Menurutku, para panitia makrab memang layak untuk mengobarkan selebrasi. Harus kuakui, mereka benar-benar sukses membuat angkatan kami semakin akrab. Bonusnya, anak-anak seangkatanku jadi lebih terkenal daripada sebelumnya.
Buktinya, setelah acara malam minggu kemarin, Fafa, Jihan, dan rekan setimnya mendapat tawaran untuk mengisi acara jurusan sebelah sehari setelah makrab berlangsung. Sung dan Dina—penari tradisional—kini mendapat tawaran untuk mengisi acara seminar jurusanku yang akan dilangsungkan beberapa bulan lagi. Lalu Evy—salah satu master of ceremony—juga semakin terkenal di kalangan mahasiswa karena kemampuan public speaking-nya disamping parasnya yang ayu.
Selain itu, sejak setelah makrab berlangsung, aku dan Fey ketambahan dua ekor baru. Pipit dan Dela, dua cewek tak terduga yang tiba-tiba mengikuti aku dan Fey ke kantin saat kami membeli beberapa buah kue basah. Dela bilang, mereka berdua ingin mencari teman untuk ke kantin. Mana tega aku menolak keinginan mereka? Toh, apa salahnya mendapat anggota koloni baru?
Jadi, di sinilah kami sekarang; duduk berjajar di sebuah kursi panjang, mengurungkan niat untuk kembali ke kelas sebab Pipit ternyata memutuskan untuk membeli seporsi nasi campur.
“Loh, nggak jadi beli kue, Pit?” tanyaku begitu ia kembali dengan sepiring nasi dengan sayur bayam dan sate usus.
“Nggak, inyong kencot banget soale.” balasnya.
“Hah?” tanya aku dan Fey serentak. Jelas saja kami bingung karena dia menggunakan bahasa yang terbilang cukup aneh di telinga kami. Aku tidak ingin membuat kalian ambigu, tapi yang kutahu, kata ‘kencot’ punya konotasi yang menjurus ke arah negatif.
“Apaan, woi?” Fey kembali bertanya.
Dela geleng-geleng kepala melihat pertanyaan Fey. “Lu nggak tahu? Laper itu ya makan. Itu bahasa dari tempatnya dia btw, artinya ‘nggak, aku laper banget soalnya’. Gitu.”
“Oh, kencot itu laper? Yah, kirain apaan.”
“Otak lu keknya nggak beres, deh, Fey. Mikir kemana lu, hah?”
“Nggak gitu,” timpalku, “soalnya emang di daerah sini tuh artinya jadi ambigu. Makanya kita kaget.”
“Oh, ngobrol dong dari tadi. Emang apaan artinya? Kok gue jadi kepo.”
“Udah, jangan dilanjutin. Makan dulu, Keburu masuk,” ujar Pipit memecah perseteruan kami.
Yah, memang suasana sempat mereda, sempat tenang. Tapi, hanya sebentar, sebab Dela tiba-tiba menggoyangkan lenganku. Begitu kutoleh, aku merasa dia tak berbeda dengan cacing yang tengah kepanasan—menggeliat mencari oksigen sebab tanahnya tak lagi basah. Kasarannya, dia histeris dengan sesuatu. Untung saja ia tak sampai menumpahkan gelas plastik berisi es campur yang aku genggam.
“Kamu ini kenapa, sih, Del? Untung es campurku udah tinggal separuh,” kataku kesal sembari berusaha menghindarkan lengan kananku agar tak ia goyangkan lagi.
“Itu ... itu ... aduh, ganteng asli!” serunya sembari menunjuk ke satu arah, dengan mata yang masih berbinar-binar. Kalau kami sekarang adalah tokoh kartun, pasti ada efek bintang-bintang kecil bersinar di bola matanya.
Kami menoleh mengikuti arah jari telunjuknya. Ah, aku baru sadar kalau sedari awal dia memang menyukai cowok itu.
Yah, siapa lagi kalau bukan Kak Sofyan. Tinggi, jago basket, jadi pakto—ketua angkatan—pula. Menurutku, ia masih tergolong kategori lelaki yang biasa saja sekalipun ia orang yang pandai sampai bisa menjadi bagian dari duta kampus. Aku berkata begini bukan karena aku sudah mengagumi seseorang, melainkan karena memang aku belum mengenalnya terlalu dekat.
Tapi, harus kuakui hari ini ia tampak keren. Mungkin karena di seluruh kantin ini, hanya ia yang mengenakan jas almamater berwarna sama seperti celana seragamnya. Terlihat berwibawa dan keren; jadi wajar kalau Dela sampai tergila-gila saat ini.
