Read More >>"> KATUMBIRI
Loading...
Logo TinLit
Read Story - KATUMBIRI
MENU
About Us  

AUTHOR POV

Tirai malam telah tertutup, burung-burung mulai berkicau menyambut hangatnya sinar matahari. Satu per satu jendela rumah terbuka, mengantarkan hawa dingin bagi mereka yang masih bergelung dengan selimut. Beberapa orang warga terlihat berangkat ke ladang, ada pula yang keluar untuk menghirup udara segar.

Seorang gadis berumur tujuh belas tahun tengah mengayuh sepeda di jalanan berbalut tanah merah itu. Bibirnya tak pernah lupa untuk tersenyum dan menyapa orang-orang di sekitarnya. Di lihat dari sudut manapun gadis itu sangatlah bahagia. Gadis berperawakan mungil dengan surai hitam pekat.

Ini kisahnya, Si Gadis Desa sejuta mimpi. Kau dapat memanggilnya Katumbiri.

Katumbiri POV

Sejauh mata memandang, desa ini masihlah hijau.

“ Katumbiri! Hendak kemana dirimu di pagi buta?”.

“ Aku hendak ke sekolah, Bi!”. Ucapku tanpa berhenti mengayuh sepeda sambil melambaikan tangan pada tetanggaku itu.

Kayuhan sepeda mulai ku pelankan, sekolah sudah di depan mata.

Kriet…

Sepeda berhenti. Aku sudah sampai.

“ Neng, kamu sudah datang?”. Tanya Pak Asep, guruku.

“ Iya Pak, ini hari terakhir Ujian Nasional jadi aku datang lebih awal” .

“ Semangat ya, Neng. Semoga hasilnya memuaskan” . Pak Asep tersenyum padaku.

“ Iya, Pak. Terima kasih”.

AUTHOR POV

Mentari kian naik, Ujian Nasional pun telah selesai. Katumbiri pulang dengan wajah puas. Ia optimis dengan hasil ujiannya.

“ Aku pasti bisa kuliah!” . Ujarnya dengan tangan terkepal ke udara.

Dengan semangatnya, Katumbiri mengayuh sepeda menuju ladang.

Katumbiri POV

Ladang. Tempat tujuanku.

“ Lis, anakmu sudah besar. Kapan akan kau nikahkan?”. Tanya Bi Onah.

Samar-samar aku mulai mendengar seseorang bertanya pada ibuku.

“ Hei! Kasihan Katumbiri kalau lulus sekolah langsung dinikahkan”.

Semakin jelas percakapan itu ku dengar.

“ Benar itu Lis, anakmu pintar! Sayang kalau langsung dinikahkan” . Aku mengenal suara ini, Bi Cucu. Dia selalu menjadi teman curhatku tentang masalah sekolah. Maklum, Bi Cucu memang seorang guru TK di Desa Galuh ini.

“ Untuk apa wanita sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya dia akan berakhir di dapur?”. Ujar Bi Tati.

Aku masih bersembunyi di balik pohon, menunggu jawaban Ibu.

“ Tak tahulah aku, Bapaknya pasti mengamuk jika dia masih ingin sekolah” . Jawaban itu sudah cukup membuatku kecewa. Aku memutuskan pergi dari tempat itu dan pulang ke rumah.

AUTHOR POV
Langkah gadis itu begitu lesu. Kemana perginya semangat gadis itu? Gadis yang mendorong sepeda dengan tatapan sedih.

Katumbiri POV

Aku ingin sekolah setinggi mungkin.

“ Bukankah akan lebih baik jika aku bertanya pada Bapak? Kau pintar Katumbiri!”. Semangatku mulai membara kembali. Ku naiki sepeda, ku kayuh menuju rumah.

AUTHOR POV

Matahari berganti bulan. Jika kau lihat sekitar, kau akan menemukan sebuah rumah bercat biru. Rumah yang paling megah di Desa Galuh, milik keluarga Katumbiri. Cahaya lampu rumah itu bahkan mampu mengalahkan bulan. Gelak tawa terdengar hingga ke luar, orang rumah tengah bergembira.

