Read More >>"> Intuisi Revolusi Bumi (Orbit 2) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Intuisi Revolusi Bumi
MENU
About Us  

Ini hari ke-29 bulan Desember menurut perhitunganku. Meski pada kenyataannya hari ini adalah justru hari ke 31. Ada tiga hari, yang begitu berat dan aku tak ingin melihat mereka dalam barisan tanggal. Jadi kuputuskan untuk menghapus mereka. Bersih dari kalender pribadiku.

“Bukan waktunya lagi kamu bersikap seperti anak kecil begini Ranum!” Ibu menyadarkanku dalam lamunan. Kaget karena tiba-tiba ibu muncul di pintu kamarku. Mataku kembali memandangi kalender di atas meja belajar.

Tuk,tuk,tuk. Ibu berjalan mendekatiku kemudian ikut memandangi hal yang sama. Kalender.

“Harusnya sekarang tanggal 31 kan?” Kemudian mata ibu beralih memandangku. Tak menjawab mata ibu, aku hanya mengangguk. Alisku masih bertaut, bekerjasama dengan garis lain membentuk ekspresi frustasi.

Serak dan berat rasanya untuk bersuara. Tapi keterpakuan ibu pada sudut mataku menuntutku untuk mengeluarkan beberapa kata-kata.

“Iya, 31.” Meski begitu pahit untuk diakui tapi harus. Hari ini memang tanggal 31. Dan tiga hari yang penuh konflik itu tak pernah kehilangan tempat dalam hitungan kalender ibu.

Mataku beralih pada sudut yang lain. Sebuah foto bersama disebuah puncak bukit. Cahaya sunrise berlawanan dengan arah lensa kamera. Membuatnya lebih dominan dari pada gambar kami bertiga yang sedang berangkulan.

“Num,” sapa ibu lembut. “Kamu tidak boleh terus-terusan seperti ini. Kasus itu sudah berakhir sejak dua bulan yang lalu. Dan sekarang waktunya untuk fokus menatap masa depanmu. Kasihan Nay dan Nuri. Mereka selalu berkunjung ke rumah tapi kamu selalu mengurung diri di kamar. Ada banyak hal yang jauh lebih bermanfaat yang bisa kamu lakukan. Dari pada hanya mengenang kasus yang sebetulnya tak perlu lagi untuk kamu pikirkan sayang.”Ibu mengelus rambutku. Maksud ibu ingin menenangkan ku, tapi justru akalku menolak untuk itu. Kasus itu belum pernah selesai ucap otakku berteriak dalam sangkarnya.

Ada satu hal yang mungkin tak pernah disadari ibu. Aku terkurung dalam dilema ini bukan karena sekedar kasus belaka. Jodi terbunuh dengan palu geologi dan kami –Aku, Nay dan Nuri- adalah tersangka yang sebenarnya dan itu tak pernah disadari semua orang, termasuk ibuku sendiri.

Yang ibu tahu, aku terpukul atas hilangnya Jodi. Sebagaimana Yuli yang tercabik-cabik perasaannya karena kehilangan kekasih. Bukan itu!

Sebenarnya, aku tak kuasa menahan gejolak amarah dari dalam diri ini. Amarah itu bukan untuk orang lain. Tapi untuk diriku sendiri. Bagaimana mungkin seorang perempuan berjilbab dalam terlibat kasus pembunuhan? Dan korbannya adalah mantan kekasihnya sendiri?

Dia bagian dari masa laluku sebelum keputusanku untuk hijrah. Aku tak pernah berharap sedikitpun dia muncul untuk mengungkap-ungkap masa laluku malam itu.

Hanya kami bertiga yang menyadari betapa buruknya kenyataan ini. Orang lain, termasuk ibuku sendiri tak pernah tahu. Dan semua orang seakan sepakat bahwa Jodi memang benar-benar hilang di dalam hutan. Karena tak satupun yang berhasil menemukan mayatnya.

