Read More >>"> DanuSA (Rasa 20) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - DanuSA
MENU
About Us  

"Eh, Sabina. Masih inget gue, kan?" Gadis itu berkata cukup lantang hingga membuat beberapa siswa yang tersisa di kelas menoleh kearahnya,ia memasang senyum meremehkan. "Kalo lupa, sini kenalan. Gue Clara ... Tunangannya Danu."

Sabina mengernyit mencoba memahami perkataan Clara yang sebenarnya sudah sangat jelas.

"Kita belum tunangan." Danu menggeram sambil menatap tajam Clara.

"Tapi kita udah dijodohin, lo lupa? Dan elo Sabina Amanda Sahib, lo itu hanya jadi selingkuhannya Danu, lo itu pengganggu. Ngerti?!" Clara tersenyum miring kearah Sabina yang masih terlihat bingung.

"Diem lo! Bi, jangan dengerin dia." Kini Danu menatap Sabina penuh permohonan.

"Bener kamu udah dijodohin?" tanya Sabina tenang. Berharap apa yang didengar hanyalah trik Clara untuk membuatnya cemburu.

"Aku bisa jelasin, aku ...."

"Jawab, Danu!" potong Sabina tegas. Emosinya mulai terlihat.

Danu memejam, rahangnya mengeras seketika. Sabina menghitung dalam hati menunggu jawaban Danu hingga hitungan keempat Danu membuka mata dan mulai bersuara.

"Ya ..., tapi percaya Bi, kamu bukan selingkuhan," ucapnya pelan.

Sabina membuang muka ke samping, ia menggigit pipi bagian dalamnya sementara airmata mulai menggenang. Baru saja ia mengetahui kenyataan jika Danu tidak jujur padanya. Danu membohonginya. Batinnya tertawa miris atas kebodohannya, bisa-bisanya dengan mudah ia dipermainkan Danu.

"Aku bisa jelasin, Bi," ucap Danu memohon.

Sabina memejamkan mata beberapa detik hingga membuat air matanya menetes, detik berikutnya ia mengambil napas dalam sebelum mengembuskannya perlahan mengusir rasa sakit yang bergemuruh di dadanya.

"Oke, aku ngerti sekarang," ujarnya datar lalu ia pergi dari sana.

Ia tidak tahan, ia benar-benar ingin menangis.

"Bi, tunggu Bi dengerin penjelasan aku." Danu mengikuti Sabina tidak menghiraukan beberapa teman sekelasnya yang menonton mereka, ia menarik tangan Sabina namun dengan mudah Sabina menyentaknya. Gadis itu terus berlari menjauh, menjauh dari Danu juga dari keramaian. Ia ingin sendiri, penglihatannya buram tangannya berusaha menghapus airmata yang mengalir deras, sementara Danu terus mengejarnya.

"Sabina!" sentak Danu sambil menarik tangan Sabina hingga membuatnya tertarik kebelakang, langkahnya terhenti dan menghadap Danu. Namun gadis itu enggan menatap mata cowok di depannya.

"Denger,"

"Nggak ada lagi yang perlu kudenger!" Ia memotong perkataan Danu.

Gadis itu terisak, mati-matian ia berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir lebih deras.

"Hebat ya, kamu? Perlu dikasih tepuk tangan?" sarkasnya seraya tergelak ironi.

"Aku nggak bermaksud mainin kamu, Bi. Sumpah aku bener-bener sayang sama kamu."

Sabina kembali tergelak, ia menggeleng cepat. "Cukup!"

"Aku nggak pernah setuju sama perjodohan itu, Bi. Mama maksa aku. Oke, awalnya aku setuju hanya agar Mama mau lihat aku, tapi setelah aku kenal kamu. Aku yakin kamu satu-satunya, Bi. Kamu percaya aku, kan?"

"Cukup Nu, aku nggak mau denger apa-apa lagi. Kamu udah bohongi aku. Lepas." Kini Sabina benar-benar menangis tersedu-sedu ia menarik kedua tangannya yang digenggam erat Danu.

"Nggak! Aku nggak bakal lepasin kamu. Aku sayang kamu, Bi."

"Kamu egois!"

"Apa?!" Danu tergelak tidak percaya, ia melepas genggaman tangannya. "Kamu bilang aku egois?! Lalu gimana dengan mereka? Orang tuaku orang tua Clara. Mereka maksa aku, kamu masih bilang aku egois?!" Danu menarik napas dalam, "Oke, fine aku memang egois, tapi kamu harus percaya aku, Bi. Aku bener-bener sayang kamu, perasaan ini nyata aku nggak bohong," jelas Danu cepat.

