Read More >>"> DanuSA (Rasa 3) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - DanuSA
MENU
About Us  

Embusan angin menyapa pelan dedaunan rindang, menimbulkan gemerisik hingga menyebabkan beberapa daun yang termakan usia harus merelakan dirinya terlepas dari ranting yang menopang dirinya selama ini, sementara semburat mentari mengintip bumi dari celahnya memberi hangat setelah dingin menyelimutinya semalaman. Pagi yang sempurna.

Di sana di balik pintu pagar miliknya iris coklat cowok itu mengintip di sela-sela celah kecil pagar kayu rumahnya, tubuhnya sedikit membungkuk ia menunggu sosok yang ditunggunya sejak tadi. Gadis yang ia libatkan dalam masalahnya dengan Clara kemarin siang, ia ingin berterimakasih sekaligus meminta maaf. Ia berpikir akan aneh jika ia tidak mengatakan apapun karena pada kenyataannya keberadaan Sabina kemarin benar-benar membantunya terlepas dari Clara. Cowok itu -Danu melirik jam di tangannya ia sangat yakin jika Sabina belum berangkat ke sekolah.

"Sial, gelagat gue udah kayak pencuri gini. Padahal nanti juga ketemu di sekolah," batinnya keheranan dengan tingkahnya sendiri. Tepat ketika ia ingin mengakhiri pengintaiannya, suara keibuan terdengar di telinganya.

"Aden ngapain di situ?"

Suara hangat itu mengejutkannya, ia segera berpindah dari tempatnya.

"Uh? Nggak Bi, tadi ada itu. Anu...," Danu menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, ia berpikir keras mencari-cari alasan yang cukup logis karena ia tidak mungkin mengatakan jika ia tengah menunggu Sabina. Mau ditaruh di mana harga dirinya? "Ada anjing di luar Bi. Takut mau keluar."

Alis wanita berdaster itu mengerut, tangannya bergerak membuka sedikit pintu untuk memastikan, "Perasaan nggak ada yang pelihara anjing di sini."

Mampus.

"Danu salah lihat kali, Bi."

Mata Danu menangkap sosok yang baru membuka pintu pagar rumah kosong di depannya. Penampilannya seperti biasa rambut sebahu yang dibiarkan tergerai. Namun, kali ini ia memakai hoodie berwarna putih dan skinny jeans berwarna hitam. Untuk ekspresinya tidak usah ditanya.

Seperti yang Danu tahu. Datar.

"Kalo gitu Danu berangkat dulu Bi, jangan kangen ya 3 hari nggak ada Danu. Dah." Danu melangkah dengan menggendong tas punggung yang berisi perlengkapan kemah. Ia berjalan kaki kali ini.

"Hati-hati di jalan Den." Senyum simpul Bi Sumi mengantar kepergian tuannya yang ia sayangi seperti anaknya sendiri.

"Den Danu Den Danu, bilang aja lagi nungguin cewek cantik. Pake bohong segala," gumam Bi Sumi ketika melihat Danu yang berlari kecil menyusul Sabina. Danu menceritakan semua kejadian kemarin pada Bi Sumi. Kecuali tentang Clara tentu saja.

"Sabi!"

Danu mensejajarkan langkahnya dengan Sabina. Gadis itu memilih bergeming seperti yang biasa ia lakukan, matanya lurus menatap trotoar di depannya. Ada sesuatu dalam diri Danu untuk mengetahui lebih dalam tentang Sabina. Mengapa Sabina seperti punya dua kepribadian?

Cowok itu penasaran.

"Makasi buat yang kemaren, ya? Sorry baru bilang, kemaren pas gue mau pulang elo sibuk banget nggak enak ganggu, trus semalam gue nungguin lo pulang tapi sampe gue ngantuk elo nya ga pulang-pulang."

"Hmm," sahut Sabina singkat meskipun ia penasaran mengapa Danu bisa ada di sini. Atau mungkin Danu tinggal di daerah sini?

Gawat.

