Ayu membuka matanya dan menghela nafas lega. Ia mengusap dadanya pelan. “Gara-gara Farhan!”
“Eh? Kok jadi salahin gue?”
“Kalo aja Farhan gak nyebelin pasti Ayu gak bakalan teriak tadi di gor mana dia liatin Ayu. Malu-maluin aja!” Wajah Ayu sudah berubah cemberut. Ia segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam dan meninggalkan aku sendiri di luar.
Dia yang teriak kenapa jadi gue yang di salahin?
Aku menggedikkan bahu dan memutari mobil untuk kemudian masuk ke dalam mobil dan melajukannya keluar dari area sekolah.
Sepanjang perjalan pulang Ayu tidak membuka mulutnya. Biasanya ia selalu saja mengoceh tanpa henti di dalam mobil bahkan suara radio sering kali tidak terdengar dan dikalahkan oleh suaranya yang melebihi apapun itu.
Namun kali ini suara radio bisa mengalahkannya. Dari radio mobil ini tidak sunyi sepenuhnya. Jujur saja selama aku mengenal Ayu, aku jadi tidak terbiasa dengan kesunyian.
“Lo sebegitu fanatiknya sama si kaca mata?” Aku membelokkan stir mobir mengarahkan mobil memasuki kompleks perumahan kami.
“Ayu beda kali sama semua penggemar kak Aldi,” Jawab Ayu cepat, seperti dugaanku.
“Emangnya dia punya penggemar?”
“Ya…” Ayu mengusap lehernya. “Ya, enggak tahu juga.”
Aku terkekeh mendengar pengakuan darinya. Aku memasukkan mobil ke dalam pekarang rumah Ayu yang kebetulan terbuka, dan membuatku heran.
“Tapi siapa sih yang gak suka sama kak Aldi. Dia itu jago olahraga, aktif di ekstrakulikuler, terus baik di mata guru,” Lanjut Ayu sambil keluar dari mobil.
Aku memakai ranselku dan keluar dari mobil. “Tapi yang gue liat dari dia itu orangnya ngebosenin. Keliatan dari cara ngajar dia ke adik kelas yang monoton dan kalo gue yang dia ajarin udah nguap gue tiap detik.”
“Ish! Kak Aldi tadi itu serius ngajarnya bukan ngebosenin,” Kekeuh Ayu.
“Iyalah terserah lo. Susah ngomong sama yang lagi jatuh hati mah.”
“Siapa yang lagi jatuh hati?” Tanya seseorang dari ambang pintu rumah Ayu.
Aku menatap ke arahnya dan tertegun melihat sosok yang sudah dua bulan ini tidak menampakkan dirinya. Orang itu melangkahkan kakinya mendekati kami. Ia berjalan dengan angkuhnya.
“Ayu masuk,” Perintah itu keluar dari bibir seseorang yang kini sedang menatap ke arahku.
Ayu melirikku sekilas sebelum ia melangkah masuk ke dalam rumah. Aku masih bergeming di tempat. Menatap pria itu. Pria itu tersenyum miring walaupun sedikit terlihat samar oleh mataku sebelum ia membalikkan badannya kembali masuk ke dalam rumah yang sama dengan yang Ayu masuki.
Aku menatap punggung itu sedikit geram. Daripada menghabiskan waktu di sini dengan memakinya tiada henti lebih baik aku kembali ke dalam rumah sebelum aku menjadi tua karena diam di sana hanya akan membuat amarahku terus berlanjut. Dengan langkah lebar aku menyebrangi jalanan dan masuk ke dalam rumah.
~
Dengan teliti aku memasukkan jarum jahit. Di pangkuanku sudah ada boneka beruang usang yang belakangan aku takuti. Aku menjahit bagian yang sobek dari boneka itu. Sebenarnya aku tidak terlalu mahir menjahit. Karena aku tidak pernah memiliki boneka. Tapi melihat gadis-yang kini tengah memerhatikanku memperbaiki bonekanya-memainkan boneka usang yang sobek ini membuatku prihatin. Apakah tak ada boneka lagi hingga ia memainkan boneka yang sudah usang ini.
“Aush!” Tak sengaja jariku terkena ujung jarum saat akan mengambilnya.
