Read More >>"> Suara Kala (4. Alasan) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Suara Kala
MENU
About Us  

    “Enak dihukum?”

    Segelas jus jeruk dan sepiring nasi goreng yang nangkring tiba-tiba di meja depan Ardy membuatnya tersentak. Saat kepalanya mendongak, ekspresi mengejek Kana menyambutnya.

    “Enak banget. Mau lagi.” Ardy nyengir lebar. “Palingan Kepsek laporan ke Bokap, trus Bokap nyalahin Nyokap karena gagal didik anak, trus Nyokap ikut nyalahin Bokap karena lepas tanggung jawab … ya, gue udah hafal sih.”

    Kalimat Ardy terjeda. Ia menelan ludah.

    “Tiga taun di SMP, gue usaha mati-matian buat wujutin maunya Bonyok. Tapi, enggak ada tuh yang berubah. Mungkin mereka harus mulai nerima kenyataan kalau enggak semua anak punya kecerdasan kognitif. Gue misalnya. Kemampuan gue cenderung ke psikomotorik.”

    “Coba deh bilang baik-baik ke bonyok lo kalau lo maunya jadi pelukis, bukan apa pun itu yang mereka penginin hingga harus-selalu-always-must dapat nilai perfect di sekolah.”

    “Gue enggak peduli lagi pada cita-cita bodoh dan enggak dianggap itu. Toh, hidup gue tinggal 29 hari la—”

    “Enggak usah bahas gitua napa sih!” Alis Kana mengerut tak setuju. Jus jeruk di depannya segera ia sambar dan seruput. Kecut. Kecut banget. Lebih kecut dari ekspresi mukanya setelah mendengar ucapan Ardy.

    “Lo masih enggak percaya sama gue? Lo juga ngira gue mabok lem kayak anak-anak yang laen?”

    “Ya kali aja,” respon Kana beberapa saat sebelum menyendok nasi goreng ke dalam mulutnya.

    Pundak Ardy terangkat. Terserah Kana, mau percaya atau tidak.

    Kalau bisa, Ardy juga mau pura-pura tidak percaya. Tapi, laki-laki berpakaian serba hitam di bangku kosong sana terlalu nyata untuk disangkal kehadirannya oleh Ardy.

    Ardy menarik napas dan menghela dalam-dalam. Barangkali kematiannya akan jadi pelajaran buat orangtuanya. Agar orangtuanya sadar, tiap anak diciptakan dengan bakat dan minat yang berbeda. Ardy, misalnya. Ia tak punya minat dan bakat di Matematika dan IPA, tapi sangat jago melukis. Sayang, bagi mama dan papanya, memiliki bakat di bidang seni tak ada gunanya jika nilai raport di bawah delapan.

    “Gimana rasanya mati?” tanya Ardy tiba-tiba, setelah detik demi detik melarutkan mereka dalam hening. Kana yang sedang menyeruput jus jeruk tersedak. Hidungnya perih. Matanya merah. Entah karena tersedak, atau entah karena … ia tak bisa membayangkan kalau suatu hari nanti, Ardy tiba-tiba hilang dari hidupnya.

    “Gimana rasanya mati?”

    Ardy mengulang pertanyaannya. Pertanyaan yang sejujurnya tak ia tujukan pada siapa pun selain dirinya sendiri. Mendengar pertanyaan Ardy untuk kedua kalinya, Kana mengangkat wajah dengan gerakan lambat, seakan ada efek slowmotion yang diciptakan semesta pada gerakannya.

    “Gue enggak suka kalau lo terus-terusan bahas sesuatu yang enggak bisa dijelaskan denganlogika.”

    Ardy tertawa. Memang tak bisa dijelaskan dengan logika. Sangat! Tapi dia yakin, laki-laki bernama Arsen itu bukan delusinya. Ia yakin, Arsen itu maya yang nyata.

    “Gue serius, Ka.”

    “Lo ke pemakaman, gali salah satu makam, trus lo tanya sama tengkorak di sana, gimana rasanya mati.

    “Lo sewot banget sih.”

    “Biarin. Suruh siapa ngelantur mulu?”

    “Kana, gue tuh nggak—”

    “Jangan buang-buang waktu gue gara-gara delusi lo! Gue udah berkali-kali bilang Ardy, berenti nge-lem!”

    “Iya. Gue tau ngelem itu nggak elit sama sekali. Besok gue bakal ngisap ganja!”

    TAK!

    Punggung telunjuk Kana melayang bebas ke jidat Ardy.

    “Salah gue paan, ya Looooord?! Sakit banget, Kana!”

