Read More >>"> The Dumb Love (08: Colony) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - The Dumb Love
MENU
About Us  

            Menurutku, para panitia makrab memang layak untuk mengobarkan selebrasi. Harus kuakui, mereka benar-benar sukses membuat angkatan kami semakin akrab. Bonusnya, anak-anak seangkatanku jadi lebih terkenal daripada sebelumnya.

            Buktinya, setelah acara malam minggu kemarin,  Fafa, Jihan, dan rekan setimnya mendapat tawaran untuk mengisi acara jurusan sebelah sehari setelah makrab berlangsung. Sung dan Dina—penari tradisional—kini mendapat tawaran untuk mengisi acara seminar jurusanku yang akan dilangsungkan beberapa bulan lagi. Lalu Evy—salah satu master of ceremony—juga semakin terkenal di kalangan mahasiswa karena kemampuan public speaking-nya disamping parasnya yang ayu.

            Selain itu, sejak setelah makrab berlangsung, aku dan Fey ketambahan dua ekor baru. Pipit dan Dela, dua cewek tak terduga yang tiba-tiba mengikuti aku dan Fey ke kantin saat kami membeli beberapa buah kue basah. Dela bilang, mereka berdua ingin mencari teman untuk ke kantin. Mana tega aku menolak keinginan mereka? Toh, apa salahnya mendapat anggota koloni baru?

            Jadi, di sinilah kami sekarang; duduk berjajar di sebuah kursi panjang, mengurungkan niat untuk kembali ke kelas sebab Pipit ternyata memutuskan untuk membeli seporsi nasi campur.

            “Loh, nggak jadi beli kue, Pit?” tanyaku begitu ia kembali dengan sepiring nasi dengan sayur bayam dan sate usus.

            “Nggak, inyong kencot banget soale.” balasnya.

            “Hah?” tanya aku dan Fey serentak. Jelas saja kami bingung karena dia menggunakan bahasa yang terbilang cukup aneh di telinga kami. Aku tidak ingin membuat kalian ambigu, tapi yang kutahu, kata ‘kencot’ punya konotasi yang menjurus ke arah negatif.

            “Apaan, woi?” Fey kembali bertanya.

            Dela geleng-geleng kepala melihat pertanyaan Fey. “Lu nggak tahu? Laper itu ya makan. Itu bahasa dari tempatnya dia btw, artinya ‘nggak, aku laper banget soalnya’. Gitu.”

            “Oh, kencot itu laper? Yah, kirain apaan.”

            “Otak lu keknya nggak beres, deh, Fey. Mikir kemana lu, hah?”

            “Nggak gitu,” timpalku, “soalnya emang di daerah sini tuh artinya jadi ambigu. Makanya kita kaget.”

            “Oh, ngobrol dong dari tadi. Emang apaan artinya? Kok gue jadi kepo.”

            “Udah, jangan dilanjutin. Makan dulu, Keburu masuk,” ujar Pipit memecah perseteruan kami.

            Yah, memang suasana sempat mereda, sempat tenang. Tapi, hanya sebentar, sebab Dela tiba-tiba menggoyangkan lenganku. Begitu kutoleh, aku merasa dia tak berbeda dengan cacing yang tengah kepanasan—menggeliat mencari oksigen sebab tanahnya tak lagi basah. Kasarannya, dia histeris dengan sesuatu. Untung saja ia tak sampai menumpahkan gelas plastik berisi es campur yang aku genggam.

            “Kamu ini kenapa, sih, Del? Untung es campurku udah tinggal separuh,” kataku kesal sembari berusaha menghindarkan lengan kananku agar tak ia goyangkan lagi.

            “Itu ... itu ... aduh, ganteng asli!” serunya sembari menunjuk ke satu arah, dengan mata yang masih berbinar-binar. Kalau kami sekarang adalah tokoh kartun, pasti ada efek bintang-bintang kecil bersinar di bola matanya.

            Kami menoleh mengikuti arah jari telunjuknya. Ah, aku baru sadar kalau sedari awal dia memang menyukai cowok itu.

            Yah, siapa lagi kalau bukan Kak Sofyan. Tinggi, jago basket, jadi pakto—ketua angkatan—pula. Menurutku, ia masih tergolong kategori lelaki yang biasa saja sekalipun ia orang yang pandai sampai bisa menjadi bagian dari duta kampus. Aku berkata begini bukan karena aku sudah mengagumi seseorang, melainkan karena memang aku belum mengenalnya terlalu dekat.