Sedikit ada rasa khawatir dalam diri gadis itu, entah mengapa ia takut Danu menyebarkan identitas keduanya di sekolah meskipun ia sangat yakin jika tidak akan ada yang peduli dengan dirinya. Karena dari awal ia sudah sukses membuat orang-orang tidak ingin berurusan dengannya.

"Sorry ngelibatin elo, gue terpaksa Bi. Clara ngejar-ngejar gue terus."

Sabina memiringkan kepalanya menghadap Danu, alis kirinya menukik tajam seolah berkata 'ada gitu mimik peduli dari wajah ku?' Namun, Danu salah paham terhadap ekspresi gadis itu.

"Kita putus seminggu yang lalu, tapi dianya masih aja nyariin gue -,"

"Bukan urusanku!" Sabina memotong kalimat cowok yang penuh percaya diri bercerita tentang dirinya, gadis itu memakai topi hoodie-nya lalu melangkah mendahului Danu dan berbelok ke minimarket meninggalkan Danu yang mau tak mau harus menahan malunya. Batin cowok itu menertawai dirinya sendiri, belum ada cewek yang pernah melakukan itu kepadanya dan Sabina ... sukses membuatnya malu. Perasaan kesal yang sebelumnya pernah pudar kini kembali lagi menguasai egonya seperti hari-hari sebelumnya.

Cowok dengan jaket denim itu memutuskan ikut masuk ke minimarket. Batin Sabina menjerit kencang ia tidak mau cowok itu mengikutinya. Berusaha tidak menghiraukan Danu, Sabina segera mengambil 4 bungkus roti sandwich isi cokelat dan 4 kotak susu coklat kesukaannya untuk bekal selama berkemah. Setiap hari sudah menjadi kewajiban menyantap makanan itu, baginya jika lidahnya tidak bertemu dengan kedua benda itu maka hidupnya terasa ada yang kurang.

"Bisa nggak sih kamu nggak ngikutin aku?!" Sabina sedikit menekan suaranya agar tidak menarik perhatian beberapa pengunjung minimarket. Semburat kesal tercipta pada mata lebarnya.

"Siapa yang ngikutin elo? Jangan ge er deh, gue mau beli roti juga!" Danu mengambil sebuah roti sandwich rasa keju ia juga meraih sebotol air mineral ukuran tanggung kemudian berlalu ke kasir meninggalkan Sabina yang mendengkus kesal karena menyesal telah memutuskan berbicara.

Entah mengapa dia yakin jika cowok itu akan membuat harinya menjadi menyebalkan. Gadis itu tidak menyangkal jika Danu memiliki paras tampan, rambut hitam lebat bergaya spike yang terkesan sassy, alis tebal, hidung mancung, rahang tegas serta bibir berwarna merah muda sangat sesuai dengan tipikal cowok berwajah maskulin yang selalu menjadi idaman para gadis. Namun tentu saja hal itu tidak mampu membuat Sabina tertarik kepadanya karena sudah menjadi rahasia umum jika jenis cowok seperti itu hanya senang mempermainkan perempuan.

Danu keluar terlebih dahulu dan berjalan perlahan sementara Sabina baru keluar beberapa menit kemudian. Sabina melihat Danu di depannya dengan perasaan kesal ia kembali mendengkus lalu mempercepat langkah kakinya mendahului Danu. Ia menghela napas lega ketika mengetahui jika Danu tidak menyusulnya.


????????????

"Ayo cepat-cepat, hutan sudah menunggu." Pria berbadan tinggi tegap itu mengawal para siswanya yang memasuki bus.

"Pak Bambang, boleh ya aku duduk sama Danu." Gisel memohon di antara barisan, Danu yang ada di depannya memutar mata kesal.

"Terserah, yang penting semua masuk dan duduk."

Neraka bakal mengungkung gue selama perjalanan.

"Yes, asik. Ayo Nu cepetan."