Aku menyingkirkan boneka itu dan melihat jariku yang sudah mulai berdarah. Aku benci darah dan oleh karena itu sekarang aku menangis. Aku menangis sambil memegang jariku yang terkena tusukan jarum.
Namun tiba-tiba ada yang meraih tanganku. Ia menyapukan tisu yang ada di tangannya, menghapus darah yang masih saja keluar. Setelah melihat tidak ada lagi darah yang keluar gadis itu menyedot lukaku dengan mulutnya. Itu malah membuatku menangis semakin kencang karena dia malah menyedot darahku kembali, belum lagi air liurnya yang menempel di jariku. Aku curiga jika dia ini sebenarnya anak vampir bukan tante kunti.
Dia menatapku dan membersihkan luka itu kembali dengan tisu yang baru. Aku masih saja menangis walaupun darahnya sudah tidak keluar lagi. Ia mendekat padaku dan sedetik kemudian
Cup.
Ia mengecup keningku. Seketika aku berhenti menangis dan menatap ke arahnya yang kini sedang menghapus air mataku dengan tisu di tangannya. “Kata kamu bunda suka nyium kening kamu lagi nangis, kan?”
Suaranya. Setelah sekian lama aku baru mendengar suaranya. Suara yang begitu lembut di telingaku. Suara yang melumpuhkan tubuhku hingga sulit untuk digerakan. Apakah suara semua vampir seindah itu?
~
Aku menutup semua buku paket yang ada di mejaku dan menyimpannya ke rak buku. Membereskan buku-buku yang hendak aku bawa besok ke sekolah dan mengecek kembali apakah ada tugas yang belum aku kerjakan. Setelah selesai membereskan perlengkapan sekolah untuk besok aku bangkit untuk tidur karena jam di kamarku sudah menunjuk angka sepuluh dimana itu adalah jam tidurku.
Namun sebelum aku membaringkan tubuhku di atas kasur aku mendekat ke arah jendela. Menyibakkan tirai dan menatap ke sebrang. Kamar itu masih menyala. Dari bayangan yang aku lihat, Ayu masih sibuk mengerjakan tugasnya. Aku tersenyum mengingat Ayu lebih sering tidur dari pada memerhatikan pelajaran di kelas.
Aku meraih ponsel dan mengiriminya pesan. Selang beberapa detik Ayu sudah membalasnya. Kuketikkan kembali sebuah pesan untuknya.
Cepet kerjain tugas lo. Gak usah nunggu pesan gue. Nanti lo rindu lagi.
Aku tersenyum dan menutup tirai. Aku berjalan menuju kasur. Dan sebuah pesan kembali masuk kembali.
Pede banget Ayu bakalan rinduin Farhan.
Udah sana kerjain tugas lo malah chating sama gue.
Eh, yang pertama ngechat kan Farhan bukan Ayu
Ya udah sekarang kerjain tugasnya.
Aku meletakkan ponselku di atas nakas dan membaringkan tubuhku. Mataku belum mau tertutup. Aku menatap langit-langit kamarku. Di sana ada banyak lukisan yang abstrak menurutku. Aku masih ingat saat aku mengecatnya bersama Ayu. Dan lebih banyak coretan Ayu dibanding lukisanku di atas sana.
Aku menutup mataku. Namun bayangan Ayu selalu ada di balik kelopak mataku. Seperti sudah terlukis sebelumya. Gambaran Ayu selalu saja muncul disetiap kali aku menutupkan mata. Baik fana ataupun nyata kehadiran Ayu selalu membuatku tersenyum gila seperti sekarang ini.
Aku selalu menyukainya. Apalagi bagian dimana Ayu menunjukan kepolosannya. Dan sepertinya tidak ada alasan untuk seseorang membenci Ayu karena kepolosannya yang membuat orang akan selalu percaya kepadanya.
Ayu adalah orang yang membuatku mengenali warna hitam dan putih. Membuatku jauh lebih dewasa dari hari ke hari. Jiwa yang membuatku selalu terpanggil untuk melindunginya. Jiwa yang membuatku selalu ingin di sampingnya. Jiwa yang selalu membuatku mampu merasakan beragam rasa. Jiwa yang selalu mendatangkan kata-kata hiperbola untuknya.