            Tapi, harus kuakui hari ini ia tampak keren. Mungkin karena di seluruh kantin ini, hanya ia yang mengenakan jas almamater berwarna sama seperti celana seragamnya. Terlihat berwibawa dan keren; jadi wajar kalau Dela sampai tergila-gila saat ini.

            “Dia siapa, ya?” tanya Pipit polos. “Apa cuma aku yang nggak tahu, ya?”

            “Oh, itu,” kata Fey, “pakto-nya tingkat 3. Ketua angkatan 2014, kak Sofyan namanya. Gue tahu dia pertama kali di Instagram. Akunnya dia pas masuk semacam rekomendasi akun gitu, deh. Eh, ternyata dia anak sini. Fotonya ada juga kok di foto-foto makrab kemarin, yang udah di-share.” Pipit manggut-manggut.

            “Anak basket juga btw,” sambung Dela, agak sensi. Sepertinya dia kesal karena Fey melupakan satu poin penting itu.

            “Ah, ya, itu juga, Pit,” balasku. “Aku tahu dia waktu latihan basket minggu lalu. Cuma nama sama wajah, sisanya masih nggak begitu tahu.”

            “Kalian bertiga ikut basket semua?” tanya Pipit lagi setelah menghabiskan suapan terakhirnya.

            “Yap, mau ikut juga? Kalau iya, aku bisa bilang Mbak Vita, coach basketnya. Atau nanti sore langsung dateng latihan. Nanti bisa langsung ngomong.”

            “Eh, sekarang Jumat, ya? Yah, aku udah ada jadwal latihan badminton. Biasanya Kamis, tapi kemarin pelatihnya nggak bisa, jadi diganti nanti sore.”

            “Minggu depan, deh,” usul Dela.

            “Mmm ... kayaknya tetep nggak. Aku ... nggak minat,” balas Pipit berhati-hati.

            “Wah, padahal bisa seru kalo join basket berempat gini. Tapi ya udahlah, balik lagi ke selera. Sama bakat,” ujar Fey pasrah.

            Handphone kami berempat bergetar berbarengan. Spontan kami mengecek isi handphone masing-masing.

 

 

            Ersha

            Gaes, ayo buruan masuk

            Yang belum ngumpulin tugas agama:

            Dela, pipit, kirana sama fey

 

 

            Aku, Fey, dan Pipit menoleh serentak ke arah Dela. Sementara itu, yang ditoleh justru malah bengong dengan polosnya. Ia mengunyah kue putu sambil memandangi kami satu per satu.

            “Kalian ngapain?” tanyanya polos.

            “Lu nggak ngecek grup kelas?” tanya Fey balik. Raut mukanya jelas menampakkan bahwa ia menahan amarah. Tapi entah mengapa, bocah berkacamata itu justru tidak menunjukkan tanda-tanda kepekaan. Benar saja, Dela menggeleng ringan.

            “Mending lu buka sekarang sebelum gue mempertontonkan isi chat itu dengan paksa.”

            Dela membuka chat di grup kelas sesuai perintah Fey.

            “Ini yang kata Ersha tugas apaan btw?” tanyanya kemudian.

            “Ya Allah, tugas minggu kemarin. Yang kita ngerjain bareng-bareng di selasar,” terang Pipit.

            “Kok bisa gue belum ngumpulin? Punya lu pada juga belum. Kok bisa kompak, sih?”

            “YA KAN TUGASNYA DI KAMU, DELA!!” semprot kami bertiga dengan kesal. Rasain, marah kan kita jadinya.

            “Yah, gue nggak bawa. Tugasnya di flashdisk, ketinggalan di kost gue,” balasnya.

            “Gue nggak mau tahu alasan lu! Pokoknya, lu harus ambil sekarang juga. Lu nggak peduli lu bakalan telat atau enggak, gue cuma peduli nilai gue!” timpal Fey kesal. Telunjuk kanannya mengarah lurus ke gadis berkacamata itu, matanya menyala-nyala penuh api.

            “I ... iya, gue ambil. Pit, temenin gue dong ....”

            “Aku mau ke kamar mandi sama Kirana. Berangkat sendiri aja, ya,” jawabnya. Pinter juga kamu bikin alasan, Pit.

            “Kuy, lah, kita ke kelas duluan,” ujar Fey. Aku dan Pipit mengangguk, lantas bangun dan berjalan beriringan dengannya menuju ke kelas.

            Aku mendengar suara terakhir Dela sebelum semakin melangkah menjauh, “Yah, gue ditinggalin.”

            Seolah tahu aku masih memikirkan Dela, Fey berucap, “Udah, biarin aja. Salah sendiri main-main sama kerjaan gue. Kalo dia doang sih, gue nggak masalah. Lah ini.”

