Read More >>"> The Dumb Love (03: Hey You!) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - The Dumb Love
MENU
About Us  

            Motor yang kami tumpangi berhenti di sebuah kedai dessert terkenal di kota Malang. Semburat senja jatuh tepat di atas spion motor matic berwarna biru itu, menciptakan pantulan yang indah namun sedikit menyilaukan.

            Aku melangkah seiringan dengan langkah Fey, lalu masuk ke kedai bernuansa minimalis itu. Iringan musik pop terbaru mengalir lembut menyentuh seluruh sisi penjuru ruangan.

            Kami memutuskan untuk duduk di sofa coklat tepat di depan kasir. Fey sibuk membaca menu, sementara aku sendiri sibuk mengamati sekeliling kedai yang penuh dengan berbagai tulisan ala tumblr yang dibingkai dan beberapa lukisan sederhana. Pancaran cahaya kuning dari lampu-lampu kecil yang terpasang di sudut ruangan membuat suasana kedai terasa santai dan menenangkan.

            “Lu mau pesen apaan?” tanya Fey tiba-tiba.

            Aku membolak-balik buku menu itu sekilas. “Hm, aku mau coba es krim coklat yang ini sama waffle blueberry,” ujarku sambil menunjuk gambar es krim yang kumaksud.

            Dia menulis pesanan sesuai instruksiku dan memberikannya kepada salah satu pelayan di sana, sementara aku kembali memperhatikan sekitar.

            Seorang cewek berkacamata dengan setelan blus coklat sederhana dan celana jeans memasuki kedai itu dengan membawa beberapa bendel kertas serta memakai ransel kanvas hitam di punggungnya. Sesaat, aku teringat sesuatu yang penting; menyangkut masalah hidup dan matiku.

            “Fey, kamu punya nomor teleponnya Jihan, nggak?” tanyaku akhirnya.

            Dahinya mengernyit. “Jihan? Tumben nanya soal dia. Buat apaan?”

            “Aku baru ingat sesuatu,” jawabku, “print-out materi patofisiologi sistem pernafasan ada di Jihan, dan itu harus difotokopi buat hari Senin.”

            Fey menepuk dahinya lantas menggeleng-gelengkan kepalanya. “Astaga, Kir. Kita mau malming-an di sini dan lu masih sempet mikir soal itu? Dasar anak dosen. Coba tanya grup kelas, aku nggak punya nomernya dia.”

            “Oh, oke.”

 

 

                                                                                    Kirana

                                                                                    Permisi, nomornya jihan yang mana, ya?

 

            Fafa

            Sori gatau

 

            Pipit

            Yang ini

            Contact

 

                                                                                    Kirana

                                                                                    Oke makasih.

 

 

            “Udah?” tanya Fey lagi.

            “Udah, kok. Bentar aku chat dia dulu.”

 

 

                                                                                    Kirana

                                                                                    Han, ini Kirana.

                                                                                    Print out kemarin udh kamu fotokopi?

 

            Jihan

            Belum, sori

 

           

            “Astaga bocah ini!” seruku kemudian.

            “Kenapa?” tanya Fey heran.

            “Bayangin, print-out-nya belum difotokopi. Kamu tahu sendiri itu dipake hari Senin. Nanti kalo dimarahin Bu Dewi gimana? Tahu sendiri orangnya disipilin kayak gimana,” keluhku.

            Pembicaraan kami terhenti karena pelayan sudah datang dengan membawa pesanan kami.

            “Udahlah, Kir. Dia pasti tanggung jawab kok. Sabar aja, lagian juga masih ada hari esok. Kalo besok belum juga kelar, baru lu boleh marah-marah. Udah, makan dulu,” ujar Fey setelah membantu pelayan menata hidangan di atas meja.

            Aku berusaha menenangkan diriku dengan menyantap es krim coklat yang sudah disusun sedemikian rupa hingga menyerupai manusia salju yang sedang berlayar di atas kapal—gelas kaca yang bentuknya bulat seperti mangkuk. Sesekali, aku menyelinginya dengan menyantap waffle bluberry. Persetan jika cara makanku salah, toh yang penting aku bisa menyantap keduanya.

