Read More >>"> Black Lady the Violinist (Kapitel v) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Black Lady the Violinist
MENU
About Us  

Detik-detik terakhir pendidikan di sekolah dasar; dua sahabat ini sudah beranjak ke kelas 6 SD. Kenan tentu dengan kejeniusannya dalam pelajaran. Ia di sana, menetap di keluarga Maganda.

“Ayo! Nanti dia ngomel lagi! Yah, syukur aku mah gak ngerti. Jadi, siap-siap saja ya.” Lena menakut-nakuti Kenan. Kenan menutup telinganya dan berlari.

Sejak ada babysitter datang ke rumah Lena yang di jidatnya ada tulisan ‘music-killer, Kenan yang malang belajar biola jadi kucing-kucingan. Apalagi kalau dia sudah nyerocos bilingnual. Lena hanya asyik mondar-mandir. Kalau dia sudah dengar si mahkluk ngoceh tak karuan, dia malah cekikikan.

Ms. Kenan! You are late again!” omel si mahkluk di toko musik Ritsena. Kenan memelototi Rose. “Ada word untuk your self correction, Miss!?”

Enough! If you continue your useless words, I will stop today lesson,” sahut Kenan sambil mendecakkan lidahnya. Mood-nya rusak.

Rose diam sebentar lalu tertawa. “Ok, Miss. You are challenging me.” Kenan melongo. “Hmm, Saya pikir, ketika saya lihat your face, Anda mirip the sweetest one yang saya kenal. Maafkan saya, Miss, if I have made you mad.”

Habis marah tertawa? Dasar cacat mental, pikir Kenan jengkel.

“Eh, barusan dia ngomong apa, Ken? Kayaknya dia ngomel-ngomel tuh,” ejek Lena dari belakang. Suaranya cukup keras untuk mengejek Kenan.

Kuhajar anak itu nanti.

“Jadi, we would be lunch together. I buat a special meal to you,” sambung Rose. Kenan mengangguk malas untuk menurutinya.

 

Sajian makan siang mereka adalah sandwich dan assam tea. Ada juga kue-kue asing terhampar di sana. Untuk memperbaiki mood, Kenan coba semuanya.

Tumben baik. Biasanya bisanya marah-marah saja.

“Hei, Ken. Kok loe bisa sih ngerti dia ngomong apa? Nyerocos seribu kata perdetik gitu, acak-acakan lagi,” bisik Ryan membuat Kenan kaget.

“Ah, itu. Entahlah. Aku paham begitu saja,” jawab Kenan enteng.

“Heh!? Gila! Gue gak percaya! Gue aja gak ngerti dia ngomong apa! Sudah kaya dengerin pelajaran listening TOEFL tahu gak!” Teriakan berbisik Ryan membuat sendok yang Kenan pegang sampai terpental.

“Heh! Jangan buat orang jantungan gitu! Ya, kan kubilang aku tak tahu. Mungkin karena sudah biasa bicara sama dia di rumah. Mungkin.”

“Bener-bener dah gue sama sekali gak ngerti jalan pikiran orang jenius.”

“Heh, hubungannya apa? Bukannya harusnya kamu bisa lancar bahasa Inggris juga? Ayahmu kan asli orang sana!?” teriak Kenan mulai jengkel lagi.

“Eh. Iya? Oh iya ya!” Ryan pun malah ketawa.

“Gak usah pake ketawa segala deh, sedeng.”

Tiba-tiba Lena menyambung pembicaraan tak berguna itu dengan nada menggurui. “Yah, dia kan sering belajar bahasa Inggris, Ry. Wajarlah lancar. Sekali-kali gimana kalau kamu niru dia? Toh, kalian sama-sama blasteran, yah meski gak keliatan sih tapi manfaatin dong! Males banget sih belajar.”

“Hoho. Tumben yah loe pinter nasehatin gue,” sindir Ryan.

“Kamu sendiri gimana, Len? Belajar saja numpang sama aku,” timpal Kenan ikut menyindir Lena. Tawa Ryan meledak.

“Iih. Jahat ah kamu, Ken,” ungkap Lena lirih merasa kalah.

Setelah Lena skakmat, ketiganya pun melanjutkan acara makan aneh bin ajaib itu dalam diam.