“Dia siapa, ya?” tanya Pipit polos. “Apa cuma aku yang nggak tahu, ya?”
“Oh, itu,” kata Fey, “pakto-nya tingkat 3. Ketua angkatan 2014, kak Sofyan namanya. Gue tahu dia pertama kali di Instagram. Akunnya dia pas masuk semacam rekomendasi akun gitu, deh. Eh, ternyata dia anak sini. Fotonya ada juga kok di foto-foto makrab kemarin, yang udah di-share.” Pipit manggut-manggut.
“Anak basket juga btw,” sambung Dela, agak sensi. Sepertinya dia kesal karena Fey melupakan satu poin penting itu.
“Ah, ya, itu juga, Pit,” balasku. “Aku tahu dia waktu latihan basket minggu lalu. Cuma nama sama wajah, sisanya masih nggak begitu tahu.”
“Kalian bertiga ikut basket semua?” tanya Pipit lagi setelah menghabiskan suapan terakhirnya.
“Yap, mau ikut juga? Kalau iya, aku bisa bilang Mbak Vita, coach basketnya. Atau nanti sore langsung dateng latihan. Nanti bisa langsung ngomong.”
“Eh, sekarang Jumat, ya? Yah, aku udah ada jadwal latihan badminton. Biasanya Kamis, tapi kemarin pelatihnya nggak bisa, jadi diganti nanti sore.”
“Minggu depan, deh,” usul Dela.
“Mmm ... kayaknya tetep nggak. Aku ... nggak minat,” balas Pipit berhati-hati.
“Wah, padahal bisa seru kalo join basket berempat gini. Tapi ya udahlah, balik lagi ke selera. Sama bakat,” ujar Fey pasrah.
Handphone kami berempat bergetar berbarengan. Spontan kami mengecek isi handphone masing-masing.
Ersha
Gaes, ayo buruan masuk
Yang belum ngumpulin tugas agama:
Dela, pipit, kirana sama fey
Aku, Fey, dan Pipit menoleh serentak ke arah Dela. Sementara itu, yang ditoleh justru malah bengong dengan polosnya. Ia mengunyah kue putu sambil memandangi kami satu per satu.
“Kalian ngapain?” tanyanya polos.
“Lu nggak ngecek grup kelas?” tanya Fey balik. Raut mukanya jelas menampakkan bahwa ia menahan amarah. Tapi entah mengapa, bocah berkacamata itu justru tidak menunjukkan tanda-tanda kepekaan. Benar saja, Dela menggeleng ringan.
“Mending lu buka sekarang sebelum gue mempertontonkan isi chat itu dengan paksa.”
Dela membuka chat di grup kelas sesuai perintah Fey.
“Ini yang kata Ersha tugas apaan btw?” tanyanya kemudian.
“Ya Allah, tugas minggu kemarin. Yang kita ngerjain bareng-bareng di selasar,” terang Pipit.
“Kok bisa gue belum ngumpulin? Punya lu pada juga belum. Kok bisa kompak, sih?”
“YA KAN TUGASNYA DI KAMU, DELA!!” semprot kami bertiga dengan kesal. Rasain, marah kan kita jadinya.
“Yah, gue nggak bawa. Tugasnya di flashdisk, ketinggalan di kost gue,” balasnya.
“Gue nggak mau tahu alasan lu! Pokoknya, lu harus ambil sekarang juga. Lu nggak peduli lu bakalan telat atau enggak, gue cuma peduli nilai gue!” timpal Fey kesal. Telunjuk kanannya mengarah lurus ke gadis berkacamata itu, matanya menyala-nyala penuh api.
“I ... iya, gue ambil. Pit, temenin gue dong ....”
“Aku mau ke kamar mandi sama Kirana. Berangkat sendiri aja, ya,” jawabnya. Pinter juga kamu bikin alasan, Pit.
“Kuy, lah, kita ke kelas duluan,” ujar Fey. Aku dan Pipit mengangguk, lantas bangun dan berjalan beriringan dengannya menuju ke kelas.
Aku mendengar suara terakhir Dela sebelum semakin melangkah menjauh, “Yah, gue ditinggalin.”
Seolah tahu aku masih memikirkan Dela, Fey berucap, “Udah, biarin aja. Salah sendiri main-main sama kerjaan gue. Kalo dia doang sih, gue nggak masalah. Lah ini.”
Jadi, kalau sudah begini, masih hobi bermain tanggung jawab?
ayundaauras











Terima kasih apresiasinya :) @dede_pratiwi @YouRa_muriz
Comment on chapter 07: One Night To Remember