            Langit yang senja telah terhapuskan oleh malam. Kini ganti bintang-bintang dan bulan sabit yang menggantikan sang surya. Entah mengapa musik hari ini juga terdengar mellow dan sendu, mungkin para pelayan di sini juga tengah galau atas sesuatu yang tidak mungkin bisa kuketahui. Namun, guyonan receh dari Fey berhasil merubah suasana itu menjadi lebih gembira.

            “Kir, ada chat,” tukas Fey di tengah-tengah pembicaraan. Aku melirik handphone-ku yang tergeletak di sebelah handphone milik Fey.

 

 

            Jihan

            Photo

 

 

            Aku mengernyitkan dahi. Ngapain dia ngirim foto ke aku? Apa dia salah ngirim?

            Kubuka chat itu untuk memastikan bahwa dia memang salah kirim atau tidak.

           

 

            Jihan

            Tuh udh ku fc. Jelas kan foto gw?

 

                                                                                    Kirana

                                                                                    Pinter. Jangan Cuma difoto. Senin dibawa

                                                                                    Hidup dan mati nih.

 

            Jihan

            Iya, berisik

 

 

            “Tuh, kan,” celetuk Fey tiba-tiba.

            Aku meliriknya keheranan, “Kenapa?”

            “Gue bilang juga apa, dia pasti tanggung jawab. Tuh, buktinya udah difotokopi. Lu, sih, terlalu bingung. Nggupuhi wong—bikin orang panik.”

            “Aku nggak nggupuhi. Aku cuma takut aja kalo belum diurusin. Nggak lega aja gitu,” jawabku, “Btw kok kamu tahu? Ngintip ya?”

            Aku mematikan layar handphone-ku cepat-cepat sebelum memasukkannya ke dalam saku jaketku.

            “Kepo, deh,” godanya, “tapi emang prediksi gue nggak salah, kok.”

            Aku mengunyah potongan waffle-ku sebelum akhirnya membalas, “Prediksi soal apa?”

            “Prediksi kalo dia itu orangnya amanah dan tanggung jawab.”

            “Kok bisa? Emang dasarnya apa?”

            “Nebak aja,” katanya enteng.

            Kami meneruskan pembicaraan tentang berbagai hal hingga langit benar-benar semakin gelap. Mood-ku yang memburuk berangsur membaik.

            Tapi, siapa sangka jika ternyata aku juga tersenyum? Semoga Fey tidak menyadarinya. Aku tak ingin ditanya alasannya, sebab aku sendiri tidak begitu mengetahuinya dengan pasti.

            Yang jelas, aku hanya ingin berterima kasih pada orang itu; yang sukses membolak-balikkan mood-ku hari ini.

 

            Seringkali, kebahagiaan tidak datang dengan kekompleksan.

            Dia datang dengan kesederhanaan, dan dengan percuma.

            Seringkali, dia hanya memerlukan sebersit kata untuk bisa mengukir senyum manis di wajahmu.

 

            Jadi, bersyukurlah jika kamu bisa bahagia tanpa harus merogoh sakumu dalam-dalam.

How do you feel about this chapter?

2 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (3)
  • ayundaauras

    Terima kasih apresiasinya :) @dede_pratiwi @YouRa_muriz

    Comment on chapter 07: One Night To Remember
  • dede_pratiwi

    i love the cover, so cute

    Comment on chapter 01: How I Met Him
  • you

    Like this. Bahasanya enak dibaca. alurnya juga bagus.

    kalau berkenan mampir diceritaku ya...

