Aula besar berhias serba biru, ungu, dan putih menemani malamku kali ini. Malamku, malammu, malamnya, malam kami semua. Hari ini adalah puncak dari segala curahan tenaga dan pikiran mereka—para panitia—yang hanya ingin membuat angkatan ke empat program studiku ini semakin akrab.
Akrab. Ayem, kompak, respect, asik, bersahabat; itulah yang mereka mau dapatkan dari sebuah acara malam keakraban kali ini. Sesederhana itu. Tapi, bisakah kau bayangkan berapa banyak pengorbanan yang ia tumpahkan demi semua itu?
Sebab itulah aku di sini sekarang; berada di ruangan tepat di backstage, bersama orang-orang yang sama-sama ingin membantu mewujudkan mimpi dan harapan para panitia. Bolehlah aku berbangga hati sedikit, sebab tanpa aku dan orang-orang ini, bisa kupastikan apa yang mereka inginkan gagal mereka raih.
Balutan t-shirt coklat yang dipadu dengan hem flanel kotak-kotak serta celana jeans selutut menjadi temanku hari ini. Mungkin kalian masih belum tahu apa yang akan kulakukan dengan dandanan macam ini. Sederhananya, aku, Fey, serta Sung akan memberi suguhan dance pada hadirin nanti. Ah, ya, kuberitahu satu hal, jika kalian ingin menjerit-jerit penuh kegilaan, silahkan kunci Sung—sang leader—di netra kalian masing-masing, jangan aku.
Ruangan bercat krem sekitar 4x3 meter yang kuhinggapi kini tampak sibuk. Tak terhitung berapa orang sudah yang sedari tadi berlalu lalang tanpa jeda. Beberapa diantaranya masih sibuk merias diri masing-masing, memantaskan diri sebagai bintang tamu malam ini.
Kalau ditelisik lebih dalam, sebenarnya masih ada kejanggalan di sini. Kemana hilangnya semua anggota band dan perkakasnya?
Jadilah aku celingukan di balik pintu, berniat mencari keberadaannya, sebab aku tak diizinkan meninggalkan backstage jika belum waktunya, mengingat acaranya sendiri sudah dimulai sejak satu jam yang lalu. Seorang cowok dengan jaket berbahan sejenis jeans melintas tepat di hadapanku sembari menenteng sebuah gitar akustik berwarna kuning kecoklatan. Aku hendak memanggilnya, tetapi setelah melihat ekspresi kebingungannya, aku jadi harus mengurungkan niatku.
Dari balik pintu, aku melihatnya tengah sibuk berbincang dengan anggota band yang lain. Namun, beberapa saat kemudian, dia berbalik lagi dan menuju ke arahku. Sepertinya ia hendak keluar lagi entah untuk apa.
“Han, habis ini tampil, ya?” tanyaku ragu begitu dia kebetulan berhenti sebentar di depan pintu ruang backstage.
“Iya,” jawabnya singkat, agak malas. Sepertinya dia benci basa-basi dengan orang baru. Aku jadi merasa sedikit bersalah, jadi kuputuskan untuk mengakhiri percakapan itu dengan ucapan semangat alakadarnya.
Suara pasangan master of ceremony menggelegar ke seluruh sudut ruangan. Artinya, ini sudah waktunya bagi Jihan dan kawan-kawannya untuk tampil. Spontan aku menggeret Fey menuju ke sisi panggung demi menonton mereka setelah aku membungkus diriku dengan hoodie abu-abu milikku. Ya, aku dan Fey perlu sedikit menyamar jika tidak ingin menyuguhkan spoiler pada hadirin.
Melihatnya melangkah menuju atas panggung membuat diriku menahan nafas selama sepersekian detik. Demi apapun, dia begitu keren! Aku merasa tubuhku mulai overload dan siap meledak kapan saja. Aku mencengkeram lengan Fey begitu kuat; sebab aku berusaha menahan diriku sendiri agar tidak histeris seperti orang gila. Fey sendiri tampak tidak keberatan dengan perlakuanku, seolah tahu maksudku walau aku tak membocorkannya sedikitpun. Ia hanya melirik lengannya sepintas, lantas kembali menatap panggung.
Pertunjukkan dimulai dengan petikan sang gitaris mungil itu. Hanya dalam beberapa menit saja, aku sudah langsung mengerti sebab orang sering berkata bahwa cinta itu buta. Secara logika, band itu suatu tim; jadi sebuah penilaian harusnya ditujukan atas nama tim. Lalu, mengapa di mataku hanya dia yang terlihat paling menakjubkan? Astaga, semua ini benar-benar mampu merusak nalar dalam waktu singkat.