“Ibu sayang sama kamu nak,” ibu lirih bersuara. Di ujung kalimatnya seperti mengikut sebuah getaran iba. Titik air mata ibu langsung terjun membasahi pundakku. “Ibu tahu, kasus itu sangat berat untuk kamu lupakan. Tapi percayalah, Allah tak akan pernah menyia-nyiakan seorang hamba. Seberat apapun beban yang sedang kamu tanggung saat ini, ikhlaslah? Biarkan Allah yang menyelesaikannya. Tugasmu hanya mengusahakan yang terbaik. Hasilnya biarkan Allah yang menentukan.”

Aku masih seratus persen yakin ibu belum tahu kasus yang sebenarnya. Tapi, seakan-akan ada lorong dalam hatiku ini yang tak pernah bisa kututupi dari ibu. Tak peduli seberapa dinginnya aku. Ibu selalu punya cara untuk masuk menembus lapis-lapis keegoisanku untuk menghalangi ibu masuk kedalam permasalahan rumitku ini.

Aku melepas fokus dari foto di puncak bukit dan beralih menatap sepasang bola mata indah yang berlinangan air mata. Mata itu selalu menenangkanku. Wajah teduh itu, sekarang begitu sedih.

Aku mengusap air mata di pipi ibu. Kemudian tubuhku menyusup ke dalam rangkulan dan memeluk ibu. Ibu melekat padaku, memberi sepenuhnya ruang untukku melimpahkan segala beban. Mengisyaratkan kesiapan, tapi aku masih enggan. Ini lebih dari cukup. Ibu tak akan pernah tahu yang sebenarnya. Meski pada kenyataanya lorong hatiku tak akan pernah bisa bersembunyi.

“Nay dan Nuri sudah menunggu di taman belakang.” Ibu mengusap wajahku yang penuh penyesalan. Ku pikir, bersembunyi dan berbohong pada ibu tentang masalah ini terdengar mirip.

Aku mengangguk. “Ranum sebentar lagi siap-siap.” Ibu bangkit dari tempat duduk dan menuju pintu kemudian berbalik, “Jangan lupa bawa jurnal, peta, kalkulator ilmiah dan buku-buku lain yang kamu perlukan. Sepertinya Nay membawa sampel penelitian.”

“Ya, “ Aku mengangguk memberikan senyum terbaikku untuk ibu. Meski tampak sangat ku paksakan.

***

Dengan seteko besar kopi dan sekotak besar biskuit aku menghampiri Nay dan Nuri di taman belakang. Mereka sudah sibuk membuka peta skala 1:50.000. Beberapa plastik yang berisi sampel tanah dan alat-alat kimia. Ditumpuk pada satu tumpukan kusus agar tidak bercampur dengan bahan-bahan yang lain. Jejeran jurnal dan buku referensi juga beteteran disekeliling mereka berdua. Ku letakkan nampan di atas meja. Dan menyuguhkan kopi untuk mereka.

“Ah, Ranum!! Kamu selalu saja paham dengan apa yang kita butuhkan.” Aku menyimpul senyum. “Maaf ya Num, kita langsung memulai analisis sebelum kamu datang kesini. Ibumu memastikanmu akan keluar kamar hari ini. Jadi, kami langsung memulainya tanpa menunggumu.” Ujar Nuri menjelaskan.

Aku duduk diantara mereka. Membuka tas ranselku dan mengeluarkan segala hal yang ku butuhkan untuk menganalisis. “Hem, tidak apa Nuri. Aku minta maaf ya? Sudah menelantarkan waktu kalian selama ini. Harusnya masalah itu tak membuatku terpuruk seburuk ini. Tapi, yaah...” Aku kehilangan kata-kata, merunduk dan kurasakan kembali denyutan di kepalaku ini.

