Read More >>"> Midnight Sky (Satu) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Midnight Sky
MENU
About Us  

"Jadi apa yang kau dapatkan?" ujar suara disebrang sana.

Aku mengangguk dan menjawab. "Dipinggir kota Beffir, Rumah paling kecil dan kumuh di gang Meve. Ada sekelompok orang disana."

"Bagus. Apa yang mereka lakukan?"

"Akan kupasang alat penyadap. Tapi aku arus mengendap-endap masuk."

"Lakukan. Dan ingat, jangan sampai tertangkap."

Suara disebrang sana kemudian hilang. Bukan diputus, hanya saja ia tak berbicara lagi. Mungkin menunggu laporanku yang berikutnya.

Aku berjalan perlahan ke arah rumah itu. Dari jendela luar, aku mengintip. 

Satu, Tiga, Lima, Delapan. Delapan orang duduk bersila dan membuat lingkaran dilantai.

"Kean, aku ralat kembali perkataanku. Ini tidak bisa dibilang rumah. Hanya ada dua ruangan disini. Ruang utama tempat mereka berkumpul dan Kamar mandi." laporku.

"Apa yang mereka lakukan?"

"Ugh, aku tidak bisa memasang alat penyadap. Jika aku memasukannya lewat jendela, mereka akan tau keberadaanku."

"Tempel alat itu dari luar. Mungkin akan terdengar sedikit."

Aku menuruti perkataan Kean. Dan benar saja, percakapan mereka sedikit terdengar.

Racun, Perampokan, Juara nasional, Narkoba, Kemewahan, Harmonis, dan... Midnight Sky?

"Apa yang bisa kau dengar?" 

Aku belum menjawab. Aku terus fokus mendengar percakapan mereka. 

"Kita... jam 12... ayo... Midnight Sky... menunggu..." 

Apa maksudnya? Saat aku tengah sibuk berpikir, mereka berdiri, dan berjalan keluar. Ah, sial! Kenapa mereka keluar disaat-saat seperti ini?! 

"Kean! Mereka keluar, menuju hutan!" seruku lewat voyager, alat telepon di telingaku.

"Ikuti mereka! Jangan sampai kehilangan jejaknya, 15 menit lagi Jean akan kesana." ujar Kean.

Saat aku ingin mengatakan pada Kean tentang hal yang tadi mereka bicarakan, tiba-tiba saja jaringan menjadi error. Terkutuklah kau signal bodoh.

Aku bersembunyi di belakang sebuah pohon besar diantara semak-semak, tak jauh dari lokasi 'mereka' saat ini. Di dalam hutan, mereka membuat lingkaran, dan bergandeng tangan. Di tengah lingkaran mereka terdapat tulisan Midnight Sky yang ditulis dengan kapur putih. Tunggu sebentar, apakah ini sebuah ritual pemujaan kepada setan?

"Kean? Kean, kau bisa mendengarku?" seruku.

Ugh, Kean tidak menjawab! Di tengah hutan seperti ini, tidak mungkin ada sinyal!

Tidak peduli pada Kean, aku mulai mengamati gerak-gerik mereka. Salah satu diantara mereka-yang dari tadi kuperhatikan selalu berbicara-menaruh sebuah lentera tepat di atas tulisan Midnght Sky. 

Sepertinya dialah ketua kelompok ini. batinku.

Tubuh tegap, rambut ikal, hidung mancung, dan bola mata besar. Ditambah kupluk putih, dan jaket tebal coklat. Sudah kucatat semua ciri-ciri pria itu dalam ingatanku. Mungkin saja dia bisa menjadi petunjuk berikutnya mengenai perkumpulan aneh ini.

"Kean, kalau kau dengar, sepertinya ini perkumpulan pemuja setan dan uh, ilmu hitam?" ujarku.

Sepertinya aku benar, mereka mulai menyanyikan berbicara aneh seperti sedang bergumam dengan bahasa asing sambil berputar. Ketika lagu selesai, mereka kembali duduk bersila.

Aku mendekat ke arah mereka, aku ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Pohon dan semak-semak belukar ini sangat membantuku.

Mereka mulai berbicara, sepertinya tentang kisah hidup mereka. Dari yang kudengar, hanya nomer satu, tiga, lima, tujuh dan delapan-yang kuduga sebagai ketua kelompok-yang menarik perhatianku.