“Eh, nanti papa gue datang. Loe selesai latihan jam berapa?”

“Jam berapa saja. Memangnya kenapa?”

“Papa gue pengen lihat loe latihan,” jawab Ryan yang tumben serius.

“Iya sih. Lagian, kenapa paman gak kasih kamu les juga? Kamu kan penggangguran,” ledek Kenan.

 

Lalu dimulai lagi latihan membosankannya Kenan. Sambil menitikan air mata ia hanya bisa positif thinking kalau sebentar lagi pamannya mau datang. Dari awal Kenan sudah berencana untuk membiarkan mereka ngobrol lalu ia kabur.

Setelah dua jam menunggu, latihan mengerikan itu tetap berlanjut. “Eh, mana ayahmu!?” teriak Kenan keki. Ryan menggeleng santai.

Klining, klining. Bunyi pintu toko yang khas itu akhirnya bernyanyi.

“Halo anak-anak!” sambut paman Anderson dari arah pintu depan.

“Lama!!” teriak Kenan bersama Ryan berbarengan.

Paman Anderson tertawa. “Ahahaha. Kalian ini kompak yah kalau urusan kaya gitu. Nah, gimana latihan kamu, Ke –“

Kata-kata paman terputus begitu melihat si guru killer.

Sir? Mr. Anderson?? Apa itu Anda??” Rose terkejut melihat muka paman Anderson.

“Ah, Rose? Benar itu kamu?? Why are you coincidently here?

Sure, to private lesson to–“ Tiba-tiba kata Rose terputus. “Wait, hmm, Sir? Apa Anda yang meminta tempat Private Lesson Master kami untuk teach violin to Ms. Ken?

So, you are teaching now? Where are you up till now?

 “Sure, Sir. I have been waiting to meet you.” Mata Rose berkaca-kaca.

Paman Anderson bingung. “Me? You become an instructor just to find me?

Tangis Rose hampir pecah. “I decided to go after Mrs. Ritsena passed away dan Mr. Azmi has married with someone. Saya hanya still remember the enticing of Ms. Ace sleepy face. I miss her.” Rose tertawa histeris. “Dimana dia? Could I take a look at her face now?” pinta Rose dengan nada memohon, membuat Kenan iba.

Ms. Ace? Siapa itu Ms. Ace?

“Oh, Rose? Do not you recognize her face?” Paman Anderson balik bertanya. “She has already depleted her time with you.”

Pandangan mata paman Anderson menunjuk Kenan. “Ms. Ken!?”

Kenan memicingkan matanya. Ia sedang berpikir meskipun sebenarnya ia sendiri jijik untuk berpikir. Mengapa? Karena ia jijik kalau yang ia pikirkan menjadi kenyataan bahwa yang Rose maksudkan ialah… ‘Ace’ dari kata ‘Grace’.

Nah, kan. Aku yakin ada yang tidak beres dengan keluarga Challysto ini.

 

 

“Yah, begitulah Ken,” selesai paman Anderson menjelaskan panjang lebar.

Ken menggaruk-garuk kepala. Terlalu nyata kalau keluarga ini memang aneh seperti di pikirannya. Cerita paman Anderson itu cocok jadi lawakan daripada sejarah keluarga besar. Ya, itu candaan terbodoh yang pernah ada.

“Selamat ya reunian keluarga!” sorak Lena. Kena menyeringai.

“Haduh, keluarga gue tambah ramai sekarang!!” Tawa Ryan yang membludak itu menurut Kenan jelas-jelas meledek.

Rose, dari cerita paman Anderson, adalah pelayan keluarga Challysto dulu yang memilih ikut dengan Ritsena dan suaminya. Mau bilang senang itu jelas palsu. Mau sebal juga dia tak punya hak. Oleh karena ia sendiri adalah anak hilang yang baru ditemukan, diam itu emas.

Ms. Ken, mengapa Anda did not tell me about your full name? Ketika Anda still baby, people selalu called you Ms. Ace.” Rose mulai nyaring bertanya.