“ Akhirnya, musim panen telah tiba!”. Ujar Pak Sanusi, ayah Katumbiri.

“ Kau hebat Sanusi, hasil panenmu pasti melimpah lagi” . Pak Arman memuji Pak Sanusi, sahabat terbaiknya.

“ Bisa saja kau ini Arman”. Jawab Pak Sanusi sembari tersenyum gembira.

“ Kau masih tak mau kembali ke kota?”. Pak Arman berbicara dengan mimik serius.

“ Aku lebih suka di sini, tenang dan damai”. Jawab Pak Sanusi dengan tatapan kosong.

“ Itu sudah lama, tak usah kau pikirkan terus”. Ujar Pak Arman sembari mengusap jenggotnya.

“ Ya, itu sudah sangat lama. Arman, ada gerangan apa kau datang ke sini?” Ucap Pak Sanusi.

“ Ku dengar putri semata wayangmu sudah lulus SMA?”.

“ Belumlah. Dia baru selesai Ujian Nasional”.

“ Lanjut sekolah?”.

“ Aku tak ada niat menyekolahkannya lagi”.

“ Mengapa? Kau punya banyak uang, pasti mampu menyekolahkannya”.

“ Dia perempuan, tak pantaslah sekolah tinggi-tinggi”.

“Kasihan anakmu, dia tidak hidup di zaman kita kecil. Dunia sudah berubah Sanusi!”. Tegur Pak Arman.

“ Dia wanita, dunianya hanya dapur tak ada yang lain”.

“ Terserah kau sajalah, aku sudah mengingatkan. Lalu apa kau akan menyuruhnya membantu mengurus ladang?”. Tanya Pak Arman dengan menopang dagu.

“ Akan ku nikahkan dia dengan Parmadi”.

“ Kau gila Sanusi!! Masa anak gadismu akan kau nikahkan dengan pria berumur tiga puluh enam tahun?!”. Bentak Pak Arman dengan penuh ketidakpercayaan.

“ Parmadi sudah berjanji akan memberiku lima petak sawah kalau aku menikahkan Katumbiri dengannya”

Katumbiri POV

Di balik pintu dapur, aku mendengar semuanya.

“ Neng, kenapa diam di sini? Cepat kasih Bapakmu, kopinya nanti dingin”. Ucap Ibu padaku.

Dengan menahan air mata aku taruh kedua kopi itu di atas meja.

“ Terima kasih, Neng”. Ucap Pak Arman sambil tersenyum.

“ Sama-sama, Pak” . Balasku dengan senyum tipis.

“ Kenapa masih berdiri di sini? Pergilah bantu Ibumu di dapur”. Bapak terheran-heran dengan tingkahku.

“ Aku tidak mau, Pak. Aku ingin sekolah!”. Air mata yang ku tahan mulai bercucuran.

Trak. Cangkir itu ditaruh dengan sedikit bantingan.

“ Berani sekali kau menguping pembicaraan orang dewasa!”.

“ Aku tak mau dinikahkan! Aku ingin sekolah!”. Ucapku dengan isakan.

“ Kau!!”

“ Sanusi, tahan emosimu! Lilis!”. Pak Arman mencoba melerai kami dan memanggil Ibu.

“ Ada apa ini?”. Ibu datang tergopoh-gopoh. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran saat melihat keadaanku dan Bapak.

“ Anakmu! Berani-beraninya dia menolak lamaran Parmadi!”. Ku lihat wajah Bapak memerah menahan marah.

“ Aku ingin sekolah!”

“ Lis bawa Katumbiri ke kamarnya!”. Ujar Pak Arman.

Samar-samar ku dengar Pak Arman yang mencoba menenangkan Bapak..

“ Neng, Ibu tahu kau ingin sekolah. Tapi nurutlah sama Bapak, Ibu tak ingin kau jadi anak durhaka”.

“ Mengapa Ibu tak mendukung impianku?”. Tanyaku penuh kekecewaan.