Aku mengingat ulang semua yang kudengar. Nomer satu pengedar dan pengguna serta bos mafia, nomer tiga pembunuh bayaran yang handal, nomer lima si pembantai yang tak kalah hebat, nomer delapan yang hidupnya bahagia, dan nomer tujuh yang dari tadi berbicara dengan kata-kata kiasan.

Aku berpikir keras. Nomer tujuh ini sangat menarik perhatianku. Ia menggunakan masker coklat. Sorot matanya tajam, tapi damai. Aku kembali bingung. Mungkinkah sebenarnya dia yang ketua kelompok ini?

Semua orang disini terlihat sangat  mencurigakan. Aku tak bisa mengingat dengan persis semua ciri-ciri dan cerita mereka. 

Mereka terus berbicara sampai pukul tiga pagi. Aku tak bisa mendengar suara mereka dengan jelas, karena hewan-hewan mulai terbangun dan membuat kebisingan.

"Lynn, kau bisa mendengarku?" 

Ah, bagus! aku terhubung kembali dengan Kean. "Ke, aku mencurigai beberapa orang disini."

"Tidakkah mereka semua terlihat mencurigakan?" tanya Kean.

"Ya. Tapi lima orang ini terlihat sangat mencolok. Mereka semua—ah, aku harus pergi!" 

Aku bergegas pergi menjauh ketika 'mereka' bangkit dari duduknya. Sepertinya ritual mereka telah selesai. Bodohnya, aku menginjak ranting. Suaraku cukup menarik perhatian mereka. Slah seorang diantara mereka mengeluarkan pistol dari sakunya. Si nomer empat, polisi gadungan yang sebenarnya adalah anak mafia yang menyamar.

"Mungkin hewan." ujar nomer Tiga.

Si nomer empat menaruh kembali pistol di dalam sakunya. Kemudian mereka berjalan kembali ke arah rumah tempat mereka tadi berkumpul. Sementara aku masih bersembunyi di dalam semak-semak, menahan napas dan suaraku.

"Hampir saja..." 

Keringat masih bercucuran di keningku. Aku takut jikalau mereka tadi berhasil mengetahui keberadaanku. Bisa-bisa, misi ini gagal dan aku hanya tinggal nama.

Aku keluar dari hutan 15 menit setelah mereka keluar. Aku tak melirik ke rumah tempat mereka bertemu tadi, takut jika mereka membaca gerak-gerikku. 

"Kean, Jean dimana?" tanyaku.

"Di perempatan Jln. Vogie."

Aku segera menuju kesana. Sialnya, aku bertemu dengan si nomer empat. Kuharap dia tidak mengenaliku. Aku menunduk, menghindari kontak mata saat berpas-apsan dengannya. Dan bagusnya, ia tidak menyadari keberadaanku.

Seorang gadis yang ku kenali sebagai Jean berasandar pada tiang lampu jalan, mungkin ia menungguku.

"Jean!" panggilku.

Jean menoleh, dan melambaikan tangan padaku. Aku menghampirinya, dan kami langsung masuk kedalam mobil. Melesat menuju markas kami. Di dalam mobil, Jean bertanya padaku.

"Bagiamana? Sukses?"

Aku menghela napas kasar.

"Biarkan aku berpikir dulu, aku akan menjelaskannya nanti."

Jean berdecak pelan. "Kapan?"

"Saat kita tiba disana, dan sedang bersama Kean agar aku tidak perlu mengulangi untuk kedua kalinya."

Jean berdecak lagi. Gadis satu ini memang tidak sabaran. Mungkin karena ia benar-benar penasaran, ia menancapkan gas penuhpada mesin mobil. Beruntung jalanan sedang sepi dan tak ada tanda-tanda adanya polisi. Jika tidak, sudah pasti kami akan ditilang.

Ckiit. Pedal rem diinjak penuh paksa oleh Jean. Tubuhku dan Jean sempat maju beberapa senti karena rem dadakan yang sanagt dipaksakan itu.

"Nah, sampai!" girang Jean seperti tidak ada apa-apa.

"Je! Itu tadi sangat berbahaya, kau tahu?!" bentakku.

"Shh, sudah ayo cepat masuk. Kean pasti sudah menunggu kita dari tadi."

Aku mendengus pelan. Kubuka seat belt ku dan membuka pintu mobil. Membantingnya dengan keras, dan berjalan santai kedalam markas-maksudku rumah.