Sabina tersenyum miring kemudian menatap tajam Danu, "Dari awal kamu bohongi aku. Seharusnya aku sadar, seharusnya aku nggak percaya gitu aja." Ia sedikit tergelak, "lucunya, aku bahkan terlalu bodoh untuk bisa tahu sekarang kamu lagi bohong apa enggak. Bisa jadi ini baru permulaan, kan? Kamu pasti puas atas keberhasilan kamu!"

Danu tahu ekspresi itu, nggak! Sabina nggak boleh kayak dulu lagi.

"Aku nggak bohong, Bi. Kita berjuang bersama, oke? Kita buktiin ke mereka."

"Aku nggak percaya kamu, jangan ngomong lagi sama aku."

"Bi ... please, maafin aku." Mata Danu berkaca-kaca memohon.

"Cukup!" sentak Sabina penuh emosi, ia kembali menatap Danu penuh kebencian. "Aku ... nyesel."

Sabina meninggalkan Danu begitu saja menuju toilet, sementara Danu terdiam kedua tangannya mengepal erat, rahangnya mengeras menatap lurus ke depan tempat Sabina berdiri sebelumnya. Tanpa berpikir panjang Danu meninju jendela kaca di depannya hingga membuatnya pecah berserakan, suara terkejut dari beberapa orang terdengar bersamaan. Sabina mendengarnya. Namun, ia tidak peduli.

Darah segar mengalir dari tangannya yang tergores kaca. Namun, Danu mengabaikannya. Rasanya itu tidak sebanding dengan sakit di hatinya.

"Nu, tangan lo berdarah." Suara Clara terdengar bergetar, sarat akan perasaan bersalah. Gadis itu menyaksikan Danu dan Sabina sejak tadi begitupun para sahabatnya yang tidak bisa berbuat banyak. Gisel melilih berlari menyusul Sabina.

Danu menatap gadis di depannya, sorot matanya berapi-api. "Puas lo?!"

Cowok itu meninggalkan tempat itu menyusul Sabina, masih ada yang ingin ia katakan. Ia berlari mencari Sabina hingga mendahului Gisel.

Persetan jika ia harus masuk ruangan BK setelah ini.

"Bi," panggil Danu ketika Sabina hampir memasuki lorong ke toilet wanita akan tetapi Sabina tidak berhenti melangkah justru semakin cepat hingga Danu memutuskan menarik bahu Sabina agar berhenti dan menghadap kearahnya. Hatinya mencelos melihat wajah Sabina yang basah karena air mata.

"Denger!" Kata-kata Danu terhenti sejenak ketika ia melihat darahnya menempel di seragam Sabina membuat gadis menoleh karena bau anyir di sampingnya, Gadis itu tetap memasang ekspresi datar seolah tidak peduli.

Danu menjauhkan tangannya dari sana membiarkannya mengantung di samping. Ia bahkan baru menyadari lukanya cukup parah.

"Aku bakal buktiin ke kamu kalo aku nggak pernah bohong soal perasaanku, aku bakal batalin perjodohan itu. Aku bakal berjuang buat kebahagiaan aku. Aku bakal berjuang buat kamu, aku yakin kamu masih sayang sama aku, Bi. Bahkan jika kamu berkata tidak, aku sangat yakin jauh di dalam lubuk hatimu. Kamu masih sayang sama aku. Aku bakal berjuang ... buat kita!" ujar Danu penuh tekad. Ia tidak peduli jika harus berjuang sedirian. Setelah selesai mengatakan semua Danu pergi dari sana, meninggalkan Sabina yang perlahan kembali menangis, tubuhnya bergetar hebat.

"Bi, lo baik-baik aja, kan?" Gisel menghampiri Sabina merengkuh Sabina yang menunduk.

Sabina tak pernah merasa sesakit ini, mencintai seseorang. Namun, disaat bersamaan ia juga harus membencinya. Tubuh Sabina merosot hingga membuatnya terduduk di lantai, ia menangis tersedu-sedu. Mungkin sisi gelapnya yang pernah ia kubur dalam-dalam sedang menertawakannya sekarang.

Menertawakan kebodohannya.

Bel baru saja berbunyi, semua murid  masuk kelas begitupun Sabina yang memilih duduk di bangku tengah setelah sebelumnya ia memohon pada teman sebangku Ratna untuk duduk di bangkunya. Tidak ada yang berani mengajaknya bicara saat ini karena Sabina kembali seperti dulu. Mungkin lebih menyeramkan, bahkan ia tidak bicara dengan Gisel sejak gadis itu menghampirinya.

"Selamat siang, semua," sapa Pak Yanto ketika memasuki kelas.

"Siang, Pak."

Pak Yanto melihat semua muridnya memastikan bahwa semua sudah masuk. "Di mana Danu?" tanya guru seni rupa itu.

