehidupannya yang selalu bergelimang kemewahan. Segala kemudahan baik akademis hingga ia lulus kuliah sampai kerja tak membuatnya bangga diri. Terlebih selentingan kanan kiri yang mengecapnya nepotisme akibat perlakuan khusus di tempat kerja karena ia adalah anak dari Bos Besar Pemilik Yayasan Universitas Rajendra. Ayesha muak, memilih mangkir, keluar zona nyaman dan m...
Sakura di Bulan Juni (Complete)
236      148     0     
Romance
Margareta Auristlela Lisham Aku mencintainya, tapi dia menutup mata dan hatinya untukku.Aku memilih untuk melepaskannya dan menemukan cinta yang baru pada seseorang yang tak pernah beranjak pergi dariku barang hanya sekalipun.Seseorang yang masih saja mau bertahan bersamaku meski kesakitan selalu ku berikan untuknya.Namun kemudian seseorang dimasa laluku datang kembali dan mencipta dilemma di h...
Selfless Love
119      86     0     
Romance
Ajeng menyukai Aland secara diam-diam, meski dia terkenal sebagai sekretaris galak tapi nyatanya bibirnya kaku ketika bicara dengan Aland.
Anything For You
69      51     0     
Humor
Pacar boleh cantik! Tapi kalau nyebelin, suka bikin susah, terus seenaknya! Mana betah coba? Tapi, semua ini Gue lakukan demi dia. Demi gadis yang sangat manis. Gue tahu bersamanya sulit dan mengesalkan, tapi akan lebih menderita lagi jika tidak bersamanya. "Edgar!!! Beliin susu." "Susu apa?' "Susu beruang!" "Tapi, kan kamu alergi susu sayang." &...
The Past or The Future
11      11     0     
Romance
Semuanya karena takdir. Begitu juga dengan Tia. Takdirnya untuk bertemu seorang laki-laki yang akan merubah semua kehidupannya. Dan siapa tahu kalau ternyata takdir benang merahnya bukan hanya sampai di situ. Ia harus dipertemukan oleh seseorang yang membuatnya bimbang. Yang manakah takdir yang telah Tuhan tuliskan untuknya?
Panggil Namaku!
252      165     0     
Action
"Aku tahu sebenarnya dari lubuk hatimu yang paling dalam kau ingin sekali memanggil namaku!" "T-Tapi...jika aku memanggil namamu, kau akan mati..." balas Tia suaranya bergetar hebat. "Kalau begitu aku akan menyumpahimu. Jika kau tidak memanggil namaku dalam waktu 3 detik, aku akan mati!" "Apa?!" "Hoo~ Jadi, 3 detik ya?" gumam Aoba sena...
Persapa : Antara Cinta dan Janji
198      129     0     
Fantasy
Janji adalah hal yang harus ditepati, lebih baik hidup penuh hinaan daripada tidak menepati janji. Itu adalah sumpah seorang persapa. "Aku akan membalaskan dendam keluargaku". Adalah janji yang Aris ucapkan saat mengetahui seluruh keluarganya dibantai oleh keluarga Bangsawan. Tiga tahun berlalu semenjak Aris mengetaui keluarganya dibantai dan saat ini dia berada di akademi persa...
THE HISTORY OF PIPERALES
57      43     0     
Fantasy
Kinan, seorang gadis tujuh belas tahun, terkejut ketika ia melihat gambar aneh pada pergelangan tangan kirinya. Mirip sebuah tato namun lebih menakutkan daripada tato. Ia mencoba menyembunyikan tato itu dari penglihatan kakaknya selama ia mencari tahu asal usul tato itu lewat sahabatnya, Brandon. Penelusurannya itu membuat Kinan bertemu dengan manusia bermuka datar bernama Pradipta. Walaupun begi...
Happiness Is Real
11      11     0     
Short Story
Kumpulan cerita, yang akan memberitahu kalian bahwa kebahagiaan itu nyata.