Read More >>"> Phsycopath vs Indigo (Interdimentional 2) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Phsycopath vs Indigo
MENU
About Us  

“Fyan…!”

Mata sayu dan senyum itu masih sama terlukis diwajahnya. Pucat wajah itu. Mengapa dia berada diruang kematian. Bukankah dia belum mati?

“Feyandra!!!” teriakkan seseorang mengeluarkanku dari dimensi biru itu. Terbangun. Aku mengedip-kedipkan mataku, karena semuanya masih nampak buram. Aku melihat sekelilingku, dimana pak Araka tengah dikerumuni orang-orang. Ia dibawah kerumah sakit untuk diotopsi. Sedangkan aku? Masih bingung, ketika beberapa orang menanyakan ini itu kepadaku. Aku seperti orang bodoh, yang hanya celingak-celinguk ketika ditanya. Namun setidaknya aku bisa bernapas lega, ketika melihat orang yang berdiri disampingku itu. Tak lain Fyan.

                “Pak, untuk sementara biarkan dia menenangkan diri dulu.” Ucap Fyan. Kemudian laboratorium itu sepi kembali, hanya ada aku dan Fyan kali ini. “Aku memang tidak ingat apa-apa, namun aku tidak bodoh. Aku kan yang membunuh pak Araka? Karena.. karena aku.. aku punya penyakit psikopat dan setelah aku membunuh, aku lupa apa yang terjadi kan?” tanya Fyan setengah menegas. Aku menggigit bibir bawahku. “Tidak perlu kamu bicara aku tau jawabannya.” Ucap Fyan singkat dan pergi dengan wajah yang kusut.

                Sedangkan diri ini masih mematung. Aku masih terpaku atas apa yang aku lihat tadi, sebuah pengkhianatan besar apabila aku mengungkap betapa bejatnya temanku. Namun, jika aku tidak mengungkap pembunuhan itu, bukankah namanya bersekongkol? Terkadang, Tuhan itu terlalu baik kepada seorang penjahat. Mengapa dia yang berdosa terlihat suci tak bernoda?

                Aku tidak menyadari, ternyata malam telah berada pada sosok angin yang meninggalkan hujan dibawah terangnya bulan purnama. Hujan berbulan. “Aku dapat melihat portal masalalu, apa aku dapat mengulang masalalu?” ujarku, dan segera bangkit dari laboratorium itu setelah sekian lama duduk.

                “Tidak!” ucap seseorang dibelakangku. Suara yang amat tidak asing lagi. Aku membalikkan tubuhku menghadapnya. Dan benar saja! Dia pembunuh berdarah dingin itu..

                Sahabatku sendiri..

                “Alice!” ujarku, dadaku berdegup lebih kencang dari biasanya saat melihat pisau-pisau yang ia pegang. “Kamu ingin membunuhku? Sahabatmu sendiri?!” ujarku ternganga.

“Sahabat? Sahabatku adalah pisau-pisau ini, tajamnya, goresannya, kilapnya, dan setiap tetes darah yang keluar dari hasil pisau ini tidak pernah mengkhianati aku. TIDAK SEPERTI KAMU YANG MENGKHIANATI TEMANMU SENDIRI! Ups, maksudku SAHABAT.” Ucap Alice dengan meninggi-ninggikan suaranya.

                “Apa? Apa maksudmu?” tanyaku.

“Kau taukan sebab aku membunuh Riana dan adiknya itu apa? Karena aku.. menyukai Fyan! Dan aku ingin membunuh Fyan! Tapi.. tapi aku membunuh sahabatku sendiri.” Ucap Alice seraya menangis. Apa dia sudah gila? Tatapannya kosong, emosinya melunjak, tapi dia menangis. “Fyan, seharusnya dia sudah mati! Adik dari Riana mengetahui semuanya, dan dia ingin membongkarnya, lalu.. lalu aku bunuh juga adik dari sahabatku sendiri.. he he, tapi tidak masalah aku senang melakukan itu!” lanjutnya. Aku mengerutkan alisku, dia memang benar-benar sudah gila! Perubahan ekspresinya begitu cepat. Dari menangis, sekarang tertawa. Apa dia phsycopath???