Ini masih belum seberapa; sebab tanpa diduga, gitaris itu menyanyi. Nggak salah lihat?
“Fey, di-dia bisa nya-nyi?!” tanyaku gelagapan akibat terlalu kaget.
“Lah, emang dia juga vokalis. Lu baru tahu? Apa lu nggak pernah buka akun sosmed-nya dia?” balasnya. Jadi, cuma aku yang nggak tahu? Fans macam apa kamu ini, Kir? Yah, mungkin karena aku emang nyaris nggak pernah membuka yang namanya sosial media—kecuali untuk chat, tentu saja.
Aku mengabaikan pemikiran itu sesaat karena suara nyanyiannya kembali menyita seluruh antusiasku. Lirik demi lirik yang ia lantunkan serta petikan-petikan gitar kuserap dengan baik agar aku bisa menyimpan semua kenangan itu di dalam benakku. Sepertinya aku terlalu terhipnotis, sebab rasanya aku hanya di sini dengannya, berdua, tanpa ada yang lain.
Aku kembali ke alam sadarku tepat setelah ia mengakhiri petikan gitarnya. Salah satu panitia berkemeja biru menyuruhku bersiap di belakang panggung bersama dengan Fey dan Sung. Aku dan Fey mengangguk mengerti, lantas menanggalkan hoodie di ruangan backstage sebelum akhirnya menyusul Sung di belakang panggung. Kami saling merangkul bahu satu sama lain, menundukkan kepala sejenak untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa demi kelancaran penampilan kami.
Pasangan master of ceremony kembali menyemarakkan hadirin dengan mengundang kami tepat setelah pertunjukkan teater lima menit. Bangku bagian tengah spontan menjadi penuh dengan manusia—baik penonton maupun panitia—yang telah menanti-nantikan acara puncak yang kami bawakan. Tapi, sialnya aku tidak tahu dimana cowok itu berada.
Ah, astaga, persetan dengan dia.
Finally, this is us!
Tubuh kami bergerak dengan lihainya saat iringan musik mulai diputar. Dan, ya, benar saja, sahutan hadirin begitu kencang, menyanjung manis sang leader yang begitu lemah gemulai. Jangan bandingkan dengan aku, aku hanyalah penggembira dan pelengkap saja. Bukannya aku pesimis dengan kemampuanku, tapi memang aku tidak sepandai dirinya dalam hal seni wiraga meski aku telah berusaha totalitas.
Lima menit sudah terlampau cukup untuk membuat seisi aula menjadi riuh seketika. Beruntung tidak ada dosen di sini, jadi mereka tak perlu repot-repot memerdulikan rasa sungkan pada para pengajar jika hendak berteriak sampai kaca pecah sekalipun. Toh, ini malam untuk bersenang-senang, bukan?
Aku melihat Jihan sepintas saat kembali menuju ruangan bercat krem tadi. Aku hanya berlalu sembari menundukkan kepalaku, tapi tidak dengan Fey.
“Woy, Han, cuek banget. Nih, si Kirana pingin foto sama lu,” ujarnya spontan. Mataku mendelik, mengarah pada si lambe turah itu. Astaga, kapan aku ngomong kayak gitu?
“Ayo aja. Tapi jangan di sini. Cari tempat yang terang, kalo bisa di photobooth,” balasnya. T-t-tunggu? Dia setuju? Astaga, tolong, tubuhku gemetar!
Telah lama kami menunggu photobooth sepi hingga acara usai, namun hasilnya nihil. Antrian begitu panjang, ditambah waktu peminjaman aula yang terbatas mengharuskan panitia untuk segera membereskan perkakas dan dekorasi. Jadilah kami berfoto di depan dinding aula berwarna coklat itu.
Di hari itu, aku melihat dia sedih sebab tak sempat berfoto di photobooth.
Duhai lelaki yang kupuja, bahagialah kamu.
Sebab kamulah alasan segala tawaku.
Sebab kamulah alasan segala tangisku.
Kumohon, tersenyumlah kamu.
Setidaknya, demi dirimu sendiri, jangan demi aku.
ayundaauras











Terima kasih apresiasinya :) @dede_pratiwi @YouRa_muriz
Comment on chapter 07: One Night To Remember