Kami tidak pernah menyebutkan status kami ini apa. Bahkan kami tidak pernah menyebut kata teman pada siapapun yang bertanya mengenai kami. Bukan maksud kami menggantungkan status, hanya saja tidak ada kata yang bisa mewakili kedekatan kami ini.
Tapi, kehadirannya di hatiku bisa aku panggil teman dekat? Entahlah.
~
TBC
BY L U T H F I T A
Delilah
218
145
0
Romance
Delilah Sharma Zabine, gadis cantik berkerudung yang begitu menyukai bermain alat musik gitar dan memiliki suara yang indah nan merdu. Delilah memiliki teman sehidup tak semati Fabian Putra Geovan, laki-laki berkulit hitam manis yang humoris dan begitu menyayangi Delilah layaknya Kakak dan Adik kecilnya.
Delilah mempunyai masa lalu yang menyakitkan dan pada akhirnya membuat Ia trauma akan ses...
Adelia's Memory
11
11
0
Short Story
mengingat sesuatu tentunya ada yang buruk dan ada yang indah, sama, keduanya sulit untuk dilupakan tentunya mudah untuk diingat, jangankan diingat, terkadang ingatan-ingatan itu datang sendiri, bermain di kepala, di sela-sela pikirian. itulah yang Adel rasakan... apa yang ada di ingatan Adel?
Young Marriage Survivor
70
52
0
Romance
Di umurnya yang ke sembilan belas tahun, Galih memantapkan diri untuk menikahi kekasihnya. Setelah memikirkan berbagai pertimbangan, Galih merasa ia tidak bisa menjalani masa pacaran lebih lama lagi. Pilihannya hanya ada dua, halalkan atau lepaskan.
Kia, kekasih Galih, lebih memilih untuk menikah dengan Galih daripada putus hubungan dari cowok itu. Meskipun itu berarti Kia akan menikah tepat s...
The Secret Of Donuts
38
35
0
Fantasy
Masa lalu tidak dapat dibuang begitu saja. Walau, beberapa di antara kita berkata waktu akan menghapusnya, tapi yakinkah semuanya benar-benar terhapus?
Begitu juga dengan cinta Lan-lan akan kue donat kesukaannya. Ketika Peter membawakan satu kue donat, Lan-lan tidak mampu lagi menahan larangan gila untuk tidak pernah mencicipi donat selamanya. Dengan penuh kerinduan, Lan-lan melahap lembut kue t...
AILEEN
187
123
0
Romance
Tentang Fredella Aileen Calya
Tentang Yizreel Navvaro
Tentang kisah mereka di masa SMA
Love in the Past
314
259
4
Short Story
Ketika perasaan itu muncul kembali, ketika aku bertemu dengannya lagi, ketika aku harus kembali menyesali kisah itu kesekian kali.
Contract Lover
309
178
0
Romance
Antoni Tetsuya, pemuda mahasiswa kedokteran tanpa pengalaman romansa berusia 20 tahun yang sekaligus merangkap menjadi seorang penulis megabestseller fantasy komedi. Kehidupannya berubah seketika ketika ia diminta oleh editor serta fansnya untuk menambahkan kisah percintaan di dalam novelnya tersebut sehingga ia harus setengah memaksa Saika Amanda, seorang model terkenal yang namanya sudah tak as...
Communicare
0
0
0
Romance
Menceritakan 7 gadis yang sudah bersahabat hampir lebih dari 10 tahun, dan sekarang mereka dipersatukan kembali di kampus yang sama setelah 6 tahun mereka bersekolah ditempat yang berbeda-beda. Karena kebetulan mereka akan kuliah di kampus yang sama, maka mereka memutuskan untuk tinggal bersama. Seperti yang pernah mereka inginkan dulu saat masih duduk di sekolah dasar.
Permasalahan-permasalah...
Happiness Is Real
11
11
0
Short Story
Kumpulan cerita, yang akan memberitahu kalian bahwa kebahagiaan itu nyata.
THE DARK EYES
12
12
0
Short Story
Mata gelapnya mampu melihat mereka yang tak kasat mata. sampai suatu hari berkat kemampuan mata gelap itu sosok hantu mendatanginya membawa misteri kematian yang menimpa sosok tersebut.
Luthfita