"Sabina," panggil Pak Bambang ketika Sabina ingin memasuki bus, ia murid terakhir yang harus masuk. Gadis itu memilih urutan terakhir tidak peduli mau duduk di mana atau dengan siapa.

"Ya?"

"Udah bawa bekal?"

Sabina mengangguk pelan sudut bibirnya sedikit terangkat hanya agar ia terlihat lebih sopan. Guru olahraga itu mengangguk dan menyuruh Sabina naik ke dalam bus.

Pak Bambang guru yang selalu berusaha berbicara dengan Sabina, tidak seperti guru lainnya yang lebih memilih diam yang penting Sabi mengerjakan tugas selesai. Pak Bambang selalu berinteraksi dengannya dan Sabina menanggapi seadanya.

Kursi urutan paling belakang, bersama gadis berkacamata tebal namun rambut sepunggungnya tidak dikepang dua seperti nerd yang selalu digambarkan selama ini -Ratna si kutu buku berusaha tersenyum pada Sabina.

"Hai," sapa gadis berponi itu. Sabina tersenyum singkat kali ini ia benar-benar tersenyum karena bersyukur setidaknya ia tidak bersama siswa lain yang senang mengeluh. Ia tahu jika Ratna sangat pendiam jadi ia tidak perlu memikirkan apa yang akan dikatakan temannya itu nantinya. Dan ia bersyukur ia akan satu tenda dengan Ratna nanti.

Kegaduhan terdengar di barisan tengah hingga depan di mana para siswa populer menguasai wilayah itu, gelak tawa mengiringi perjalanan mereka namun Sabina memilih diam berusaha mencari keheningan dengan menatap keluar jendela. Sesekali batinnya mencemooh suara Gisel yang tertangkap di pendengarannya, gadis itu selalu senang menjadi pusat perhatian.

Sabina menyadari si Kutu buku ikut mendengus di sampingnya ketika mendengar Gisel dengan percaya dirinya mengukuhkan jika dirinya adalah yang paling cantik di sini.

"Kamu nggak suka sama Gisel?" tanya Sabina pelan, ia penasaran mengapa si Kutu buku itu berani melakukan itu karena biasanya di kelas Ratna hanya akan diam menunduk jika kelompok Ratu Lebah itu membuat gara-gara dengannya.

Yang diajak bicara menoleh tidak percaya, seakan suara yang baru saja ia dengar adalah suara emas yang paling ditunggu-tunggu seantero warga sekolah.

"Uh? Oh, siapa sih yang suka sama dia? Kurasa cowok dengan IQ yang sama dengannya yang tergila-gila sama dia. Denger sendirikan dari tadi cuma cowok dengan prestasi rendah yang godain dia." Ratna berbisik sambil sedikit mengernyit jijik. Mau tak mau Sabina menyetujui perkataan Ratna. Sejak tadi yang ia tidak mendengar Danu ataupun cowok berprestasi lainnya yang menanggapi Gisel meskipun gadis itu selalu saja memanggil nama Danu.

Hening kembali membentang setelah percakapan singkat itu, setidaknya Sabina senang ternyata ada yang sependapat dengannya. Gisel itu sangat berisik.

Sabina menangkap gerak gerik tak nyaman dari Ratna yang sejak tadi mencuri pandang terhadapnya, hingga membuatnya menoleh sambil menatapnya dengan tatapan bertanya.

"Enggak Bi, cuma aneh aja. Kamu ngomong sama aku tadi, ya?"

Batin Sabina tergelak, "Ya."

Ratna mengangguk meninggalkan tanda tanya dalam kepala Sabina.

"Nyadar nggak sih Bi ini pertama kalinya kamu ngajak bicara aku?"

Tentu saja Sabina menyadarinya, predikat kutu buku yang digelar Ratna membuatnya tidak punya teman jarang ada yang mengajaknya bicara hingga membuatnya terkesan pendiam padahal sebenarnya ia ingin sekali bergaul dengan banyak teman.

Sabina tersenyum, "Ya."
.

.