“Ranum, kita melakukannya sama-sama. Tidak hanya kamu, aku dan Nuri juga. Kalau kamu salah, kita berdua juga. Kita lakukan itu sama-sama.” Nay menyentuh pundakku dengan telapak tangan kanannya. Kemudian Nuri merangkul lenganku dengan tangan kirinya. Nay juga memegangi Nuri, sekarang kami bertiga berangkulan.

Nay mengangkat wajahku kemudian matanya memberiku tatapan meyakinkan. “Pembunuh! Kita boleh mengakui ini pada diri kita sendiri. Tapi Tuhan tak pernah tidur, Dia ada ketika Jodi bertingkah gila di belakang tenda malam itu. Sudah jutaan kali aku berpikir dan ku simpulkan Nuri memang pantas melakukannya. Meski saat itu aku orang pertama yang tidak setuju. Lepas dari seburuk apapun kita Ranum! Tuhan tidak menyuruh kita hidup untuk tenggelam dalam masalah di masa lalu. Tapi yang Tuhan inginkan kita belajar dari masa lalu untuk masa depan selanjutnya. Get the point. Mari kita ambil pelajaran, lalu melangkahlah untuk step  selanjutnya. Ada banyak impian yang sudah menunggu kita saat ini. Sekarang mari kita bangkit dan biarkan masa kelam itu tenggelam dalam himpitan jejak-jejak keberhasilan.”

Mataku berbinar, meresapi kata demi kata yang Nay ucapkan. Tekad untuk bangkit itu memancar dengan deras. Seketika kalutku memikirkan kasus itu hilang. Dan yang ku lihat saat ini benar-benar sederetan impian panjang yang harus segera ku perjuangkan. Matematisku kembali berfungsi menghitung sudah berapa detik hidup ini yang ku lewati dengan sia-sia. Akal ku seakan baru terbangun dari hibernasi kemudian duduk di meja kendali untuk merumuskan langkah-langkah selanjutnya menuju impian. Mencari peluang yang bisa didapatkan untuk berpacu dengan waktu. Semuanya tersetting sempurna.

Senyumku merekah, Nay dan Nuri menatapku seksama. “Hari ini 31 Desember 2016. Sudah 176.400 detik hidupku terbuang sia-sia sejak frustasi dengan kasus ini. Mulai sekarang tak akan kubiarkan barang sedetikpun terbuang percuma di tahun 2017. Akan kutuliskan seratus harapan dan cita-citaku untuk satu tahun kedepan. Dan akan ku pastikan aku benar-benar melakukannya kali ini.”