 

            Jadi, kalau sudah begini, masih hobi bermain tanggung jawab?

How do you feel about this chapter?

0 1 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (3)
  • ayundaauras

    Terima kasih apresiasinya :) @dede_pratiwi @YouRa_muriz

    Comment on chapter 07: One Night To Remember
  • dede_pratiwi

    i love the cover, so cute

    Comment on chapter 01: How I Met Him
  • you

    Like this. Bahasanya enak dibaca. alurnya juga bagus.

    kalau berkenan mampir diceritaku ya...

    Comment on chapter 01: How I Met Him
Similar Tags
Frekuensi Cinta
12      12     0     
Romance
Sejak awal mengenalnya, cinta adalah perjuangan yang pelik untuk mencapai keselarasan. Bukan hanya satu hati, tapi dua hati. Yang harus memiliki frekuensi getaran sama besar dan tentu membutuhkan waktu yang lama. Frekuensi cinta itu hadir, bergelombang naik-turun begitu lama, se-lama kisahku yang tak pernah ku andai-andai sebelumnya, sejak pertama jumpa dengannya.
selamatkan rahma!
272      207     0     
Short Story
kisah lika liku conta pein dan rahma dan penyelamatan rahma dari musuh pein
Love and your lies
166      106     0     
Romance
You are the best liar.. Xaveri adalah seorang kakak terbaik bagi merryna. Sedangkan merryna hanya seorang gadis polos. Dia tidak memahami dirinya sendiri dan mencoba mengencani ardion, pemain basket yang mempunyai sisi gelap. Sampai pada suatu hari sebuah rahasia terbesar terbongkar
ONE SIDED LOVE
26      22     0     
Romance
Pernah gak sih ngalamin yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan?? Gue, FADESA AIRA SALMA, pernah!. Sering malah! iih pediih!, pedih banget rasanya!. Di saat gue seneng banget ngeliat cowok yang gue suka, tapi di sisi lain dianya biasa aja!. Saat gue baperan sama perlakuannya ke gue, dianya malah begitu juga ke cewek lain. Ya mungkin emang guenya aja yang baper! Tapi, ya ampun!, ini mah b...
Arini
42      32     0     
Romance
Arini, gadis biasa yang hanya merindukan sesosok yang bisa membuatnya melupakan kesalahannya dan mampu mengobati lukanya dimasa lalu yang menyakitkan cover pict by pinterest
Alya Kirana
80      62     0     
Romance
"Soal masalah kita? Oke, aku bahas." Aldi terlihat mengambil napas sebentar, sebelum akhirnya melanjutkan berbicara, "Sebelumnya, aku udah kasih tau kan, kalau aku dibuat kecewa, semua perasaan aku akan hilang? Aku disini jaga perasaan kamu, gak deket sama cewek, gak ada hubungan sama cewek, tapi, kamu? Walaupun cuma diem aja, tapi teleponan, kan? Dan, aku tau? Enggak, kan? Kamu ba...
Konspirasi Asa
105      66     0     
Romance
"Ketika aku ingin mengubah dunia." Abaya Elaksi Lakhsya. Seorang gadis yang memiliki sorot mata tajam ini memiliki tujuan untuk mengubah dunia, yang diawali dengan mengubah orang terdekat. Ia selalu melakukan analisa terhadap orang-orang yang di ada sekitarnya. Mencoba untuk membuat peradaban baru dan menegakkan keadilan dengan sahabatnya, Minara Rajita. Tetapi, dalam mencapai amb...
Kayuhan Tak Sempurna
502      242     0     
Romance
Sebuah kisah pemuda yang pemurung, Ajar, sederhana dan misterius. Bukan tanpa sebab, pemuda itu telah menghadapi berbagai macam kisah pedih dalam hidupnya. Seakan tak adil dunia bila dirasa. Lantas, hadirlah seorang perempuan yang akan menemani perjalanan hidup Ajar, mulai dari cerita ini. Selamat datang dalam cerita ber-genre Aceh ini
My love doctor
12      12     0     
Romance
seorang Dokter berparas tampan berwajah oriental bernama Rezky Mahardika yang jatuh hati pada seorang Perawat Salsabila Annisa sejak pertama kali bertemu. Namun ada sebuah rahasia tentang Salsa (nama panggilan perawat) yang belum Dokter Rezky ketahui, hingga Dokter Rezky mengetahui tentang status Salsa serta masa lalunya . Salsa mengira setelah mengetahui tentang dirinya Dokter Rezky akan menja...
Ruman Tengah Jalan
14      13     0     
Horror