Udara segar langung menyambut para murid SMA Harapan yang berhambur keluar dari bus. Pohon-pohon menjulang tinggi yang tertiup angin seolah menyambut kedatangan mereka.

"Seger ya, nggak kayak di Jakarta," seru salah seorang siswa dan disahuti perkataan setuju oleh yang lainnya.

"Anak-anak."

Suara dari speaker menginterupsi kekaguman para siswa kelas 11 itu terhadap hutan hijau di sekitarnya. Mereka menghadap ke arah para guru yang sudah berkumpul.

"Langsung ya pada bikin tenda sesuai kelompok yang sudah dibikin kemarin. Habis itu baru kita istirahat dan melanjutkan kegiatan berikutnya."

Seluruh siswa menjawab serentak, "Baik, Bu Susi."

Jangan lupa vomment ????

Jangan lupa vomment ????

 

 

 

How do you feel about this chapter?

1 1 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (12)
  • YulianaPrihandari

    @DanFujo itu awalnya blm ada adegan ngambil fotonya Danu buat jaga-jaga, tapi karena ada komen dari @drei jadi saya tambahin biar ada alasannya (sebab akibat).

    Nggak perlu jadi kakak atau adik, cukup jadi sahabat yang "peka" dengan sahabatnya hehe. Temen-temennya Danu pada nggak peka karena Danu cukup pintar menyembunyikan masalahnya hehe

    Comment on chapter Rasa 24
  • DanFujo

    @drei Menurutku itu biasa sih. Kan cuma curiga di awal doang, abis itu hapenya udah jadi hak dia juga. Kurang lebih bahasanya: udah kebukti ni anak lagi butuh. Lagipula dia bilang kayak gitu juga cuma akal-akalan biasa pedagang Wkwkwk

    Btw, @YulianaPrihandari Ini gue pengen banget jadi kakak atau adeknya Danu, biar dia gak sendirian gitu. Biar kalau ada masalah ada tempat curhat gitu. Kok rasanya sedih banget yah pas dia minta penjelasan dari ibunya. Membulir juga air mataku. Meski gak menetes :"

    Comment on chapter Rasa 24
  • YulianaPrihandari

    @drei si Abangnya terlalu kasian sama Danu wkwkwk

    Comment on chapter Rasa 2
  • YulianaPrihandari

    @AlifAliss terimakasih sudah membaca :):)

    Comment on chapter Rasa 2
  • drei

    si abang konter ceritanya nuduh danu nyopet, tapi minjemin motor kok mau? ^^'a motor kan lebih mahal dari hape haha... (kecuali itu bukan motor punya dia)

    Comment on chapter Rasa 7
  • drei

    wah menarik nih... starting off well. will definitely come back. XDD

    Comment on chapter Rasa 2
  • AlifAliss

    Dukung banget buat diterbitkan, meskipun kayaknya harus edit banyak. Wkwkwk

    Comment on chapter Rasa 21
  • AlifAliss

    Kok aku ikut-ikutan bisa logat sunda yah baca ini wkwkwk

    Comment on chapter Rasa 6
  • AlifAliss

    Gue juga jatuh cinta ama Sabi, tapi gak apa-apa kalau keduluan Danu. ????

    Comment on chapter Rasa 2
  • AlifAliss

    Jatuh di hadapan siapa, Nu? Di hadapanku? Eaakk.. ????