                “Lalu? Kau mau apa! Membunuhku? Silahkan!” tegasku. Hari ini aku terlalu berani menawarkan nyawaku padanya. Sampai-sampai aku lupa, bahwa aku sekarang adalah satu-satunya yang harus menghidupi ibu.

“Cih..!!! Tanganku terlalu kotor untuk membunuhmu langsung. Tapi, aku ingin menyiksamu terlebih dahulu. Sama seperti aku menyiksa, pak Erlan, Harmton, kakakmu, dan pak Araka.” Ucapnya tertawa lepas.

                “Dasar wanita iblis!” aku menahan genangan airmata itu, saat aku tau ternyata kakakku sendiri dibunuh olehnya. Aku.. adalah satu-satunya orang yang harus mengungkap ini, ketika semuanya berdiri membisu. Aku coba membuka pintu, tapi siapa yang mengunci pintu ini?

“Setelah kau ingin serahkan nyawamu, sekarang kau mencoba kabur? Hah! Dasar pecundang! Cobalah untuk kabur, aku tidak peduli! Yang pasti, pisau kesayanganku ini akan menancap ditubuh indahmu, dan Fyan hanya akan memandangku.” Ucapnya. Lagi-lagi ia menyeringai jahat, menampakkan barisan gigi-giginya.

                Brakkk!!! Pintu itu terbuka dengan sangat kerasnya, membuat tubuhku terhempas hingga kelantai yang masih berceceran darah tragedi tadi pagi itu. Tanganku terpukul keras oleh kayu pintu. Fyan? Dia datang kesini?

“Jahat kamu, Alice!” ujar Fyan. Wajah Alice berubah drastis menjadi panik, matanya tidak berani menatap mata tajam Fyan itu. “Aku ternyata memang bodoh! Aku frustasi dengan diriku sendiri! Aku kira, akulah orang dibalik pembunuhan ini! Walaupun aku tak ingat siapa diriku, tapi aku ingat siapa dokter yang coba membunuhku itu! kamu..” lanjut Fyan. Mataku bergantian menatap mereka, sedangkan Alice menjatuhkan pisau-pisaunya.

                “Ma.. maaf.” Ucap suara samar-samar Alice dengan wajah penuh penyesalan, namun ekspresi itu berubah kembali, “Tidak! Aku tidak akan meminta maaf kepada kalian! Hahaha, beruntunglah kalian berkumpul disini, jadi kisah cinta kalian akan kandas dalam kematian.”

Fyan menaikkan satu alisnya. Aku yang masih duduk dilantai itu, merasakan urat-urat tanganku yang rasanya hampir mau copot. Tapi urat-urat tangan itu seperti memberontak saat Fyan menarik paksa tanganku. Ternyata tanpa kusadari Fyan menarik tanganku karena pisau Alice hampir menancap pada bagian bahuku. Fyan membawaku kesebuah perpustakaan. Disana, dibalik rak-rak buku Fyan membentakku untuk diam, ya, Alice masuk dengan kasarnya, mendobrak pintu untuk memaksa masuk. Untunglah perpustakaan itu amat luas dan berlantai 3, jadi Alice akan sulit untuk menemui kami.

                “Apa kau ingat semuanya?” Tanyaku kepada Fyan.

“Tidak. Ta..”

                “Fyan awas!” hentakku seraya menarik tubuhnya, ketika Alice berada pada ujung rak yang kami tempati. Alice menjatuhi tinta yang berada pada atas rak tersebut. Tapi Alice, tidak melihat kami.

“Tinta..” Ucap Fyan melihat tinta itu.

                Aku mengerutkan alis.

“Kau harus jadi kertas suci dan inspirasi, bukan puingan abu.. Tapi, kertas suci  itu tak akan tercipta tanpa adanya sebuah tinta..” Ucap Fyan, dengan memejamkan matanya.