    Comment on chapter 01: How I Met Him
Similar Tags
Switched A Live
112      88     0     
Fantasy
Kehidupanku ini tidak di inginkan oleh dunia. Lalu kenapa aku harus lahir dan hidup di dunia ini? apa alasannya hingga aku yang hidup ini menjalani kehidupan yang tidak ada satu orang pun membenarkan jika aku hidup. Malam itu, dimana aku mendapatkan kekerasan fisik dari ayah kandungku dan juga mendapatkan hinaan yang begitu menyakitkan dari ibu tiriku. Belum lagi seluruh makhluk di dunia ini m...
Rasa yang Membisu?
35      28     0     
Romance
Menceritakan 4 orang sahabatnya yang memiliki karakter yang beda. Kisah cerita mereka terus terukir di dalam benak mereka walaupun mereka mengalami permasalahan satu sama lain. Terutama kisah cerita dimana salah satu dari mereka memiliki perasaan terhadap temannya yang membuat dirinya menjadi lebih baik dan bangga menjadi dirinya sendiri. Pertemanan menjadikan alasan Ayu untuk ragu apakah pera...
Me and a Piece of Memories
17      17     0     
Short Story
Tentang pertemanan yang terpisah jarak dan waktu. Tentang kehidupan yang terus terhubung.
Right Now I Love You
13      13     0     
Short Story
mulai sekarang belajarlah menyukaiku, aku akan membuatmu bahagia percayalah kepadaku.
Begitulah Cinta?
443      263     0     
Romance
Majid Syahputra adalah seorang pelajar SMA yang baru berkenalan dengan sebuah kata, yakni CINTA. Dia baru akan menjabat betapa hangatnya, betapa merdu suaranya dan betapa panasnya api cemburu. Namun, waktu yang singkat itu mengenalkan pula betapa rapuhnya CINTA ketika PATAH HATI menderu. Seakan-akan dunia hanya tanah gersang tanpa ada pohon yang meneduhkan. Bagaimana dia menempuh hari-harinya dar...
Kenangan Masa Muda
256      172     0     
Romance
Semua berawal dari keluh kesal Romi si guru kesenian tentang perilaku anak jaman sekarang kepada kedua rekan sejawatnya. Curhatan itu berakhir candaan membuat mereka terbahak, mengundang perhatian Yuni, guru senior di SMA mereka mengajar yang juga guru mereka saat masih SMA dulu. Yuni mengeluarkan buku kenangan berisi foto muda mereka, memaksa mengenang masa muda mereka untuk membandingkan ti...
ketika hati menentukan pilihan
11      11     0     
Romance
Adinda wanita tomboy,sombong, angkuh cuek dia menerima cinta seorang lelaki yang bernama dion ahmad.entah mengapa dinda menerima cinta dion ,satu tahun yang lalu saat dia putus dari aldo tidak pernah serius lagi menjalani cintanya bertemu lelaki yang bernama dion ahmad bisa mengubah segalanya. Setelah beberapa bulan menjalani hubungan bersama dion tantangan dalam hubungan mereka pun terjadi mula...
Meja Makan dan Piring Kaca
2121      776     0     
Inspirational
Keluarga adalah mereka yang selalu ada untukmu di saat suka dan duka. Sedarah atau tidak sedarah, serupa atau tidak serupa. Keluarga pasti akan melebur di satu meja makan dalam kehangatan yang disebut kebersamaan.
NODA YANG BERWARNA
15      15     0     
Short Story
MENCERITAKAN PERJUANGAN SEORANG YANG SERING DI BULLY DI HIDUPNYA TENTANG BAGAIMANA SEHARUSNYA IA MENGHADAPI SEMUA COBAAN YANG TERJADI DALAM HIDUPNYA.
Aditya
44      34     0     
Romance
Matahari yang tak ternilai. Begitulah Aditya Anarghya mengartikan namanya dan mengenalkannya pada Ayunda Wulandari, Rembulan yang Cantik. Saking tak ternilainya sampai Ayunda ingin sekali menghempaskan Aditya si kerdus itu. Tapi berbagai alasan menguatkan niat Aditya untuk berada di samping Ayunda. "Bulan memantulkan cahaya dari matahari, jadi kalau matahari ngga ada bulan ngga akan bersi...