“ Aku ingin sendiri, Bu”. Ucapanku mungkin membuat Ibu bersedih, tapi aku memang tak ingin diganggu. Aku hanya ingin ditemani sepi.

AUTHOR POV

Siang berganti malam. Seminggu telah berlalu namun Katumbiri dan Bapaknya masih berbeda pendapat. Rumah itu beraura suram. Warga desa mulai bertanya-tanya akan hilangnya Katumbiri dari peradaban. Gadis itu masih mengurung diri di dalam kamar, menolak untuk bertemu siapapun.

Katumbiri duduk menghadap jendela. Pikirannya kosong. Dalam sehari, dunianya di porak-porandakan oleh orang terdekat. Dia mentari yang kehilangan sinarnya.

Katumbiri POV

Brak!

Tanpa menoleh pun aku tahu siapa pelakunya. Aku tahu tabiat keras Bapak, dia pasti akan terus memaksa. Tapi kali ini aku menolak untuk menurut, aku punya impian dan aku harus mewujudkannya.

“ Sudah Bapak putuskan, kau akan menikah dengan Parmadi”

“ Pak, Katumbirimu ini tak mau jadi Siti Nurbaya kedua!”.

Plak!

“ Berani sekali kau membentak Bapakmu!” . Bapak bahkan tega menamparku.

“ Pak, sudahlah. Si Neng butuh waktu untuk menerima pinangan Parmadi”.

“ Sudah seminggu dan anak ini masih keukeuh dengan kata tidak! Bagaimana mungkin aku tidur degan nyenyak?!!”. Bapak bahkan membentak Ibu.

“ Sebegitu mempesonakah pria tua itu sampai Bapak memaksaku untuk menikah dengannya?”.

 Aku berurai air mata. Pedih sangat hatiku ini diperlakukan seperti barang dagangan oleh Bapakku sendiri.

“ Kalau kau menikah dengannya, keluargamu ini akan memiliki menantu yang kaya raya. Apalagi yang kurang?”

“ Tapi aku tak ikhlas menikah dengannya!”

“ Katumbiri!!”

“Kenapa tidak Bapak saja yang menikah dengannya? Toh Bapak yang menyukainya bukan Katumbiri!” .

Kalimat itu menjadi penutup percakapan sengitku, aku memilih berlari ke luar rumah. Menutup telinga dan mata, berharap ini hanya mimpi burukku saja.

“ Neng!” , Ibu berteriak sambil berlari kecil di belakangku.

Penglihatanku mulai memburam, derai air mata kian membajiri pipiku.

Brak!

Bau amis tercium begitu tajam. Mataku kian memberat. Gelap.

Tiga Tahun Kemudian.

AUTHOR POV

Dingin.

Dia terbangun dari tidur lelap.

Pukul 01.00 WIB

Matahari belum nampak.

Langkah sempoyongan menuntunnya untuk berdiri menghadap cermin. Meneliti setiap jengkal wajahnya. Dia cantik namun mengenaskan. Gaun tidur berwarna merah marun itu kusut, surai hitamnya juga tak terawat.

 “ Sampai kapan kau akan terbangun dengan keadaan seperti ini? Seperti korban bencana alam saja”. Gerutu gadis itu.

Katumbiri POV

Masih jelas dalam ingatan saat aku terbangun di ruangan berwarna putih dengan bau obat-obatan. Sendirian.

“ Aku bodoh”. Rumah ini sunyi senyap, tak ada orang selain aku. Jarum jam menunjuk pukul 12.00 WIB.

Teng! Teng! Teng!

“ Mati aku!”. Aku bergerak secepat mungkin. Membawa tas dan memakai sepatu. Berlari.

“ Ah, aku lupa!”. Aku menepuk kening dan berlari ke suatu tempat. Ladang. Napasku terengah-engah, namun aku tetap harus mengatakannya.

“ Pak! Bu! Katumbiri berangkat dulu!”

“ Mengapa berangkat hari ini? Bukankah baru lusa kau masuk kuliah?” Tanya Ibu

“ Lihat anakmu, begitu bersemangat”. Ucap Bapak pada Ibu, mereka tersenyum satu sama lain.