    Comment on chapter Rasa 2
Similar Tags
Stay With Me
6      6     0     
Romance
Namanya Vania, Vania Durstell tepatnya. Ia hidup bersama keluarga yang berkecukupan, sangat berkecukupan. Vania, dia sorang siswi sekolah akhir di SMA Cakra, namun sangat disayangkan, Vania sangat suka dengan yang berbau Bk dan hukumuman, jika siswa lain menjauhinya maka, ia akan mendekat. Vania, dia memiliki seribu misteri dalam hidupnya, memiliki lika-liku hidup yang tak akan tertebak. Awal...
IMAGINATIVE GIRL
45      18     0     
Romance
Rose Sri Ningsih, perempuan keturunan Indonesia Jerman ini merupakan perempuan yang memiliki kebiasaan ber-imajinasi setiap saat. Ia selalu ber-imajinasi jika ia akan menikahi seorang pangeran tampan yang selalu ada di imajinasinya itu. Tapi apa mungkin ia akan menikah dengan pangeran imajinasinya itu? Atau dia akan menemukan pangeran di kehidupan nyatanya?
JUST A DREAM
5      5     0     
Fantasy
Luna hanyalah seorang gadis periang biasa, ia sangat menyukai berbagai kisah romantis yang seringkali tersaji dalam berbagai dongeng seperti Cinderella, Putri Salju, Mermaid, Putri Tidur, Beauty and the Beast, dan berbagai cerita romantis lainnya. Namun alur dongeng tentunya tidaklah sama kenyataan, hal itu ia sadari tatkala mendapat kesempatan untuk berkunjung ke dunia dongeng seperti impiannya....
Satu Koma Satu
136      29     0     
Romance
Harusnya kamu sudah memudar dalam hatiku Sudah satu dasawarsa aku menunggu Namun setiap namaku disebut Aku membisu,kecewa membelenggu Berharap itu keluar dari mulutmu Terlalu banyak yang kusesali jika itu tentangmu Tentangmu yang membuatku kelu Tentangmu yang membirukan masa lalu Tentangmu yang membuatku rindu
When You're Here
32      16     0     
Romance
Mose cinta Allona. Allona cinta Gamaliel yang kini menjadi kekasih Vanya. Ini kisah tentang Allona yang hanya bisa mengagumi dan berharap Gamaliel menyadari kehadirannya. Hingga suatu saat, Allona diberi kesempatan untuk kenal Gamaliel lebih lama dan saat itu juga Gamaliel memintanya untuk menjadi kekasihnya, walau statusnya baru saja putus dari Vanya. Apa yang membuat Gamaliel tiba-tiba mengin...
Untouchable Boy
14      7     0     
Romance
Kikan Kenandria, penyuka bunga Lily dan Es krim rasa strawberry. Lebih sering dikenal dengan cewek cengeng di sekolahnya. Menurutnya menangis adalah cara Kikan mengungkapkan rasa sedih dan rasa bahagianya, selain itu hal-hal sepele juga bisa menjadi alasan mengapa Kikan menangis. Hal yang paling tidak disukai dari Kikan adalah saat seseorang yang disayanginya harus repot karena sifat cengengnya, ...
Me vs Idol
4      4     0     
Romance
Rinai Hati
3      3     0     
Romance
Patah hati bukanlah sebuah penyakit terburuk, akan tetapi patah hati adalah sebuah pil ajaib yang berfungsi untuk mendewasakan diri untuk menjadi lebih baik lagi, membuktikan kepada dunia bahwa kamu akan menjadi pribadi yang lebih hebat, tentunya jika kamu berhasil menelan pil pahit ini dengan perasaan ikhlas dan hati yang lapang. Melepaskan semua kesedihan dan beban.
Attention Whore
2      2     0     
Romance
Kelas dua belas SMA, Arumi Kinanti duduk sebangku dengan Dirgan Askara. Arumi selalu menyulitkan Dirgan ketika sedang ada latihan, ulangan, PR, bahkan ujian. Wajar Arumi tidak mengerti pelajaran, nyatanya memperhatikan wajah tampan di sampingnya jauh lebih menyenangkan.
Rasa yang Membisu?
4      2     0     
Romance
Menceritakan 4 orang sahabatnya yang memiliki karakter yang beda. Kisah cerita mereka terus terukir di dalam benak mereka walaupun mereka mengalami permasalahan satu sama lain. Terutama kisah cerita dimana salah satu dari mereka memiliki perasaan terhadap temannya yang membuat dirinya menjadi lebih baik dan bangga menjadi dirinya sendiri. Pertemanan menjadikan alasan Ayu untuk ragu apakah pera...