Astaga, tanya saja sama tembok sana. Sudah setahun tinggal sama-sama tapi masih tak tahu nama lengkapku. Tiap hari kerjanya cuma bawel-bawel tak jelas, batin Kenan. Lagipula, orang bodoh mana yang memanggil bayi dengan nama ‘Ace’? Memangnya dia calon pemain rugby??

“Paman, silahkan lanjut cengkrama dengan dia.” Kenan berencana kabur.

“Mau kemana kamu, hah?” Rencana Kenan ketahuan. “Oh ya, kamu selalu ngobrol sama dia di rumah temanmu? Bukannya bahasa Rose acak-acakan yah?”

“Ampun lah, Paman, bukannya acak-acakan lagi. Hancur! Makanya, aku pilih diam… Bicara saja belum bener.”

“Jadi, komunikasi di rumah temanmu gimana? Bukannya teman kamu dan ibunya itu gak bisa bahasa Inggris?” tanya paman Anderson masih penasaran.

“Aku translator idaman mereka…”

Paman Anderson tersenyum–bangga campur geli. “Wah, cerdas kamu yah. Padahal baru kelas 6 SD dan dari lahir kamu kan tinggal di sini. Ya, baguslah. Ryan saja gak bisa selancar kamu. Kosakata saja masih acak-acakan,” sindir paman sama anaknya sendiri.

“Makanya sekarang giliran paman menikmati waktu-waktu sama dia, ok?”

Tawa Paman Anderson menggelegar. “Tapi nanti kalian ke rumah ya? Ajak temanmu itu juga. Sekali-kali dinner keluarga.”

“Aku tanya tante dulu ya, Paman,” jawab Ken sambil kabur ke luar lewat pintu belakang yang di sana terdapat taman kecil pribadi milik Pak James.

Begitu menutup pintu, Kenan menghela nafas lega. Ia celingak-celinguk di taman itu, berusaha berlama-lama menikmati kebebasan lepas dari Rose.

Keluarga ini melawak saja kerjanya. Masa karena satu orang–ibu kandungku, keluarga Challysto pecah begini. Entah ayah yang sengaja tidak pernah bilang apa-apa soal keluarga ibu juga soal surat hibah itu. Entah makhluk asal planet Mars bernama Rose ini yang hilang di Indonesia setelah pergi ketika ibu meninggal tapi bisa ketemu lagi. Ajaib kan. Ternyata ayah sebelum masuk rumah sakit mencoba menyembunyikan surat itu dari ibu tiriku, sementara Rose sengaja mencari tempat les musik dengan harapan bisa bertemu keluarga Challysto lagi... di INDONESIA.

Kenan berhenti berjalan-jalan dan duduk di kursi yang sejuk di bawah kanopi. Ia memejamkan mata, berusaha memperbaiki mood-nya.

Tapi ya sudahlah… toh aku sudah lupa dengan yang namanya keluarga. Mungkin dari kejadian ini aku bisa sedikit gembira punya keluarga baru yang kocak luar biasa. Mungkin juga, memang jalannya Tuhan untuk aku akhirnya bertemu mereka melalui terusirnya aku dari rumah ayah? Aku tak paham soal itu.

 “Ngapain kau di sini?” tanya Lena menutup renungan Kenan. “Melamun?”

“Biasanya sok keren tapi ternyata bisa bengong juga ya?” tambah Ryan.

Dahi Kenan berkerut. “Memangnya kalian bisa baca pikiran orang? Lagipula, aku tak pernah sok keren.”

“Habis kabur melamun.” Lena menghela nafas. “Padahal dari kecil ngomong biasa saja susah. Diajak ngobrol biasa sampai hari ini juga masih susah. Gaya bahasamu itu siapa yang ngajarin sebenarnya? Jelas banget sok keren, kan?”

Dahi Kenan mengkerut. “Kenapa sih?” tanya Lena terus.

“Iya, apa?” tanya Ryan memaksa. “Soal Rose? Gangguannya parah ya?”

Kenan merasa kalah. Akhirnya ia buka mulut untuk cerita. “Aku cuma senang punya keluarga lagi. Aku rasanya sudah lupa keluarga itu seperti apa.”