Aku sontak kaget mendengar ucapannya. Ucapan yang ia katakan sebelum tragedi kecelakaan itu.

“Aku…. tinta emasmu mu kan?” Tanya Fyan menatapku tajam.

                Aku membekap mulut haru, ternyata ingatannya t’lah kembali.

“Kita harus lawan Alice! Aku ingat semuanya, Alice yang membunuh Riana, Alice yang membunuh kakakmu, Alice yang membunuh Harmton, dan Alice juga yang membunuh banyak orang sehingga aku yang disalahkan sebagai laki-laki psikopat, dan kau.. Wanita pembawa kematian.” Ujar Fyan dengan semangatnya yang mulai membara.

                “Aku tau, tapi gimana caranya? Alice itu sudah lama terlatih menjadi pembunuh berdarah dingin.” Ucapku.

“Sixsense..” ucap Fyan

                “Sixsense? Apa yang harus aku lakukan dengan, dengan…” belum selesai aku berbicara, Fyan langsung menarik telapak tanganku. Tanganku diarahkan pada tumpahan tinta yang berceceran dilantai itu. Entah apa maksudnya…

“Kemampuanmu, tidak akan berguna jadi apa-apa jika hanya kau pendam. Tinta ini akan bisa kau hidupkan. Percaya?” ucap Fyan.

                “Hm, terlalu berbelit-belit kisah kalian!” ucap Alice yang ternyata sudah berdiri dibelakang kami dengan seringai jahatnya itu

. “Fey, lari…” Ucap Fyan dengan suara yang sangat pelan.

                “Lalu, ba..”

“Fey lari!!!” ucap Fyan mendorong Alice, saat itu juga aku lari meninggalkan mereka hanya berdua. Alih-alih bermaksud meminta pertolongan, tapi ternyata gerbang sekolah telah terkunci, bahkan gerbang itu terlalu tinggi untuk aku panjat. Hari ini, yang bisa aku gunakan hanya telekinesisku.

”Ayah, maaf aku menggunakan kemampuan ini.” ujarku. Aku arahkan tanganku digembok itu. tenagaku terkuras, kepalaku tiba-tiba saja pusing, dan tubuhku lagi-lagi lemas. Aku tau, kemampuanku belum setinggi ayah. Aku tidak bisa membuka gembok yang terkunci ini, dan yang terlintas dipikiranku adalah menghubungi ibu. Saat hendak aku menghubunginya, naas perempuan iblis itu membanting handphone dari genggaman ku.

“Jangan jadi pecundang, yang hanya mengandalkan orang lain!” tegas Alice. Mulutku terbungkam, saat melihat pisau yang ujungnya sudah berlumuran darah. Mungkinkah itu darah fyan?

                “Alice, kenapa, kenapa kau seperti ini?!” ucapku. “Aku kira kau orang baik. Kau orang yang pertamakali berteman denganku, orang yang selalu ada disampingku ketika susah, dan sekarang? Kebaikanmu palsu..” lanjutku.

“Tidak begitu.” Ucap Alice lirih, diikuti dengan raut wajahnya yang tiba-tiba sedih. “Aku selalu menjauhimu karena aku tidak ingin hal ini terjadi! Tapi kau selalu mendekatiku, apa boleh buat hahahaha.” Ucap Alice dengan tawanya. Dia seperti orang yang sudah gila, kadang tertawa, kadang juga menangis.

                “Aku mendekatimu karena aku tau, sebenarnya kau orang baik!” ucapku menegaskan.

“Ya, aku baik, tapi dulu..” ucap Alice seraya meremas bahuku. Tiba-tiba ketika tangannya menyentuh bahuku, portal masalalu Alice terbuka.