Nuri tersenyum manis, dia dan Nay begitu bahagia mendengar tekadku barusan. Dan hari ini benar-benar ku akui. Tuhan tidak menyuruh kita hidup untuk tenggelam dalam masalah di masa lalu. Tapi yang Tuhan inginkan kita belajar dari masa lalu untuk masa depan selanjutnya. Bangkit dan biarkan masa kelam itu tenggelam dalam himpitan jejak-jejak keberhasilan. Kemudian bangun masa depan terbaik yang selalu kamu impi-impikan.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
TRIANGLE
141      36     0     
Romance
"Apa pun alasannya, yang namanya perselingkuhan itu tidak bisa dibenarkan!" TRIANGLE berkisah tentang seorang gadis SMA bernama Dentara dengan cerita kesehariannya yang jungkir balik seperti roller coaster. Berasa campur aduk seperti bertie botts bean. Berawal tentang perselingkuhan pacar tersayangnya. Muncul cowok baru yang berpotensi sebagai obat patah hati. Juga seorang dari ...
Dark Fantasia
29      20     0     
Fantasy
Suatu hari Robert, seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai pengusaha besar di bidang jasa dan dagang tiba-tiba jatuh sakit, dan dalam waktu yang singkat segala apa yang telah ia kumpulkan lenyap seketika untuk biaya pengobatannya. Robert yang jatuh miskin ditinggalkan istrinya, anaknya, kolega, dan semua orang terdekatnya karena dianggap sudah tidak berguna lagi. Harta dan koneksi yang...
Hati Langit
51      19     0     
Romance
Ketika 2 orang teman yang saling bertukar pikiran mengenai suatu kisah sehingga terciptalah sebuah cerita panjang yang berwujud dalam sebuah novel. Buah pemikiran yang dikembangkan menjadi suatu kisah yang penuh dengan inspirasi dan motivasi dalam menghadapi lika-liku percintaan. Persembahan untuk mereka yang akan merengkuh jalinan kasih. Nani Sarah Hapsari dan Ridwan Ginanjar.
Ellipsis
20      10     0     
Romance
Katanya masa-masa indah sekolah ada ketika kita SMA. Tidak berlaku bagi Ara, gadis itu hanya ingin menjalani kehidupan SMAnya dengan biasa-biasa saja. Belajar hingga masuk PTN. Tetapi kemudian dia mulai terusik dengan perlakuan ketus yang terkesan jahat dari Daniel teman satu kelasnya. Mereka tidak pernah terlibat dalam satu masalah, namun pria itu seolah-olah ingin melenyapkan Ara dari pandangan...
Jika Aku Bertahan
75      44     0     
Romance
Tidak wajar, itu adalah kata-kata yang cocok untuk menggambarkan pertemuan pertama Aya dengan Farel. Ketika depresi mengambil alih kesadarannya, Farel menyelamatkan Aya sebelum gadis itu lompat ke kali. Tapi besoknya secara ajaib lelaki itu pindah ke sekolahnya. Sialnya salah mengenalinya sebagai Lily, sahabat Aya sendiri. Lily mengambil kesempatan itu, dia berpura-pura menjadi Aya yang perna...
My Teaser Devil Prince
66      27     0     
Romance
Leonel Stevano._CEO tampan pemilik perusahaan Ternama. seorang yang nyaris sempurna. terlahir dan di besarkan dengan kemewahan sebagai pewaris di perusahaan Stevano corp, membuatnya menjadi pribadi yang dingin, angkuh dan arogan. Sorot matanya yang mengintimidasi membuatnya menjadi sosok yang di segani di kalangan masyarakat. Namun siapa sangka. Sosok nyaris sempurna sepertinya tidak pernah me...
Puisi yang Dititipkan
3      3     0     
Romance
Puisi salah satu sarana menyampaikan perasaan seseorang. Puisi itu indah. Meski perasaan seseorang tersebut terluka, puisi masih saja tetap indah.
Aku menunggumu
0      0     0     
Romance
Cinta pertamaku... dia datang dengan tidak terduga entahlah.Sepertinya takdirlah yang telah mempertemukan kami berdua di dunia ini cinta pertamaku Izma..begitu banyak rintangan dan bencana yang menghalang akan tetapi..Aku Raihan akan terus berjuang mendapatkan dirinya..di hatiku hanya ada dia seorang..kisah cintaku tidak akan terkalahkan,kami menerobos pintu cinta yang terbuka leb...
Chahaya dan Surya [BOOK 2 OF MUTIARA TRILOGY]
241      90     0     
Science Fiction
Mutiara, or more commonly known as Ara, found herself on a ship leading to a place called the Neo Renegades' headquarter. She and the prince of the New Kingdom of Indonesia, Prince Surya, have been kidnapped by the group called Neo Renegades. When she woke up, she found that Guntur, her childhood bestfriend, was in fact, one of the Neo Renegades.
Akai Ito (Complete)
31      14     0     
Romance
Apakah kalian percaya takdir? tanya Raka. Dua gadis kecil di sampingnya hanya terbengong mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Raka. Seorang gadis kecil dengan rambut sebahu dan pita kecil yang menghiasi sisi kanan rambutnya itupun menjawab. Aku percaya Raka. Aku percaya bahwa takdir itu ada sama dengan bagaimana aku percaya bahwa Allah itu ada. Suatu saat nanti jika kita bertiga nant...