Mata Ryan mendelik. Meskipun nada suara Kenan terdengar datar, ia sadar kalau itu perasaan yang lama dipendam sepupunya. Ia kemudian menepuk keras pundak Kenan. “Challysto keren kan?” goda Ryan. Ia nyengir. “Keluargaku keren kan?” Lena dan Kenan pun ikutan nyengir. Ryan lalu tersenyum lembut. “Keluarga kita keren kan?”

Kita…? Mendengar pertanyaan terakhir hati Kenan serasa remuk.

Ryan cekikian. “Tapi,” sela Kenan, “kadang-kadang aku berpikir kalau aku tak pantas ada di sana. Siapa aku memangnya? Cuma anak hilang.”

Lena menyahut, “kupikir harga dirimu tinggi banget. Tumben merendah?”

 “Challysto…” Kenan mulai jujur, “itu lebih dari segala mimpiku. Bagaimana caranya anak miskin kelas 6 SD bisa langsung menerima bahwa keluarga kaya yang berpengaruh bagi jalannya dunia hiburan dan seni mendunia juga namanya disanjung banyak orang itu ternyata berbagi darah denganku? Aku sadar aku tak pantas ada di sana kalau saja ini bukan suatu kebetulan belaka –“

“Kami manusia, bukan berlian yang dipuja-puja,” tanggap Ryan singkat. “Kami hanya diberi talenta dari Tuhan untuk bermain musik. Lagipula, kau anggap kami juga barang berhala seperti orang-orang itu, hah?” Matanya melotot.

Ryan marah. Dia marah? Kenan mengerutkan alis, sedikit takut. “A, aku hanya beri tahu apa yang kurasakan saja terhadap kalian...”

“Kalian? Jadi, kau pikir kami raja sementara kau hanya kaum proletar yang bisa menontoni kami dari jauh?? Kau merendahkan diri dan menggangap kami ada di atas awan, tak terjangkau oleh jari-jarimu!? Lihat, kami di depan mukamu, Ken! Kau itu bagian dari kami!! Darah yang sama!!” ucap Ryan marah.

Tangan Kenan menutupi telinganya. “Cukup, Ryan!” jerit Kenan.

Lena ngeri melihat Ryan dapat berkata kejam pada sepupunya sendiri. “Ryan, kami kan masih SD! Jangan semarah itu kalau Kenan masih minder dan takut!! Bicara di mulut mudah kalau bukan kau yang jadi dia!!”

“Lantas maumu apa, hah?” tanya Ryan tidak mengacuhkan Lena.

Kenan diam sebentar, menenangkan emosinya yang tidak stabil lalu akhirnya berdiri. “Aku tidak bilang begitu. Aku juga tidak minta kau mengerti perasaanku. Ya, kau bukan aku.” Kenan menoleh pada Ryan dengan keki. “Aku hanya tak mau muncul tiba-tiba di permukaan dengan nama Challysto yang wow itu. Aku lahir bukan sebagai penerus jejak Ritsena, ayahmu, Challysto, atau siapapun juga tapi sebagai diriku sendiri dengan musikku sendiri!!”

“Lalu? Kami mau kau apakan?” tantang Ryan.

“Apanya?”

“Pura-pura tidak tahu lalu kau balik lagi jadi anak kampung?"

Kenan menyeringai. “Kasar sekali ya.” Alis Ryan terangkat. “Aku mau jalan pakai kakiku sendiri. Ya, aku bersyukur jadi bagian dari keluarga ini tapi meskipun tawarannya enak, tujuanku bukan membuat Challysto membawaku ke Wina. Kalian cukup jadi patokan untuk aku melampaui nama itu dengan tanganku sendiri. Aku akan dikenal sebagai violinist Kenan Grace, bukan Challysto.”

Ryan nyengir. “Hmm. Itu baru benar harga diri tinggi seperti Lena bilang.”

Mulut Kenan membulat. “Hah? Kau ini aneh yah. Tadi kau marah, memaki-makiku tapi sekarang malah memuji? Yah kalau itu memang pujian.”

“Masa? Aku hanya ingin tahu sedikit isi hatimu saja. Melihat kau latihan dengan Rose selama ini, aku tidak lihat lagi keinginan membara seperti dulu.”