    Kana tak menggubris. Ia kembali menyantap nasi gorengnya.

    “Lo takut gue mati ya, Ka?”

    “Ardy, diem deh!”

    “Gue penasaran, penyebab kematian gue apaan, ya?”

    “Ngomong gitu sekali lagi, gue pergi, nih!” ancam Kana tanpa menatap Ardy. Ia pura-pura sibuk mencari potongan jamur di antara nasi berwarna merah.

    Ardy tertawa. “Mungkin karena bunuh diri kali, ya. Atau dibunuh Bokap saking frustrasinya punya anak kayak gue.”

    Kana mendengus. Tanpa bilang apa-apa, ia bangkit sembari mengangkat piring dan jus jeruknya, lalu meninggalkan Ardy.

    Benar-benar tak Ardy duga, Kana benar-benar ngambek.

    Dasar Kana aneh. Beberapa hari lalu, dia bilang bakal melanjutkan hidup kalau Ardy mati. Tapi, Ardy belum mati saja dia sudah begitu.

    Hoah, dasar cewek! Lain di hati lain di mulut.

    Ardy nyengir lebar saat Kana yang duduk sendirian di sudut kantin memonyongkan bibir untuk mengejeknya.

    Kalau gue mati, lo benar-benar harus lanjutin hidup, Kana.

    “Apa enaknya duduk di kantin tanpa memesan apa pun? Menambah populasi karbon oksida di kantin saja.”

    Ardy terlonjak kaget saat Arsen tiba-tiba duduk di depannya, menggantikan posisi Kana.

    “Serah gue. Pantat, pantat gue.” Ardy memberengut. Kurang kerjaan banget meladeni Arsen. Sementara anak-anak di kantin sudah menyatukan pandangan, menatap ke arahnya.

    Alah, Ardy sudah hafal asumsi mereka. Mereka pasti mengira Ardy berhalusinasi karena mabok lem. No problem. Asumsi abal-abal itu bisa jadi senjata ampuh bagi Ardy tiap kali dia meladeni Arsen.

    “Kamu nyolot sekali, ya.”

    “Serah gue! Mulut, mulut gue.”

    Arsen bersedekap.

    “Lantas, tujuan kamu duduk di sini untuk apa kalau bukan makan?”

    “Gue mau liat siapa aja teman satu sekolah gue dan ingat wajah mereka satu per satu.”

    Tawa sarkas mengalun dari pitas suara Arsen. “Kurang kerjaan.”

    Pundak Ardy terangkat tak acuh. “Kalau kita mati, apa kita akan ingat semua orang yang pernag kita temui?”

    Arsen ikut mengangkat pundak. Ia tak tahu jawaban dari pertanyaan Ardy.

    “Lo enggak tau? Malaikat apaan lo?”

    “Pertama, saya bukan malaikat. Kedua, andai saya tahu jawaban dari pertanyaan kamu, saya tidak akan ada di sini.”

    Mata Ardy memicing. “Maksud lo?”

    “Kamu pikir saya mau membuntuti kamu ke mana-mana tanpa alasan jelas?”

    “Jelasin dengan sederhana.”

    “Kamu tidak perlu tahu. Yang jelas, kita harus menjalin simbiosis mutualisme. Saya bantu kamu, kamu bantu saya. Saya untung, kamu untung.”

    “Maksud lo?”

    “Jalani hidup kamu sebaik-baiknya, Ardy. Dengan begitu, kamu sudah membantu saya.”

    Ardy tertawa keras. Kali ini bukan hanya siswa yang menatap ke arahnya, tapi juga penjual di kantin.

    Juga sepasang mata yang mengerjap cepat, berusaha menghalau hening yang dari tadi hendak tumpah ruah, untuk membasuh rongga dadanya yang terasa gersang. Seakan oksigen tertolak di dalam sana.

How do you feel about this chapter?

0 1 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (9)
  • Khanza_Inqilaby

    @isnainisnin Udah diperbaiki, Ukh. Jazakillah (Ga bisa emot ^^
    kalem banget emotnya XD

    Comment on chapter 4. Alasan
  • Isnainisnin

    Part ini banyak typonya, Kak hehe.
    Beneran ngga bisa pake emot ternyata >_<

    Comment on chapter 4. Alasan
  • Khanza_Inqilaby

    Alhamdulillah ^^ (ga bisa pake emot T,T)

    Comment on chapter Suara Kala
  • Isnainisnin

    Iya sudah kebaca kok, Kak.