"Ke ruang BK Pak," jawab Galih. Ia sempat melihat Sabina yang duduk di barisan sisi kirinya tampak tak peduli malah fokus mengerjakan sesuatu di buku gambarnya.

"Baik, kita mulai pelajaran. Hari ini kita akan melukis ...." Suara pak Yanto terhenti ketika suara ketukan pintu menginterupsinya.

"Maaf telat Pak," ujar Danu datar lalu kembali ke tempat duduknya setelah mendapat izin masuk. Tangan kanannya dibalut perban.

Semua murid di kelas melihat kearahnya. Namun, tidak dengan Sabina yang bahkan terlihat tak acuh pada sekitarnya yang juga menatapnya.

"Nu, elo oke?" tanya Doni pelan. Namun, hanya ditanggapi gelengan kepala olehnya.

Dehaman Pak Yanto membuyarkan kecanggungan seisi kelas.

"Yang sudah ya sudah, marah tidak akan menyelesaikan masalah. Alangkah baik kalo kita saling memaafkan saling tersenyum satu sama lain. Bukan berarti tersenyum terus, ya. Nanti malah dikira gila," gurau pak Yanto yang juga sempat mendengar keributan tadi. Gosip cepat menyebar di lingkungan sekolah. "Sudah, ayo keluarkan alat lukisnya."

"Sabina nyuruh gue duduk di sini," ujar Shifa pelan. Ada sedikit nada khawatir di dalamnya, mungkin semua murid di kelas khawatir–lebih ke penasaran mengapa pertengkaran barusan bisa terjadi dan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Danu diam meskipun ia mendengar, ia menatap punggung Sabina. Seharusnya ia tidak menyembunyikan ini dari Sabina, seharusnya ia jujur. Danu mengalihkan tatapannya ke pergelangan tangan kirinya, pada tali biru yang melingkar di sana di saat bersamaan Sabina juga melakukan hal yang sama. Mereka mengingat kejadian pagi tadi saat semua masih baik-baik saja. Namun, Sabina memilih melepas gelang itu, matanya terpejam merasakan goresan luka yang tak tampak.

Danu membuka hp-nya da mengetikkan pesan di sana.

Bi, aku bener-bener minta maaf. Aku janji bakal berjuang buat kita. Aku ... cinta kamu. Kamu harus percaya itu.

Setelah selesai ia mengirimkannya pada Sabina. Sabina menyadari hpnya bergetar tetapi ia memilih bergeming karena ia yakin itu pasti dari Danu.

Ia memutuskan menutup hatinya –lagi.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (12)
  • YulianaPrihandari

    @DanFujo itu awalnya blm ada adegan ngambil fotonya Danu buat jaga-jaga, tapi karena ada komen dari @drei jadi saya tambahin biar ada alasannya (sebab akibat).

    Nggak perlu jadi kakak atau adik, cukup jadi sahabat yang "peka" dengan sahabatnya hehe. Temen-temennya Danu pada nggak peka karena Danu cukup pintar menyembunyikan masalahnya hehe

    Comment on chapter Rasa 24
  • DanFujo

    @drei Menurutku itu biasa sih. Kan cuma curiga di awal doang, abis itu hapenya udah jadi hak dia juga. Kurang lebih bahasanya: udah kebukti ni anak lagi butuh. Lagipula dia bilang kayak gitu juga cuma akal-akalan biasa pedagang Wkwkwk

    Btw, @YulianaPrihandari Ini gue pengen banget jadi kakak atau adeknya Danu, biar dia gak sendirian gitu. Biar kalau ada masalah ada tempat curhat gitu. Kok rasanya sedih banget yah pas dia minta penjelasan dari ibunya. Membulir juga air mataku. Meski gak menetes :"

    Comment on chapter Rasa 24
  • YulianaPrihandari

    @drei si Abangnya terlalu kasian sama Danu wkwkwk

    Comment on chapter Rasa 2
  • YulianaPrihandari

    @AlifAliss terimakasih sudah membaca :):)

    Comment on chapter Rasa 2
  • drei

    si abang konter ceritanya nuduh danu nyopet, tapi minjemin motor kok mau? ^^'a motor kan lebih mahal dari hape haha... (kecuali itu bukan motor punya dia)

    Comment on chapter Rasa 7
  • drei

    wah menarik nih... starting off well. will definitely come back. XDD

    Comment on chapter Rasa 2
  • AlifAliss

    Dukung banget buat diterbitkan, meskipun kayaknya harus edit banyak. Wkwkwk

    Comment on chapter Rasa 21
  • AlifAliss

    Kok aku ikut-ikutan bisa logat sunda yah baca ini wkwkwk

    Comment on chapter Rasa 6
  • AlifAliss

    Gue juga jatuh cinta ama Sabi, tapi gak apa-apa kalau keduluan Danu. ????