“ Terima kasih telah mengabulkan permintaannya”. Ku lihat Ibu menggenggam tangan Bapak sambil tersenyum.

Aku bahagia.

Tiga Tahun Lalu

AUTHOR POV

“ Neng!”. Bu Lilis mengejar anaknya. Matanya mulai membola saat sebuah motor melaju kencang ke arah Katumbiri. Langkahnya semakin cepat, berharap dia dapat mengejar Katumbiri.

“ Katumbiri!”. Teriaknya sambil mendorong Katumbiri.

Brak!

Motor itu kembali melaju meninggalkan kami yang terluka.

“ Ya Allah, Ibu! Bangun Bu!”. Teriak Pak Sanusi sambil menggoyangkan badan Bu Lilis.

“ Ibu”. Lirih gadis itu, Katumbiri.

Bau amis tercium begitu tajam. Darah. Mata gadis itu kian memberat. Gelap.

RUANG MELATI. Disanalah gadis itu tengah terbaring, kelopak matanya terbuka.

Katumbiri POV

Badanku sakit semua. Ada apa ini?

Bau obat-obatan yang tajam membuat kepalaku sakit seketika. Aku terhenyak dibuatnya. Ketakutan mulai merayapiku. Aku sendirian dan ini adalah tempat yang paling ku hindari, Rumah Sakit.

Ingatan itu mulai menggerayangiku. Kecelakaan dan darah. Mimpi burukku seolah terulang kembali. Aku menangis tersedu-sedu mengingatnya. Kang Afif, satu-satunya saudaraku harus tewas tertabrak mobil saat hendak menyebrang. Tepat di depanku, ia meregang nyawa. Aku tidak akan pernah lupa bagaimana senyum manisnya berakhir begitu menakutkan untukku. Sejak saat itu aku benci liquid merah yang kau sebut darah.

Ceklek.

“ Neng, kenapa menangis?”. Ku tolehkan wajah ke arah suara itu, Ibu.

“ Ibu! Aku takut!”. Aku memeluknya dengan erat.

“ Ibu di sini, tak ada yang perlu kau takutkan”. Ujar Ibu sambil menghapus air mataku. Aku tersentak. Kepala Ibu di perban.

“ Ibu terluka? Karenaku?”. Penyesalan mulai merambat perlahan

 “ Ibu baik-baik saja, ini hanya tergores sedikit”. Ibu memegang kepalanya sambil terkekeh kecil.

“ Neng, kau ingin sekolah kan?”

Aku terdiam.

“ Bapakmu sudah setuju untuk menyekolahkanmu lagi”.

“Maafkan Bapak karena egois padamu, Bapak tidak ingin kehilanganmu”.  Bapak mengusap kepalaku dengan lembut.

“ Aku juga bersalah, Pak. Aku egois, sungguh tolong maafkan aku”.

“ Maaf karena menggunakan banyak alasan untuk mencegahmu meraih impian. Bapak tak ingin kamu bernasib sama dengan kakakmu. Bapak tak ingin datang ke kota jika itu hanya untuk menjemput jasadmu”. Ucap Bapak dengan mata berkaca-kaca.

“ Ibu juga minta maaf karena masih terpaku dengan kematian kakakmu”.

Ibu dan Bapak memelukku dengan erat. Kami menangis bersama berharap setiap tetes air mata dapat membalut luka.

Pada akhirnya aku tahu bahwa ego membuatku lupa bahwa mereka menyayangiku. Seharusnya aku meyakinkan mereka dengan cara yang lebih baik, bukan dengan cara yang kekanakan. Kepergian Kang Afif memang memberi luka mendalam bagi kami tapi hidup harus terus berjalan, aku masih punya masa depan yang harus ku perjuangkan. Aku menyadari satu hal bahwa mimpi tidak akan menjadi kenyataan jika aku masih tidak mau terbangun, oleh karena itu aku memutuskan untuk bangun dan menghadapi dunia. Menyusuri kehidupan dengan penuh rasa percaya diri.