    Comment on chapter Suara Kala
  • dede_pratiwi

    nice story ditunggu kelanjutannya :)

    Comment on chapter Suara Kala
  • Khanza_Inqilaby

    Namanya Lazuardy. Aku emang labil. Jazakillah khoir sudah berkunjung, Ukh. Insyaallah lanjut dong ^^

    Balasan komenku kebaca nggak nih? Aku ngga tau caranya balas komen :&quot;(

    Comment on chapter 3. Nyata
  • Isnainisnin

    Ah iya, ini masih lanjut kan, Kak?

    Comment on chapter 3. Nyata
  • Isnainisnin

    Ini namanya Ardy, Lazuardi atau Lazuardy? Kok beda-beda.

    Comment on chapter 3. Nyata
  • Isnainisnin

    Tulisan kakak bagus, aku suka cerita yang kayak gini. Kayak muhasabah :)

    Comment on chapter 1. Hitam
Similar Tags
Si Mungil I Love You
3      3     0     
Humor
Decha gadis mungil yang terlahir sebagai anak tunggal. Ia selalu bermain dengan kakak beradik, tetangganya-Kak Chaka dan Choki-yang memiliki dua perbedaan, pertama, usia Kak Chaka terpaut tujuh tahun dengan Decha, sementara Choki sebayanya; kedua, dari cara memperlakukan Decha, Kak Chaka sangat baik, sementara Choki, entah kenapa lelaki itu selalu menyebalkan. "Impianku sangat sederhana, ...
Delilah
94      35     0     
Romance
Delilah Sharma Zabine, gadis cantik berkerudung yang begitu menyukai bermain alat musik gitar dan memiliki suara yang indah nan merdu. Delilah memiliki teman sehidup tak semati Fabian Putra Geovan, laki-laki berkulit hitam manis yang humoris dan begitu menyayangi Delilah layaknya Kakak dan Adik kecilnya. Delilah mempunyai masa lalu yang menyakitkan dan pada akhirnya membuat Ia trauma akan ses...
Teman
14      8     0     
Romance
Cinta itu tidak bisa ditebak kepada siapa dia akan datang, kapan dan dimana. Lalu mungkinkah cinta itu juga bisa datang dalam sebuah pertemanan?? Lalu apa yang akan terjadi jika teman berubah menjadi cinta?
Stay With Me
6      6     0     
Romance
Namanya Vania, Vania Durstell tepatnya. Ia hidup bersama keluarga yang berkecukupan, sangat berkecukupan. Vania, dia sorang siswi sekolah akhir di SMA Cakra, namun sangat disayangkan, Vania sangat suka dengan yang berbau Bk dan hukumuman, jika siswa lain menjauhinya maka, ia akan mendekat. Vania, dia memiliki seribu misteri dalam hidupnya, memiliki lika-liku hidup yang tak akan tertebak. Awal...
Alfabet(a) Cinta
79      34     0     
Romance
Alfa,Beta,Cinta? Tapi sayangnya kita hanya sebatas sahabat. Kau yang selalu dikelilingi wanita Dan kau yang selalu mengganti pacarmu setiap bulannya
Abnormal Metamorfosa
26      12     0     
Romance
Rosaline tidak pernah menyangka, setelah sembilan tahun lamanya berpisah, dia bertemu kembali dengan Grey sahabat masa kecilnya. Tapi Rosaline akhirnya menyadari kalau Grey yang sekarang ternyata bukan lagi Grey yang dulu, Grey sudah berubah...Selang sembilan tahun ternyata banyak cerita kelam yang dilalui Grey sehingga pemuda itu jatuh ke jurang Bipolar Disorder.... Rosaline jatuh simpati...
Happiness Is Real
2      2     0     
Short Story
Kumpulan cerita, yang akan memberitahu kalian bahwa kebahagiaan itu nyata.
I'm Possible
26      20     0     
Romance
Aku mencintaimu seiring berjalannya waktu, perasaanku berubah tanpa ku sadari hingga sudah sedalam ini. Aku merindukanmu seiring berjalannya waktu, mengingat setiap tatapan dan kehangatanmu yang selalu menjadi matahariku. Hingga aku lupa siapa diriku. -Kinan Katakan saja aku adalah separuh hidupmu. Dengan begitu kamu tidak akan pernah kehilangan harapan dan mempercayai cinta akan hadir tepat ...
Two World
27      9     0     
Fantasy
Ketika mimpimu terasa nyata Hingga kamu merasa bingung dunia mana yang seharusnya kamu tinggali ...
Akselerasi, Katanya
4      4     0     
Short Story
Kelas akselerasi, katanya. Tapi kelakuannya—duh, ampun!