Kenan merasa terpukul. Kata-kata Ryan yang menusuk menyadarkan Kenan seketika akan perubahan itu. Ketika diperkenalkan oleh nasib dengan keluarga barunya, violin pun hanya jadi kewajiban. Ia cuma tertuntut untuk berkembang. Bahkan Ryan lebih dulu menyadarinya dari pada Kenan sendiri.

 “Yah. Thanks my bold brother. Kadang-kadang ucapanmu bagus juga.”

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Renjana: Part of the Love Series
3      3     0     
Romance
Walau kamu tak seindah senja yang selalu kutunggu, dan tidak juga seindah matahari terbit yang selalu ku damba. Namun hangatnya percakapan singkat yang kamu buat begitu menyenangkan bila kuingat. Kini, tak perlu kamu mengetuk pintu untuk masuk dan menjadi bagian dari hidupku. Karena menit demi menit yang aku lewati ada kamu dalam kedua retinaku.
Konstelasi
19      10     0     
Fantasy
Aku takut hanya pada dua hal. Kehidupan dan Kematian.
Stuck In Memories
93      40     0     
Romance
Cinta tidak akan menjanjikanmu untuk mampu hidup bersama. Tapi dengan mencintai kau akan mengerti alasan untuk menghidupi satu sama lain.
When Heartbreak
34      11     0     
Romance
Sebuah rasa dariku. Yang tak pernah hilang untukmu. Menyatu dengan jiwa dan imajinasiku. Ah, imajinasi. Aku menyukainya. Karenanya aku akan selalu bisa bersamamu kapanpun aku mau. Teruntukmu sahabat kecilku. Yang aku harap menjadi sahabat hidupku.
THE WAY FOR MY LOVE
4      4     0     
Romance
TERSESAT (DILEMA)
83      24     0     
Mystery
Cerita TERSESAT ( DILEMA ) ini ada juga di situs Storial.co, lho. Sedang diikutkan dalam kompetisistorialmei19, nulissukasuka, ceritainaja. Isi Sinopsis dan beberapa Episode di dalamnya sudah direvisi ulang agar lebih berbeda dengan isi sebelumnya. Bagi yang penasaran, yuk ikuti di link ini: https://www.storial.co/book/tersesat-dilema/ Ditunggu ulasan, saran, masukan, dan kritik kalian di s...
Antara Jarak Dan Waktu
106      5     0     
Romance
Meski antara jarak dan waktu yang telah memisahkan kita namun hati ini selalu menyatu.Kekuatan cinta mampu mengalahkan segalanya.Miyomi bersyukur selamat dari maut atas pembunuhan sang mantan yang gila.Meskipun Zea dan Miyomi 8 tahun menghilang terpisah namun kekuatan cinta sejati yang akan mempertemukan dan mempersatukan mereka kembali.Antara Jarak Dan Waktu biarkan bicara dalam bisu.
Begitulah Cinta?
175      60     0     
Romance
Majid Syahputra adalah seorang pelajar SMA yang baru berkenalan dengan sebuah kata, yakni CINTA. Dia baru akan menjabat betapa hangatnya, betapa merdu suaranya dan betapa panasnya api cemburu. Namun, waktu yang singkat itu mengenalkan pula betapa rapuhnya CINTA ketika PATAH HATI menderu. Seakan-akan dunia hanya tanah gersang tanpa ada pohon yang meneduhkan. Bagaimana dia menempuh hari-harinya dar...
Dua Sisi
36      17     0     
Romance
Terkadang melihat dari segala sisi itu penting, karena jika hanya melihat dari satu sisi bisa saja timbul salah paham. Seperti mereka. Mereka memilih saling menyakiti satu sama lain. -Dua Sisi- "Ketika cinta dilihat dari dua sisi berbeda"
Do You Want To Kill Me?
49      16     0     
Romance
Semesta tidak henti-hentinya berubah, berkembang, dan tumbuh. Dia terus melebarkan tubuh. Tidak peduli dengan cercaan dan terus bersikukuh. Hingga akhirnya dia akan menjadi rapuh. Apakah semesta itu Abadi? Sebuah pertanyaan kecil yang sering terlintas di benak mahluk berumur pendek seperti kita. Pertanyaan yang bagaikan teka-teki tak terpecahkan terus menghantui setiap generasi. Kita...