Katumbiri, nama indah yang diberikan Bapak padaku. Katumbiri, pelangi bagi setiap tetes luka kehidupan. Aku bangga terlahir menjadi Katumbiri, putri Ibu dan Bapak.

How do you feel about this chapter?

0 4 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Dream Of Youth
5      5     0     
Short Story
Cerpen ini berisikan tentang cerita seorang Pria yang bernama Roy yang ingin membahagiakan kedua orangtuanya untuk mengejar mimpinya Roy tidak pernah menyerah untuk mengejar cita cita dan mimpinya walaupun mimpi yang diraih itu susah dan setiap Roy berbuat baik pasti ada banyak masalah yang dia lalui di kehidupannya tetapi dia tidak pernah menyerah,Dia juga mengalami masalah dengan chelsea didala...
Dear You
130      44     0     
Romance
Ini hanyalah sedikit kisah tentangku. Tentangku yang dipertemukan dengan dia. Pertemuan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehku. Aku tahu, ini mungkin kisah yang begitu klise. Namun, berkat pertemuanku dengannya, aku belajar banyak hal yang belum pernah aku pelajari sebelumnya. Tentang bagaimana mensyukuri hidup. Tentang bagaimana mencintai dan menyayangi. Dan, tentang bagai...
Nightmare
4      4     0     
Short Story
Ketika mimpi buruk datang mengusik, ia dihadapkan pada kenyataan tentang roh halus yang mengahantui. Sebuah 'dreamcatcher' sebagai penangkal hantu dan mimpi buruk diberikan. Tanpa ia tahu risiko sebenarnya. Pic Source : -kpop.asiachan.com/Ash3070 -pexels.com/pixabay Edited by : Picsart Cerita ini dibuat untuk mengikuti thwc18
Kemana Perginya Ilalang
4      4     0     
Short Story
bukan hanya sekedar hamparan ilalang. ada sejuta mimpi dan harapan disana.
WE CAN DO IT
350      264     3     
Short Story
Mada, Renjun, dan Jeno adalah sahabat baik sejak kelas X. Kini mereka telah duduk di kelas XII. Selepas lulus SMA, mereka ingin menempuh pendidikan S1 di Universitas Negeri Surabaya melalui jalur SNMPTN 2017. Namun mereka telah memiliki opsi jurusan berbeda. Perjuangan mereka pun membuahkan hasil dan tidak sia-sia.
Cinta Venus
2      2     0     
Short Story
Bagaimana jika kenyataan hidup membawamu menuju sesuatu yang sulit untuk diterima?
Dunia Tiga Musim
38      13     0     
Inspirational
Sebuah acara talkshow mempertemukan tiga manusia yang dulunya pernah bertetangga dan menjalin pertemanan tanpa rencana. Nda, seorang perempun seabstrak namanya, gadis ambivert yang berusaha mencari arti pencapaian hidup setelah mimpinya menjadi diplomat kandas. Bram, lelaki ekstrovert yang bersikeras bahwa pencapaian hidup bisa ia dapatkan dengan cara-cara mainstream: mengejar titel dan pre...
ATHALEA
16      9     0     
Romance
Ini cerita tentang bagaimana Tuhan masih menyayangiku. Tentang pertahanan hidupku yang akan kubagikan denganmu. Tepatnya, tentang masa laluku.
NIKAH MUDA
8      7     0     
Romance
Oh tidak, kenapa harus dijodohin sih bun?,aku ini masih 18 tahun loh kakak aja yang udah 27 tapi belum nikah-nikah gak ibun jodohin sekalian, emang siapa sih yang mau jadi suami aku itu? apa dia om-om tua gendut dan botak, pokoknya aku gak mau!!,BIG NO!!. VALERRIE ANDARA ADIWIJAYA KUSUMA Segitu gak lakunya ya gue, sampe-sampe mama mau jodohin sama anak SMA, what apa kata orang nanti, pasti g...
API DI DEPAN MATA
5      5     0     
Short Story
cerita ini menceritakan kisah seorang anak yang bekerja untuk membantu ibunya untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya, dirinya harus bertahan sementara kakaknya selalu meminta uang dari ibunya.