Flashback

Alice kecil berlarian kesana kemari diikuti gelak tawa kedua orangtuanya. Namun suatu ketika, Alice melihat perdebatan diantara kedua orangtua yang begitu ia sayangi. Ia melihat ayah yang menampar ibunya. Bahkan, ibunya meninggal ditangan sang ayah. Didepan mata Alice, semua adegan dan peristiwa itu terjadi. Ayahnya pergi. Alice kecil bersama seekor kucing peliharaannya menghampiri sang ibu yang telah bermandikan darah. diambil darahnya dan Alice usapkan ke wajahnya.

“Bu, darah ini akan menjadi saksi dari kebiadapan lelaki itu. Demi mayat ibu, Alice janji akan membalas semua dendam ibu. Alice, Alice menyukai darah…” ucapnya. Sejak saat itu, ayah yang begitu ia bangga-banggakan pergi entah kemana. Kejiwaan Alice kecil berlanjut hingga dewasa, setiap masalah yang ia hadapi, selalu ia selesaikan dengan pembunuhan.

                Plakkk!!! Seseorang menepis pisau Alice. Lagi-lagi Fyan. “Hentikan bodoh!” ucap Fyan yang mulai marah. Aku lihat perut kiri Fyan berdarah, namun tangannya menutupi darah itu.

“Aku tau semuanya..” ucapku lirih. “Alice, jika kau tau sikap ayahmu adalah sebuah kejahatan maka berperilakulah jadi orang baik, jangan seperti ayahmu.” Lanjutku

                “Apa maksudmu?!” ucap Alice yang mulai terlihat cemas.

“Aku benci dengan orang sepertimu!” ucapku.

                Daaarrrr!!! Tubuh Alice terpental jauh, aku baru sadar bahwa aku mengucapkan kata yang salah. Aku tidak boleh mengucapkan kata BENCI, Karena jika aku mengucapkannya maka teman batinku akan mendorong orang yang kumaksud. Fyan masih berdiri disampingku, masih dengan darahnya yang mengalir. Aku memejamkan mataku. Mengulang kisah hidupku yang akhir-akhir ini tidak aku pahami. Tentang kekuatan yang aneh, orang-orang yang dibunuh secara misteri, aku yang dituduh sebagai wanita pembawa kematian, temanku yang ternyata seorang psikopat, dan Fyan yang selalu menjadi misteri di hidupku.

“Aku mnghadirkanmu, wahai jiwa-jiwa yang tenang, bangunlah!” ucapku. Semua itu aku ucapkan, untuk menghadirkan kembali ruh-ruh yang sudah dibunuh oleh Alice. Aku terpaksa melakukan itu. Semua ruh yang telah Alice bunuh kini menampakkan diri

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (66)
  • zufniviandhany24

    @SusanSwansh sebelum ada buku itu, cerita saya udah rilis duluan;"

    Comment on chapter My Ability
  • SusanSwansh

    @lanacobalt masa sih, Kak? Kalau kataku mirip cerita Roy Kiyoshi Anak Indigo dan Indra Ke 7. Maklum saya kan suka sinetron horor. Wkwkw

    Comment on chapter My Ability
  • lanacobalt

    Maaf Mbak. EBI-nya berantakan. Enggak tau, ya. Apa mungkin trik agar tidak di-copas? By the way ceritanya agak mirip drama Korea, While You Were Sleeping.

    Comment on chapter Dream Come True
  • zufniviandhany24

    @DeeAnke bukannya sombonh, tapi kalau anda tidak berkenan like pun tidak masalah dan tidak merugikan saya:)
    Karna Alhamdulillah sampai saat ini, saya ada di urutan pertama cerita terfavorit:)

    Comment on chapter My Ability
  • zufniviandhany24

    Satu lagi mas mbaa.. kalau misalnya bikin jemu/ngebosenin ceritanya, knp mas sama mba baca nya smpe akhir?:v

    Sekali lagih makasih kritikannya..
    Namun, karna cerita inilah, saya mendapat ribuan pages, serta ratusan pembaca..