Jean mencubit lenganku."Kau tahu? Mobilku bisa saja rusak jika kau membantingnya seperti tadi!" 

"Itu bayaran yang setimpal karena kau menyetir secara ugal-ugalan."

Jean yang kesal mendobrak pintu rumah yang dihadiahi jitakkan keras dari Matt.

"Harga pintu itu mahal. Kalau rusak, apa kau mau menggantinya?!" bentak Matt.

"Aw, sakit, Matt!" keluh Jean.

Jean dan Matt kemudian beradu mulut. Kupingku panas mendengarnya. Beruntungnya Kean segera datang dan mengehntikan pertengkaran Jean dan Matt.

"Kalian berdua, hentikan. Tingkah kalian seperti anak yang berebut permen, kalin tahu?" kata Kean.

"Cih." decih Matt.

Bola mata Kean beralih kepadaku. "Lynn, ayo ikut aku. Matt dan Jean, Kalau kalian ingin dengar, maka diamlah dan coba untuk akur."

Aku, Matt, dan Jean mengangguk. Kami mengikuti Kean kearah ruang tamu. Tempat kami biasanya mendiskusikan misi-misi kami. Ah, aku baru ingat. Sebelumnya Matt juga melakukan misi di kota sebelah. Waktu diskusi kami akan panjang, dan akan membosankan pastinya.

"Lynn. Mulai laporanmu." pinta Kean.

Aku menjabarkan semua yang kuingat tentang perkumpulan mereka. Keanehan dan kenjanggalan, semua kupaparkan secara perlahan dan bertahap. Aku usahakan penyampaianku tidak membuat mereka kebingungan agar aku tidak perlu mengulang lagi. 

"Delapan anggota, dan lima diantaranya terlihat mencolok, hm?" kata Matt. Ia memegang dagunya. Tampaknya ia sedang berpikir.

Jean ikut menimpal. "Justru aku lebih tertarik dengan nomer dua. Si gadis cantik itu."

"Kenapa?" tanyaku.

"Yah, kupikir ia berbohong. Dari ceritamu, sepertinya ia tidak bahagia. Ia bilang kalau ia bahagia dengan uang yang melimpah dan pacarnya yang sangat perhatian padanya kan? Justru aku berpikir sebaliknya. Ditambah dengan ciri-cirimu yang mengatakan makeup nya yang pucat dan kantung mata besar. Gadis cantik bahagia mana yang berpenampilan seperti itu?"

Kean tampak mempertimbangkan perkataan Jean kembarannya. "Masuk akal. bagaimana pendapat kalian tentang nomer delapan?" tanyanya.

"Si pria lentera yang Lynn curigai ketua kelompok itu? Ah, kupikir dia tidak terlalu mencolok. Coba pikirkan nomer Tujuh, si pria kiasan." kata Matt.

Aku mengangguk setuju. "Aku lupa bilang, awalnya kupikir si nomer delapan ini adalah ketuanya, tapi saat aku melihat gerak-gerik nomer tujuh, justru aku lebih berpikir bahwa dialah ketuanya."

Kean mengagguk. "Tidakkah kalian berpikir si nomer tujuh ini sangat mencurigakan?"

Matt setuju. "Jangan lupakan si nomer satu. Dia mafia, pengedar, dan pengguna. Ugh, dia tampak menyeramkan." 

"Bagaimana dengan nomer enam?" tanyaku.

"Entahlah. Tampaknya dia bahagia. Mungkin bisa kita abaikan?" tanya Jean.

Kean menggeleng. "Di dunia ini, siapapun bisa menjadi penjahat. Jebakan dunia itu ada dimana-mana. Kau ragu, kau kalah."