    Comment on chapter Rasa 2
  • AlifAliss

    Jatuh di hadapan siapa, Nu? Di hadapanku? Eaakk.. ????

    Comment on chapter Rasa 2
Similar Tags
Enigma
18      13     0     
Inspirational
Katanya, usaha tak pernah mengkhianati hasil. Katanya, setiap keberhasilan pasti melewati proses panjang. Katanya, pencapaian itu tak ada yang instant. Katanya, kesuksesan itu tak tampak dalam sekejap mata. Semua hanya karena katanya. Kata dia, kata mereka. Sebab karena katanya juga, Albina tak percaya bahwa sesulit apa pun langkah yang ia tapaki, sesukar apa jalan yang ia lewati, seterjal apa...
Secret Garden
3      3     0     
Romance
Bagi Rani, Bima yang kaya raya sangat sulit untuk digapai tangannya yang rapuh. Bagi Bima, Rani yang tegar dan terlahir dari keluarga sederhana sangat sulit untuk dia rengkuh. Tapi, apa jadinya kalau dua manusia berbeda kutub ini bertukar jiwa?
Move On
5      5     0     
Romance
"Buat aku jatuh cinta padamu, dan lupain dia" Ucap Reina menantang yang di balas oleh seringai senang oleh Eza. "Oke, kalau kamu udah terperangkap. Kamu harus jadi milikku" Sebuah awal cerita tentang Reina yang ingin melupakan kisah masa lalu nya serta Eza yang dari dulu berjuang mendapat hati dari pujaannya itu.
Nadine
60      15     0     
Romance
Saat suara tak mampu lagi didengar. Saat kata yang terucap tak lagi bermakna. Dan saat semuanya sudah tak lagi sama. Akankah kisah kita tetap berjalan seperti yang selalu diharapkan? Tentang Fauzan yang pernah kehilangan. Tentang Nadin yang pernah terluka. Tentang Abi yang berusaha menggapai. dan Tentang Kara yang berada di antara mereka. Masih adakah namaku di dalam hatimu? atau Mas...
Siasat Penulis Pemula
45      27     0     
Inspirational
Buku ini ditujukan untuk penulis pemula yang masih binggung terutama bagaimana cara untuk percaya diri dalam menerbitkan buku, cara menerbitkan buku, dan rahasia seputar penerbitan buku. Buku ini menyajikan banyak informasi yang sangat dibutuhkan oleh seorang penulis pemula melalui berbagai tips menarik, dan disertai juga rangkuman pada setiap akhir bab. Buku ini juga dilengkapi dengan wawancara ...
Namaste Cinta
120      30     0     
Romance
Cinta... Satu kata yang tak pernah habisnya menghadirkan sebuah kisah...
CATATAN DR JAMES BONUCINNI
29      17     0     
Mystery
"aku ingin menawarkan kerja sama denganmu." Saat itu Aku tidak mengerti sama sekali kemana arah pembicaraannya. "apa maksudmu?" "kau adalah pakar racun. Hampir semua racun di dunia ini kau ketahui." "lalu?" "apa kau mempunyai racun yang bisa membunuh dalam kurun waktu kurang dari 3 jam?" kemudian nada suaranya menjadi pelan tapi san...
NI-NA-NO
14      10     0     
Romance
Semua orang pasti punya cinta pertama yang susah dilupakan. Pun Gunawan Wibisono alias Nano, yang merasakan kerumitan hati pada Nina yang susah dia lupakan di akhir masa sekolah dasar. Akankah cinta pertama itu ikut tumbuh dewasa? Bisakah Nano menghentikan perasaan yang rumit itu?
Manusia
32      15     0     
Romance
Manu bagaikan martabak super spesial, tampan,tinggi, putih, menawan, pintar, dan point yang paling penting adalah kaya. Manu adalah seorang penakluk hati perempuan, ia adalah seorang player. tak ada perempuan yang tak luluh dengan sikap nya yang manis, rupa yang menawan, terutama pada dompetnya yang teramat tebal. Konon berbagai macam perempuan telah di taklukan olehnya. Namun hubungannya tak ...
If Only
6      5     0     
Short Story
Radit dan Kyra sudah menjalin hubungan selama lima tahun. Hingga suatu hari mereka bertengkar hebat dan berpisah, hanya karena sebuah salah paham yang disebabkan oleh pihak ketiga, yang ingin menghancurkan hubungan mereka. Masih adakah waktu bagi mereka untuk memperbaiki semuanya? Atau semua sudah terlambat dan hanya bisa bermimpi, "seandainya waktu dapat diputar kembali".