    Comment on chapter My Ability
  • zufniviandhany24

    Dan kalau mas sama mba nya berpikir ceritanya ala-ala sinetron, Berpikir logis aja.. Belum ada ceritanya sinetron ber genre horror????
    Kalau adapun, itu namanya bukan sinetron, tapi film horror

    Comment on chapter My Ability
  • zufniviandhany24

    Terimakasih kritikan nya ya mas mba.. tapi sedikit meluruskan kalau saya sengaja dengan ebi seperti itu, karna dalam kontes ini, tidak diikat dengan aturan.. dalam artian bebas.. :)

    Comment on chapter My Ability
  • anny

    EBI berantakan. Gaya bahasa dan style menulisnya ala sinetron. Bikin jemu bacanya.

    Comment on chapter My Ability
  • SyariffD

    EBI-nya berantakan. Gaya bahasanya juga membosankan.

    Comment on chapter My Ability
  • Wian

    Ebinya berantakan. Bikin males baca.

    Comment on chapter My Ability
Similar Tags
Kayuhan Tak Sempurna
502      242     0     
Romance
Sebuah kisah pemuda yang pemurung, Ajar, sederhana dan misterius. Bukan tanpa sebab, pemuda itu telah menghadapi berbagai macam kisah pedih dalam hidupnya. Seakan tak adil dunia bila dirasa. Lantas, hadirlah seorang perempuan yang akan menemani perjalanan hidup Ajar, mulai dari cerita ini. Selamat datang dalam cerita ber-genre Aceh ini
Conquistador
14      14     0     
Short Story
Their arrival unforeseen, the mark which they left is eternal. This is the recount of the world's end.
Sepasang Dandelion
184      107     0     
Romance
Sepasang Dandelion yang sangat rapuh,sangat kuat dan indah. Begitulah aku dan dia. Banyak yang mengatakan aku dan dia memiliki cinta yang sederhana dan kuat tetapi rapuh. Rapuh karena harus merelakan orang yang terkasihi harus pergi. Pergi dibawa oleh angin. Aku takkan pernah membenci angin . Angin yang selalu membuat ku terbang dan harus mengalah akan keegoisannya. Keindahan dandelion tak akan ...
Menepi
720      539     10     
Short Story
North Elf
85      72     0     
Fantasy
Elvain, dunia para elf yang dibagi menjadi 4 kerajaan besar sesuai arah mata angin, Utara, Selatan, Barat, dan Timur . Aquilla Heniel adalah Putri Kedua Kerajaan Utara yang diasingkan selama 177 tahun. Setelah ia keluar dari pengasingan, ia menjadi buronan oleh keluarganya, dan membuatnya pergi di dunia manusia. Di sana, ia mengetahui bahwa elf sedang diburu. Apa yang akan terjadi? @avrillyx...
Ting Ting Ting
12      12     0     
Short Story
Saya, cuma pengen main~
Hunch
1139      539     0     
Romance
🍑Sedang Revisi Total....🍑 Sierra Li Xing Fu Gadis muda berusia 18 tahun yang sedang melanjutkan studinya di Peking University. Ia sudah lama bercita-cita menjadi penulis, dan mimpinya itu barulah terwujud pada masa ini. Kesuksesannya dalam penulisan novel Colorful Day itu mengantarkannya pada banyak hal-hal baru. Dylan Zhang Xiao Seorang aktor muda berusia 20 tahun yang sudah hampi...
Tokoh Dalam Diary (Diary Jompi)
355      287     3     
Short Story
You have a Daily Note called Diary. This is my story of that thing
Mysterious Call
10      10     0     
Short Story
Ratusan pangilan asing terus masuk ke ponsel Alexa. Kecurigaannya berlabuh pada keisengan Vivian cewek populer yang jadi sahabatnya. Dia tidak sadar yang dihadapinya jauh lebih gelap. Penjahat yang telah membunuh teman dekat di masa lalunya kini kembali mengincar nyawanya.
CURHAT
16      15     0     
Short Story
Ponsel ditemukan bukan untuk pajangan. Selagi bicara itu gratis, apa susahnya memberi kabar.