Dan kemudian, kami berempat menghela napas kasar. Lelah dengan kedaan dunia yang keras ini.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
102
30      15     0     
Mystery
DI suatu siang yang mendung, nona Soviet duduk meringkuh di sudut ruangan pasien 102 dengan raga bergetar, dan pikiran berkecamuk hebat. Tangisannya rendah, meninggalkan kesan sedih berlarut di balik awan gelap.. Dia menutup rapat-rapat pandangannya dengan menenggelamkan kepalanya di sela kedua lututnya. Ia membenci melihat pemandangan mengerikan di depan kedua bola matanya. Sebuah belati deng...
Somehow 1949
82      28     0     
Fantasy
Selama ini Geo hidup di sekitar orang-orang yang sangat menghormati sejarah. Bahkan ayahnya merupakan seorang ketua RT yang terpandang dan sering terlibat dalam setiap acara perayaan di hari bersejarah. Geo tidak pernah antusias dengan semua perayaan itu. Hingga suatu kali ayahnya menjadi koordinator untuk sebuah perayaan -Serangan Umum dan memaksa Geo untuk ikut terlibat. Tak sanggup lagi, G...
Kare To Kanojo
75      16     0     
Romance
Moza tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah menginjak Negara Matahari ini. Bertemu dengan banyak orang, membuatnya mulai mau berpikir lebih dewasa dan menerima keadaan. Perbedaan budaya dan bahasa menjadi tantangan tersendiri bagi Moza. Apalagi dia harus dihadapkan dengan perselisihan antara teman sebangsa, dan juga cinta yang tiba-tiba bersemayam di hatinya. DI tengah-tengah perjua...
ARABICCA
33      18     0     
Romance
Arabicca, seorang gadis penderita schizoid personality disorder. Selalu menghindari aktivitas sosial, menjauhi interaksi dengan orang lain, tertutup dan mengucilkan diri, terpaksa harus dimasukkan ke sekolah formal oleh sang Ayah agar dia terbiasa dengan aktivitas sosial dan berinteraksi dengan orang lain. Hal tersebut semata-mata agar Arabicca sembuh dari gangguan yang di deritanya. Semenj...
Senja (Ceritamu, Milikmu)
37      30     0     
Romance
Semuanya telah sirna, begitu mudah untuk terlupakan. Namun, rasa itu tak pernah hilang hingga saat ini. Walaupun dayana berusaha untuk membuka hatinya, semuanya tak sama saat dia bersama dito. Hingga suatu hari dayana dipertemukan kembali dengan dito. Dayana sangat merindukan dito hingga air matanya menetes tak berhenti. Dayana selalu berpikir Semua ini adalah pelajaran, segalanya tak ada yang ta...
unREDAMANCY
69      28     0     
Romance
Bagi Ran, Dai adalah semestanya. Ran menyukai Dai. Ran ingin Dai tahu. Simple. Celakanya, waktu tak pernah berpihak pada Ran. Ini membingungkan. Ran tak pernah berpikir akan mengalami cinta sendirian begini. Semacam ingin bersama tapi dianya nggak cinta. Semacam ingin memaksa tapi nggak punya kuasa. Semacam terluka tapi ingin melihatnya bahagia. Ini yang namanya bunuh dir...
Suara Kala
61      40     0     
Fantasy
"Kamu akan meninggal 30 hari lagi!" Anggap saja Ardy tipe cowok masokis karena menikmati hidupnya yang buruk. Pembulian secara verbal di sekolah, hidup tanpa afeksi dari orang tua, hingga pertengkaran yang selalu menyeret ketidak bergunaannya sebagai seorang anak. Untunglah ada Kana yang yang masih peduli padanya, meski cewek itu lebih sering marah-marah ketimbang menghibur. Da...
Starlight and Integra
88      21     0     
Fantasy
Siapakah sebenarnya diriku? Apa saja yang sebenarnya disembunyikan oleh orang-orang di sekitarku? Dimana kekeasihku Revan? Mungkinkah dia benar-benar telah tewas saat peristiwa pelantikan prajurit itu? Atau mungkinkah dia ditangkap oleh Kerajaan Integra, musuh kerajaanku? (Roselia Hope, warga Kerajaan Starlight)
Shut Up, I'm a Princess
13      7     0     
Romance
Sesuai namanya, Putri hidup seperti seorang Putri. Sempurna adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupan Putri. Hidup bergelimang harta, pacar ganteng luar biasa, dan hangout bareng teman sosialita. Sayangnya Putri tidak punya perangai yang baik. Seseorang harus mengajarinya tata krama dan bagaimana cara untuk tidak menyakiti orang lain. Hanya ada satu orang yang bisa melakukannya...
Akai Ito (Complete)
34      17     0     
Romance
Apakah kalian percaya takdir? tanya Raka. Dua gadis kecil di sampingnya hanya terbengong mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Raka. Seorang gadis kecil dengan rambut sebahu dan pita kecil yang menghiasi sisi kanan rambutnya itupun menjawab. Aku percaya Raka. Aku percaya bahwa takdir itu ada sama dengan bagaimana aku percaya bahwa Allah itu ada. Suatu saat nanti jika kita bertiga nant...